Rahmat Islam akan Terasa, Jika Muslim Hidup Berjama'ah



TSAQOFAH.COM Seringkali kita mendengar ungkapan, “Islam itu rahmat. Indah dan penuh kasih sayang.” Namun, rahmat dan indahnya Islam itu yang seperti apa…dan bagaimana cara mengamalkan Islam itu agar rahmatnya terasa dan dirasakan oleh semua pemeluknya? Berikut adalah sedikit ulasan tentang umat Islam akan merasakan nikmatnya rahmat bila hidup secara berjama’ah

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ (ال عمران [٣]: ١٠٣)

Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kalian berpecah-belah,(Qs. Ali Imran [3]: 103).

Ketika menafsirkan ayat ini Asy-Syaikh Dr. Abdullah Al-Muthlaq berkata,


لُزُوْمُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ أَهَمِّ الْعِبَادَاتِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا

"Menetapi Jama'ah Muslimin adalah ibadah yang paling penting yang diperintah-kan oleh Allah."

Pengertian Al-Jama’ah

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد عن النعمان بن بشير حديث حسن)

Al-Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir dengan derajat hadits Hasan)

Dalam riwayat lain disebutkan dengan tambahan,


مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ. (رواه عبد الله بن أحمد بسند ضعيف)

"Barangsiapa tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit, maka dia tidak bersyukur atas nikmat yang banyak. Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah syukur dan meninggalkannya adalah kufur. Al-Jama'ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab." (HR. Abdullah bin Ahmad dengan sanad dhaif)

Islam adalah satu-satunya agama yang mengajak kepada persaudaraan dan terwujudnya persatuan serta mengecam perpecahan dan perseli-sihan. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai pembawa Risalah Islam selalu mengarahkan umatnya untuk menjaga kesatuan (Al-Jama'ah) dan menjauhi perselisihan dan perpecahan (Al-Firqah).

Secara bahasa Al-Jama'ah berarti Al-Ijtima' (kesatuan), Al-Jami' (berkumpul dan bersama-sama) dan Al-Ijma' (kesepakatan dan persetujuan).

Sedang secara istilah Al-Jama'ah menurut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah, 

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى (رواه الترمذي، حديث حسن)

"Orang yang mengikuti aku dan para sahabatku." (HR. Tirmidzi, hadits Hasan)
Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْإِخْتِلَافَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ –وَفِى رِوَايَةٍ– يَعْنِى الْحَقُّ وَأَهْلِهُ (رواه ابن ماجه)

"Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesatuan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as-sawadul a'zham. Barangsiapa yang menyelisihinya akan terasing ke neraka –dalam riwayat lain– (as-sawadul a'zham) yaitu Al-Haq dan pengikutnya." (HR. Ibnu Majah) Menurut Al-Albani hadits ini Hasan.

As-Sawad adalah bentuk jama' (plural) dari aswad yang artinya sesuatu yang berwarna hitam. Al-A'zham artinya besar, agung, banyak. Jadi as-sawadul a'zham secara bahasa berarti sesuatu yang berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak.

Sedang secara istilah as-sawadul a'zham itu semakna dengan Al-Jama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa sahabat Abu Umamah Al-Bahili ra berkata, "Berpeganglah pada As-Sawadul A'zham." Lalu ada orang bertanya, "Apa As-Sawadul A'zham itu?" Maka Abu Umamah Al-Bahili ra membaca,

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (النور [٢٤]: ٥٤)

"Katakanlah, "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul hanya apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kalian hanyalah apa yang dibebankan kepada kalian. Jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas." (Qs. An-Nur [24]: 54)

Dengan jawaban ini Abu Umamah Al-Bahili ra mengisyaratkan bahwa as-sawadul a'zham adalah orang yang taat kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, dengan kata lain pengikut kebenaran. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Yang dikehendaki dengan as-sawadul a'zham adalah mereka yang mengikuti sunnah dan Al-Jama'ah walaupun sedikit.

Ishaq bin Rahawaih berkata, "Jika saya bertanya kepada orang-orang yang bodoh tentang as-sawadul a'zham pasti mereka menjawab, “Kumpulan manusia. Dan mereka tidak mengerti bahwa Al-Jama'ah (dapat saja hanya) seorang alim yang memegang teguh ajaran Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan jalan orang yang bersama beliau dan orang yang mengikutinya.

Dengan demikian untuk menamakan suatu golongan sebagai as-sawadul a'zham tidaklah berdasar kepada jumlah orang tetapi berdasar kepada kesungguhan golongan itu dalam mengikuti kebena-ran. Seseorang atau suatu golongan asal sungguh-sungguh dan konsis-ten mengikuti kebenaran maka itulah yang disebut as-sawadul a'zham dan ini identik dengan Al-Jama'ah. Abdullah bin Mas'ud ra, ketika menjelaskan pengertian Al-Jama'ah berkata,

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ولَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ

"Al-Jama'ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian."
Memang pengikut kebenaran itu biasanya sedikit. Hasan Al-Bashri berkata,

يَاأَهْلَ السُّنَّةِ تَرَفَّقُوْا –رَحِمَكُمُ اللَّهُ– فَإِنَّكُمْ مِنْ أَقَلِّ النَّاسِ

"Hai pengikut sunnah, berkawanlah dengan erat –semoga Allah mengasihimu– karena sesungguhnya kalian adalah manusia paling sedikit."

