Sukses Usia Muda, Teladani Nabi Muhammad Sebagai Saudagar

Ilustrasi
Oleh: Amir Riasah Jama’ah Muslimin Singaparna Ade Taqiyuddin
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Yang Artinya; Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al Ahzab : 21)
Kewirausahaan dan perdagangan dalam pandangan Islam merupakan aspek kehidupan yang dikelompokan ke dalam masalah muamalah, yaitu masalah yang berkenaan dengan hubungan bersifat horisontal (hubungan antar manusia) yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan orang beriman untuk memakmurkan bumi dan memeliharanya ke arah yang lebih baik serta diperintahkan berusaha mencari rezeki yang halal. Islam sangat menganjurkan umat Islam untuk berwirausaha. Banyak ditemukan ayat atau hadits orang beriman untuk berwirausaha.
 Misalnya, keutamaan berdagang seperti disebutkan dalam hadts;“Perhatikan olehmu sekalian tentang perdagangan sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada 9 dari 10 pintu rezeki” (H.R Ahmad).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya para sahabat; “Pekerjaan apa yang paling baik, ya Rasulullah? Beliau menjawab; “Seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.” (HR Al Bazzar). Oleh karena itu “Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Alloh” (QS Al Jumu’ah : 10)
Sifat Rasulullah SAW
  • Profesional dan kompeten (Fathonah)
  • Trustworthy/dapat dipercaya (Amanah)
  • Jujur dan integritas (Siddiq)
  • Visioner dan Komunikatif (Tabligh)
Karir Dagang Rasulullah SAW Usia 7 Tahun
Pada saat berusia 7 tahun Rasulullah sudah mempunyai sebuah proyek menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya.
Nabi Muhammad mendapat upah dari hasil menggembalakan beberapa ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang ditanggung oleh pamannya. Setiap ekor kambing dalam gembalaannya selalu pulang dalam keadaan utuh, kenyang dan sehat.
Di Usia 12 Tahun
Pada usia 12 tahun Nabi Muhammad melakukan perjalanan berdagang ke Suriah bersama Abu Thalib disaat usia yang relatif muda, Ia tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya, dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya.
Bisnisnya diawali dengan sebuah perdagangan taraf kecil yaitu membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain.
Di Usia 17 Tahun
Nabi Muhammad mengelola seluruh bisnis Abu Thalib, sebab tidak bisa menangani usahanya lagi. Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan Nabi adalah sangat terkenal dengan sifat kejujuran, amanah dan memegang janji. Setelah itu makin aktif melakukan perjalanan dagang ke Irak, Yordania, Bahrain, Suriah dan Yaman.
Usia 17-20 Tahun 
Nabi Muhammad masa tersulit dalam menjalani usahanya, sebab harus bersaing dengan para senior dalam perjalanan regional (antar negeri). Kredibilitas dan Kapabilitas Nabi Muhammad terdapat dalam empat karakter unggulnya, yaitu FAST (Fathonah, Amanah, Shiddiq dan Tabligh) ditambah faktor I, yaitu Istiqomah.
Usia 20-25 Tahun
Merupakan titik keemasan Nabi Muhammad dalam menjalankan bisnisnya dimana Rasulullah bermitra dengan seorang saudagar kaya raya bernama Siti Khadijah binti Khuwailid, maka usahanya makin maju dengan keuntungan yang sangat besar.
Akhir Rasulullah Menikah dengan Siti Khadijah binti Khuwailid seorang pengusaha sukses di Mekah dengan mahar 100 ekor Unta merah (Unta yang mahal harganya dikala itu).
Usia 25-40 Tahun
Usia 40 tahun, maka Allah mengangkat Nabi Muhammad sebagai Rasul, Saat itu Ia masih melakukan aktifitas berdagang dan digelar sebagai Al Amin yaitu orang yang dipercaya sejak masih muda. Banyak mitra bisnis yang menitipkan barangnya untuk diperdagangkan.
Masa Kenabian
Pada masa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah, perekonomian di Madinah dikuasai oleh bangsa Yahudi. Maka Rasul membuat dua strategi penting  satu sama lain saling berkaitan erat. Pertama, meningkatkan etos kerja dan produktivitas kaum Muslim; Kedua, menciptakan pasar baru untuk transaksi kaum Muslim.
Strategi pertama dilakukan Rasulullah dengan memerintahkan para sahabat untuk segera menggarap lahan-lahan pertanian Madinah yang banyak ditelantarkan oleh penduduk setempat. Bisa jadi kebutuhan masyarakat Madinah sudah banyak dipenuhi dari kebun-kebun yang dikembangkan kaum Yahudi.
Orang-orang Madinah sendiri lebih senang bekerja dengan orang Yahudi atau hanya menanam untuk kebutuhan mereka sendiri, sehingga masih banyak lahan tanah yang tidak tergarap di Madinah. ketika pertama kali menggulirkan program tersebut Rasulullah menyeru dalam hadis, “Siapa yang menghidupkan tanah yang mati; maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR Al-Bukhari).
Pribadi para sahabat yang sudah terbina baik dengan binaan Ruhiyyah-Islâmiyyah oleh Rasulullah tidak pernah berpikir pilihan lain mendengar seruan Rasulullah kecuali menaatinya.
Ali Bin Abi Thalib menghidupkan tanah dekat mata air di Yanbu’. Zubair Bin Awwam mengambil sepetak tanah tak terurus lainnya di Madinah, kemudian diikuti sahabat-sahabat lainnya untuk dapat hidup mandiri dan produktif.
Sebelumnya pertanian dikuasai bangsa Yahudi oleh sebab itu Nabi Muhammad memerintahkan para sahabat dan kabilah-kabilah lain untuk belajar bertani sehingga pada masa Nabi Muhammad di Madinah muncul kawasan-kawasan pertanian baru yang produktif seperti Wadi Al-Aqiq, Wadi Bathhan, Wadi Mahzuz, Wadi Qanah, Wadi Ranuna, Wadi Al-Qura, Wadi Waj, dan Wadi Laij.

