Urgensi Khilafah dalam Mempersatukan Umat Islam

(Istimewa)

Oleh Ali Farkhan Tsani, Pemerhati Dunia Islam

Bagaimanapun, Khilafah adalah salah satu bagian dari syariat Islam. Khilafah dilaksanakan oleh umat Islam sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Ketika mereka membai’at Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti sentral kepemimpinan umat Islam. Dilanjutkan dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, selama kurun waktu lebih kurang 30 tahun (11-40 H. / 632-661 M). 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 menyebutkan,

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 30).

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi disebutkan, ayat ini merupakan dalil wajibnya menegakkan khilafah untuk menyelesaikan dan memutuskan pertentangan antara manusia, menolong orang yang teraniaya, menegakkan hukum Islam, mencegah merajalelanya kejahatan, dan masalah-masalah lain yang tidak dapat terselesaikan kecuali dengan adanya khilafah.

Pada ayat lain Allah menyebutkan,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Yang demikian itu adalah yang lebih baik dan sebaik baiknya penyelesaian.” (Qs. An-Nisa [4]: 59).

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada orang yang beriman untuk menthaati ulil amri. Ulil amri adalah pemimpin atau khalifah yang mengurusi urusan umat Islam. Tentu saja Allah tidak memerintahkan umat Islam untuk menthaati seseorang yang tidak wujud. Sehingga jelaslah bahwa mengamalkan kepemimpinan Islam atau khilafah adalah wajib.

Tentang kewajiban adanya pemimpin juga didasarkan pada hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, antara lain,

وَلَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلَاةٍ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

Artinya, “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di permukaan bumi kecuali mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi amir atau pemimpin.” (HR. Ahmad).

Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil wajibnya menegakkan kepemimpinan di kalangan umat Islam. Dengan adanya pemimpin, umat Islam akan terhindar dari perselisihan, sehingga akan terwujud kasih sayang di antara mereka. Apabila kepemimpinan tidak ditegakkan maka masing-masing akan bertindak mengikuti pendapatnya yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Di samping itu, kepemimpinan akan meminimalisir persengketaan dan mewujudkan persatuan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada hadits lain bersabda,

كَانَتْ بَنُوا إِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ الْأَنْبِيَاءَ كُلَمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيُّ وَ إِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ. وَسَيَكُونُوا خُلَفَاءَ فَيَكْثُرُوْنَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: فُوْا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَاالْأَوَّلِ وَاعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائَلُهُمْ عَمَا اسْتَرْعَاهُمْ 

Artinya, “Adalah Bani Israil itu dipimpin oleh para nabi. Setiap nabi meninggal diganti oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku, dan akan ada beberapa khalifah yang banyak. Para shahabat berkata, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Tetapilah bai’at yang pertama kemudian yang pertama. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah menanyakan kepada mereka tentang apa yang diserahkan oleh Allah kepada mereka.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Tentang kepemimpinan umat Islam (Khilafah), Muhammad Dhia’uddin Ar-Rayyis penulis buku Islam dan Khilafah di Zaman Modern (2002) menyebutkan, ulama Islam sepakat bahwa khilafah atau imaamah merupakan kewajiban asasi dalam agama. Bahkan ia merupakan kewajiban pertama dan paling utama, sebab semua kewajiban agama dan juga seluruh kepentingan umat Islam tergantung padanya. Khilafah ini disebut juga dengan al-imamah al-udzma sebanding dengan imam dalam shalat yang disebut dengan al-imamah ash-shughra.

Khilafah merupakan fakta ilmiah relegius dan merupakan hakikat yang faktual historis dalam kehidupan umat Islam. Maka, kaum muslim tidak dapat mengabaikannya, melalaikannya, atau memejamkan mata terhadapnya. Mereka akan menanggung dosa sama seperti apabila mereka melalaikan salah satu kewajiban agama. Apalagi kewajiban ini merupakan paling utama, sebagaimana telah disepakati oleh para ulama.

Khilafah dilaksanakan oleh umat Islam sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Ketika mereka membai’at Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai pengganti sentral kepemimpinan umat Islam. Dilanjutkan dengan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, selama kurun waktu lebih kurang 30 tahun (11-40 H. / 632-661 M).

Khilafah inilah yang menjadi poros sejarah umat Islam dan berlangsung terus-menerus dalam satu bentuk ke bentuk lain lebih dari 1.300 tahun. Sampai mendekati pertengahan abad XIV Hijriyah bertepatan dengan abad XX Masehi, berakhir di Turki Utsmani. Turki Utsmani memang disebut sebagai Sultan bukan Khalifah. Namun keberadaannya sebagai sentral kepemimpinan umat Islam tetap diakui dunia sebagai perekat kesatuan dan solidaritas umat Islam secara keseluruhan.