Bahaya Perpecahan

Perpecahan disamping menyebabkan turunnya azab juga menyebabkan beberapa bahaya antara lain;

Pertama. Menyebabkan Hilangnya Kekuatan. Tentu, sebagai mayoritas muslim, kita menginginkan tumbuh suburnya kekuatan Islam agar bisa menggetarkan musuh. Tidak ada satu pun yang mampu mengalahkan Islam jika umat Islam ini kuat dan mempunyai kekuatan.

 Namun, apa jadinya jika umat Islam ini lemah, yang terjadi seperti kondisi hari ini; umat Islam berbilang tahun menjadi ‘makanan empuk’ musuh-musuhnya. Ketahuilah, tidak akan pernah muncul kekuatan Islam jika tidak menyadari dengan tulus dan kembali mengamalkan hidup berjama’ah dan berimamah seperti masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat hidup.

Kekuatan umat Islam ini pun pada akhirnya akan sirna secara perlahan jika di antara mereka sendiri saling berbantah-bantahan satu sama lain karena merasa kelompoknyalah yang paling bagus dan sebagainya. Merendahkan kelompok lain lalu merasa surga diciptakan hanya untuk kelompoknya adalah indikasi punahnya kekuatan Islam. Perhatikan firman Allah berikut ini,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (الأنفال [٨]: ٤٦)

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Qs. Al-Anfal [8]: 46)

Kedua. Terlepas dari Tanggung Jawab Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Memilih menjalani Islam dengan cara tidak atau enggan mengamalkan secara berjama’ah itu artinya dengan sengaja atau tidak, sadar atau tidak sudah berani melepas diri dari pertanggungjawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam

Artinya, jika Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya mengatakan bahwa hidup berjama’ah berimamah adalah sebuah kebenaran dan menjadi mutlak tanggungjawab Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, maka ketika sebagian umat Islam ini enggan mengamalkannya, itu sama saja artinya Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berlepas diri kelak dihadapan Allah Ta'ala.

Firman Allah SWT,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (الأنعام [٦]: ١٥٩)

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahu-kan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. Al-An’am [6]: 159).

Ketiga. Menyerupai Orang Musyrik. Ya Rabbi…betapa mengerikan jika kita sebagai muslim tidak hidup berjama’ah dan berimamah. Allah Ta'ala sendiri yang menyebut sebagai orang musyrik jika tidak menginginkan hidup berjama’ah. Sebagai muslim, sudah tentu tidak ada dosa yang paling besar dan paling ditakuti kecuali dosa kemusyrikan. 

Lalu, bagaimana mungkin kita merasa nyaman dan aman selama ini beribadah sementara kita sejatinya masih enggan hidup berjama’ah? Lebih mengerikan lagi, ternyata Allah Ta'ala memvonis seorang muslim yang hidup secara berpecah belah sebagai kehidupan orang musyrik.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, 

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (الروم [٣٠]: ٣١-٣٢)

Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Qs. Ar-Rum [30]: 31-32).

Keempat. Hilangnya Agama. Memilih untuk tidak hidup berjama’ah artinya tanpa disadari sudah menjadi bagian dari kelompok orang yang merusak agama dan dirinya sendiri. Ia telah merusak hubungannya secara vertikal kepada Allah SWT dan masuk dalam kategori orang yang mencukur agama, nauzubillah.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَسُوْءَ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّهَا الْحَالِقَةُ (رواه الترمذي)

“Jauhkanlah dari merusak hubungan karena itu adalah pencukur agama.” (HR. Tirmidzi).

KelimaMenyebabkan Mati Jahiliyah. Tentu saja tidak akan pernah ada orang yang menghendaki akhir hayatnya masuk dalam kategori mati jahiliyah. Namun, mati jahiliyah itu bisa melekat kepada siapa yang tidak mengikatkan dirinya kepada Al Jama’ah atau hidup berjama’ah berimamah. Bahkan, orang yang sudah berjama’ah saja, jika ia dengan sengaja memisahkan diri walau  hanya sejengkal, lalu ia mati tanpa taubat dan kembali menetapi Jama’ah, maka matinya laksana mati jahiliyah. Nauzubillah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. (متفق عليه)

“Barangsiapa memisahkan diri dari Jama’ah sejengkal kemudian mati, maka matinya adalah mati Jahiliyah.” (Muttafaq Alaih).

Akhirnya, berdasarkan dalil-dalil diatas jelaslah bahwa hidup berjamaah bagi muslimin merupakan kewajiban syar’i yang menyebabkan diterimanya iman dan islam kaum muslimin secara kaaffah. Maka sudah saatnya muslimin meninggalkan egoisme pribadi maupun kelompok, yang pada akhirnya memunculkan permusuhan dan perpecahan umat.   Wallahu a’lam.

 -----------------------------------------------------------------------------
 (Dikutip  dari sebagian materi ceramah: KH. Yakhsyallah Mansur pada Ta’lim Wilayah Jawa Tengah di Semarang, 3 Rabi’ul Akhir 1438 H / 1 Januari 2017 M).



Posting Komentar

0 Komentar