Shafiyyah Binti Huyay, Periwayat Hadis Keturunan Yahudi


TSAQOFAH.COM - Allah SWT memberikan pertolongan kepada tentara Islam saat memerangi kaum Yahudi dalam medan perang Khaibar. Tentara Islam yang dipimpin Rasulullah SAW pun mengambil pampasan perang dan kaum wanita mereka sebagai tawanan perang.

Di antara tawanan perang itu terdapat Shafiyyah binti Huyay. Saat itu, Rasulullah memberikan pilihan kepada Shafiyyah antara memeluk Islam dan dinikahi beliau atau tetap dalam agamanya dan dimerdekakan sepenuhnya. Shafiyyah memilih bersama Rasulullah SAW.

Sebenarnya, sebelum melihat langsung Rasulullah SAW, Shafiyyah telah mengagumi Nabi akhir zaman itu. Di dalam kitab mereka, Taurat, telah diketahui bahwa akan diutus seorang Nabi Allah yang ummi dan mereka wajib mengikutinya.

Ketika baru menikah dengan Rasulullah, penyambutan istri-istri Nabi SAW kepadanya masih antipati. Hal itu dapat dimaklumi karena Shafiyyah adalah putri Huyay bin Akhtab, pemimpin kaum Yahudi Bani Nadhir yang berkomplot dengan musuh-musuh Rasulullah untuk menyerang Rasulullah dan kaum muslimin.

Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bin Sa'yah, masih memiliki garis keturunan dari Al-Lawi, putra Israil (Ya'qub) bin Ishak bin Ibrahim AS, dan garis keturunan dari Nabi Harun AS. Shafiyyah adalah wanita keturunan bangsawan, cerdas, dan cantik.

Sedari kecil, Shafiyyah sudah menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi.

Pikirannya terus tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad SAW muncul di Makkah. Dia sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut. Begitu juga ayahnya, Huyay bin Akhthab, yang sangat gigih menyulut permusuhan terhadap kaum muslimin.

Shafiyyah telah dua kali menikah sebelum dengan Rasulullah SAW. Suami pertamanya bernama Salam bin Musykam, salah seorang pemimpin Bani Quraizhah, namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama.

Suami keduanya bernama Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq, yang juga salah seorang pemimpin Bani Quraizhah yang diusir Rasulullah dan kemudian menetap di Khaibar.

Bukti-bukti yang jelas tentang keimanan Shafiyyah dapat terlihat ketika dia memimpikan sesuatu dalam tidurnya. Dia ceritakan mimpi itu kepada suaminya. Mengetahui takwil dan mimpi itu, suaminya marah dan menampar wajah Shafiyyah sehingga berbekas di wajahnya.

Nabi SAW menghormati Shafiyyah sebagaimana hormatnya beliau terhadap istri-istri yang lain. Akan tetapi, istri-istri beliau menyambut kedatangan Shafiyyah dengan kurang suka karena dia berdarah Yahudi.

Suatu ketika Shafiyyah mendengar obrolan Hafshah dan Aisyah tentang dirinya dan mengungkit-ungkit asal-usul dirinya. Betapa sedih perasannya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah sambil menangis.

Rasulullah menghiburnya, ''Mengapa tidak engkau katakan, bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, suamiku Muhammad, ayahku Harun, dan pamanku Musa.''

Salah satu bukti cinta Hafshah kepada Nabi terdapat pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam Thabaqta-nya tentang istri-istri Nabi yang berkumpul menjelang Nabi wafat.

Shafiyyah berkata, ''Demi Allah, ya Nabi, aku ingin apa yang engkau derita juga menjadi deritaku.'' Istri-istri Rasulullah memberikan isyarat satu sama lain.

Melihat hal yang demikian, Nabi bersabda, ''Berkumurlah!'' Dengan terkejut mereka bertanya, ''Dari apa?'' Rasulullah menjawab, ''Dari isyarat mata kalian terhadapnya. Demi Allah, dia adalah benar.''

Setelah Rasulullah wafat, Shafiyyah merasa sangat terasing di tengah kaum Muslimin karena yang selalu menganggapnya kaum Yahudi, tetapi dia tetap berkomitmen terhadap Islam dan mendukung perjuangan Nabi.

Di samping itu, dia banyak meriwayatkan hadis Nabi. Dia wafat pada masa kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Marwan bin Hakam menshalatinya, kemudian menguburkannya di pemakaman Baqi berdampingan dengan makam istri-istri Nabi SAW.  (sumber: republika.co.id)

Posting Komentar

0 Komentar