Era Kebangkitan Khilafah

Dhia’uddin Ar-Rayyis mengungkapkan, adalah Zionisme Internasional ditopang oleh kekuatan-kekuatan lain yang memusuhi Islam berupaya memecah-belah umat Islam dengan target menghancurkan sistem sentral kepemimpinan umat Islam yang telah berlangsung sekitar 1.300 tahun sebelumnya.

Puncak konspirasi Zionisme terjadi pada tahun 1924, yakni ketika dilenyapkannnya sistem sentral kepemimpinan umat Islam dinasti Turki Utsmani tanggal 3 Maret 1924 oleh Mustafa Kemal Pasha.

Dr. Ali Gharishah mengungkapkan, Musthafa Kemal Pasha bergelar At-Taturk (Pembangun Turki) adalah seorang tokoh Free Masonry Gerakan Yahudi Zionis Internasional. Ia berasal dari keluarga muslim yang dibina secara intensif oleh tokoh-tokoh Zionis Internasional, dan kemudian dijadikan pemimpin boneka untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Secara formal kekuasaan kerajaan Turki Utsmani mengakhiri kepemimpinan sentral dalam Islam, yaitu pada masa Sultan Abdul Majid yang dihapuskan oleh Nasionalisme Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha. Setelah itu kepemimpinan sentral umat Islam yang bersifat universal tidak ada lagi (vakum).

Sinyal kebangkitan khilafah sebagai usaha penyatuan umat Islam muncul dengan adanya gerakan All Khilafat Conference di India (tahun 1919). Gerakan ini secara tetap mengadakan pertemuan-pertemuan dalam membicarakan dan mengusahakan tegaknya kembali kekhilafahan. Dilanjutkan pertemuan serupa di Karachi, Pakistan (1921).

Tahun 1926 di Kairo diselenggarakan Kongres Khilafah yang diprakarsai para ulama Al-Azhar. Kemudian Kongres Islam Sedunia di Mekkah (1926), Konferensi Islam Al-Aqsha di Yerussalem (1931), Konferensi Islam International kedua di Karachi (1949), Konferensi Islam International ketiga di  Karachi (1951), Pertemuan Puncak Islam di Mekkah (1954), Konferensi Muslim Dunia di Mogadishu (1964), Konferensi Muslim Dunia di Rabat Maroko yang melahirkan OKI (1969), dan Konferensi Tingkat Tinggi Islam di Lahore Pakistan (1974).

Di Indonesia usaha penyatuan muslimin dalam khilafah juga dilakukan oleh beberapa tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, KH Munawar Cholil, Dr. Abdul Karim Amrullah, dan Syaikh Wali Al-Fattaah. Dimulai dengan penyelenggaraan Komite Khilafah berpusat di Surabaya (1926). Dilanjutkan dengan Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta (1949), dan Kongres Alim Ulama Mubalighin Seluruh Indonesia di Medan (1953).

Hingga diamalkannya kembali sistem khas kepemimpinan umat Islam atau Al-Jama’ah atau Jama’ah Muslimin, dengan imaamnya Syaikh Wali Al-Fattaah (Buku Khilafah ‘Alaa Minhajin Nubuwwah, Jalan Keluar Penyatuan Kaum Muslimin, Cetakan keempat 2011), yang dimaklumkan ke dunia Islam pada tanggal 10 Dzulhijjah 1372 H. / 20 Agustus 1953 M. (Suara Merdeka Rabu, 12 Agustus 1953, Mimbar Indonesia, Jumat 21 Agustus 1953).

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Khilafah Suatu Realita Bukan Khayalan menyebutkan, sistem Khilafah merupakan suatu syariat yang bisa diamalkan bukan suatu khayalan. Penegakkannya merupakan sinyal geliat kebangkitan umat Islam dari tidur panjangnya.

Dalam analisis orientalis Barat sendiri yang anti-khilafah memandang bahwa khilafah diibaratkan sebagai raksasa tidur yang kini tengah mulai menggeliat. Hal ini membuat Barat secara terus-menerus berusaha mencari jalan untuk mendistorsi dan mempolitisir citra Khilafah  yang bersifat rahmatan lil alamin. Mereka coba ciptakan citra negatif yang mengarah pada fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme.

Sinyal kebangkitan khilafah adalah secercah harapan kejayaan Islam dan muslimin dalam bingkai persatuan dan kesatuan umat Islam yang membawa misi rahmatan lil ’alaimin, melewati sekat-sekat geografis dan politis. 

Khilafah yang mempersatukan dan mempertautkan umat Islam sedunia dalam satu kepemimpinan khas Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.

Posting Komentar

0 Komentar