Padahal sebelumnya kawasan-kawasan tersebut adalah kawasan terlantar yang hanya ditumbuhi semak belukar. Produksi adalah bagian paling dasar dalam siklus ekonomi. Tidak akan ada pasar dan perdagangan tanpa ada barang-barang produksi. 


Nabi Muhammad memulainya dari wilayah ini untuk melemahkan dominasi kaum Yahudi. Bila selama ini produk-produk yang digunakan masyarakat Madinah dimonopoli oleh Yahudi dari kawasan-kawasan pertanian mereka, maka Rasul mulai menyainginya dari hasil-hasil produksi lahan baru milik para sahabat. 
Paling tidak saat panen tiba, kebutuhan kaum Muslim tidak lagi harus bergantung kepada orang Yahudi. Ketika kaum Muslim sudah dapat mandiri maka posisi kaum Muslim semakin kuat apalagi pangan yang merupakan kebutuhan primer manusia.
Kendala yang dihadapi pasca produksi adalah pemasaran. Di Madinah pasar-pasar besar adalah milik bangsa Yahudi. Salah satu pasar paling besar adalah Pasar Banu Qainuqa’ milik Yahudi ruupanya kekuatan pokok mereka ada di Pasar Banu Qainuqa .
Dengan cara-cara yang penuh tipuan (gharar dan jahâlah) disertai dengan praktik riba yang akut, kaum Yahudi berhasil menjerat semua pemilik barang-barang produksi untuk masuk ke pasar mereka. Masyarakat Madinah sebelum kedatangan Nabi Muhammad yang tidak terlalu mahir berdagang, tidak sanggup keluar dari lingkaran setan ekonomi ribawi yang dipraktikkan kaumYahudi bila tidak mengikuti skema Yahudi ini, para petani tidak dapat memasukkan produk mereka ke pasar.
Agar produk-produk yang sudah dihasilkan umat Islam tidak menjadi makanan baru kaum Yahudi, Nabi Muhammad berinisiatif untuk membuat pasar baru minimal untuk keperluan umat Islam kembangkan produksinya.
Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Mekah ada sahabat-sahabat yang mahir berdagang seperti Usman Bin Affan, Abdurrahman Bin Auf, dan Abu Bakar Bin Khatab. Nabi Muhammad merupakan seorang pedagang sebelum diangkat menjadi Rasul, keahlian-keahlian semacam inilah yang memungkinkan dapat menjalankan misinya membangun pasar baru untuk membangun perekonomian umat Islam.
Mula-mula Rasul membangun semacam tenda di dekat pasar Bani Qainuqa khusus untuk jual beli kaum Muslim. Ka’ab Al-Asyraf pemimpin Yahudi sangat marah atas apa yang dilakukan Rasulullah. Ia kemudian menghancurkan tenda tersebut agar kaum Muslim kembali bertransaksi ke pasar Bani Qainuqa’. Rasulullah tidak terpancing oleh Ka’ab, tetapi ia kemudian berkata, “Demi Allah, aku akan membangun pasar yang akan membuatnya lebih marah lagi.” Setelah Rasulullah membangun pasar di tempat yang agak jauh dari pemukiman tersebut kawasan pasar ini kelak dikenal sebagai Pasar Souq Al-Manakhah.
Pasar yang dibangun Rasulullah ini unik dan sungguh-sungguh membuat kaum Yahudi sangat marah atas keberadaannya karena akhirnya pasar ini sanggup menggusur dominasi pasar orang Yahudi di Madinah.
Pasar ini dibangun sangat luas dan tidak permanen hanya berupa tanah lapang, Rasul melarang untuk memungut pajak apapun di pasar itu menjaga harga tidak naik di tingkat konsumen.  Lebih unik lagi, Rasulullah memperlakukannya seperti masjid siapa saja kaum Muslim bebas datang ke kawasan Pasar. 

Tidak boleh ada yang mengkapling-kapling tanah tersebut untuk keperluan pribadi setiap orang berhak berdagang di sebelah mana saja sama seperti orang duduk di masjid bebas di sudut mana saja. Pengambilan tempat didasarkan pada urutan datang. Siapa yang pertama kali datang, dia berhak untuk memilih tempat mana yang akan dipergunakan. Keunikan ini bertahan hingga masa Khulafaur-Rasyidin.
Pasar ini semakin diminati oleh banyak konsumen sebab pasar sangat ketat memperhatikan implementasi ajaran-ajaran muamalah Islam. Di pasar ini tidak boleh ada riba, gharar, dan perjudian. Diharamkan ada yang melakukan kecurangan-kecurangan seperti pengurangan timbangan dan penipuan.
Untuk menjamin bisa berjalan dengann baik, maka Rasul menunjuk Umar Bin Khathab sebagai pengawas pasar. Umar diberi kewenangan untuk menindak siapa saja yang melakukan kecurangan di pasar itu. 

Faktor inilah yang menyebabkan pasar ini menjadi lebih diminati bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga non muslim secara perlahan tapi pasti, pasar yang dibangun Rasul berhasil menyingkirkan dominasi pasar Yahudi yang sangat merugikan konsumen kaum muslimin. (minanews.net)

Posting Komentar

0 Komentar