Jangan Ghuluw



TSAQOFAH.COM Ghuluw berasal dari Bahasa Arab yaitu “ghola yaghluw ghuluw” yang artinya menambahkan, meninggikan atau melampaui batas dari kadar ukuran yang biasanya, atau berlebihan, seperti kalimat “ghola fiddin wal amru yaghlu” kalimat ini artinya adalah melampaui batas. Secara terminologi syariat, ghuluw berarti sikap yang keluar batas atau berlebihan dalam meyakini para nabi dan wali Allah SWT.

Adapun al-ghuluw secara istilah adalah model atau tipe dari keberagamaan yang mengakibatkan seseorang keluar dari agama tersebut. (Lisanul ‘Arab juz 15 hal 131, 132). Ibnu Hajar rh berkata, “Ghuluw adalah berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan menekan hingga melampau batas.” (Fathul Bari, 13, hal. 278).

Mengapa Bersikap Ghuluw dalam Islam?

Sikap ghuluw dalam Islam adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat.  Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata," Rasulullah SAW bersabda, “Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. an-Nasa’i 5/268, Ibnu Majah no.3029).

Allah SWT pun melarang perbuatan ghuluw (ekstrim) seperti bunyi firman-Nya yang artinya, “Wahai Ahlul Kitab janganlah kalian berbuat ghuluw (ekstrim) dalam beragama, dan jangan pula kalian mengatakan tentang Allah kecuali di atas kebenaran. (Qs. An Nisa’ : 171).

Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman yang artinya, “‘Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”’ (Qs. al-Ma'idah: 77).

Sementara Abdurrahman bin Mu’alla Al-Luwaihiq dalam bukunya yang berjudul "Ghuluw Benalu dalam Ber-Islam" dikemukan bahwa Rasullulah SAW melarang ghuluw atas umatnya agar mereka tidak berbuat seperti yang diperbuat umat-umat terdahulu, yang kepada merekalah para rasul diutus. 

Bersama larangan ini ia juga menjelaskan akibat dan pengaruh ghuluw. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’y dan Ibnu Majah sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhyallahu anhum:
ثَنَا يَحْيَى وَإِسْمَاعِيلُ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا عَوْفٌ حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ حُصَيْنٍ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ الرِّيَاحِيِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ يَحْيَى لَا يَدْرِي عَوْفٌ عَبْدُ اللَّهِ أَوْ الْفَضْلُ قَالَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى رَاحِلَتِهِ هَاتِ الْقُطْ لِي فَلَقَطْتُ لَهُ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَوَضَعَهُنَّفِي يَدِهِ فَقَالَ بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ مَرَّتَيْنِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَأَشَارَ يَحْيَى أَنَّهُ رَفَعَهَا وَقَالَ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّين

“Rasulullah
SAW bersabda kepadaku di pagi hari Aqabah, sedangkan saat itu beliau duduk di atas unta beliau: "Ambilkan kerikil untukku." Maka aku pun memungutkan kerikil untuk beliau gunakan melempar jumrah. Kemudian beliau meletakkan kerikil itu di tangannya, lalu beliau bersabda, "Seperti mereka." Beliau mengucapkan dua kali. Ia Yahya mengatakan, dengan tangannya, lalu Yahya mengisyaratkan bahwa beliau mengangkatnya. Beliau bersabda, "Janganlah kalian berlaku ghuluw (sikap berlebih-lebihan), karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena bersikap ghuluw dalam agama."

Sedangkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Hal ini bersifat umum untuk semua jenis ghuluw dalam keyakinan maupun dalam amal.

Nabi SAW memperingatkan umatnya dari sikap ghuluw dan mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah sebab kehancuran dan kebinasaan, karena menyelesihi syari’at dan menjadi penyebab kebinasaan umat-umat terdahulu. Bahkan ghuluw menyebabkan manusia bisa menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka.

Macam-macam Ghuluw

Pertama, ghuluw dalam Ibadah, yaitu mewajibkan dirinya kepada sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah. Mengharamkan sesuatu untuk dirinya, padahal Allah tidak pernah mengharamkan untuknya, atau ada pula yang terlalu berlebihan melaksanakan ibadah sunnah tapi kewajiban-kewajibannya dilalaikan.

Kedua, ghuluw dalam hukum takfir. Selama seorang muslim itu mengamalkan ijtihad fiqh para ulama, maka ia tidak boleh dikafirkan. Perbedaan dalam ijtihad fiqih di kalangan para ulama tidak sampai kepada hukum saling mengkafirkan. Seperti hukum membaca qunut subuh, jumlah shalat tarawih dan ijtihad-ijtihad lainnya tidak diperkenankan sampai mengkafirkan. Perkara-perkara ijtihad itu disebut ikhtilaf tanawwu (perbedaan fariatif).

Ketiga, ghuluw dalam akidah. Ghuluw jenis ini seperti yang dilakukan oleh kaum Ahlul Kitab. Menuhankan para nabinya. Dan kaum nabi Nuh yang menyembah matahari, bulan dan bintang padahal mengaku percaya pada Allah. Dalam hal ini, para ulama’ menyebut kaum Yahudi paling ekstrim. Mereka adalah kaum yang sangat mudah menyamakan makhluk dan khaliq (pencipta), menyamakan Allah dengan manusia. Di antara kaum juga ada yang berlebihan mencintai pemimpin hingga menyematkan sifat ketuhanan kepadanya.

Keempat, ghuluw dalam kehidupan. Di antaranya, makan, minum dan memakai air secara berlebihan. Rasulullah melarangnya, “Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari pada perutnya. Hendaklah Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. Jika tidak bisa, maka makanlah sepertiganya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya untuk napasnya.” (HR Tirmidzi).

Meskipun, ghuluw jenis ini tidak sampai mengancam keislaman seseorang, akan tetapi hal ini tetap dilarang. Akibatnya, bisa menjerumuskan seseorang kepada kerusakan diri, kesehatan dan kehidupannya. Setidaknya ada dua sebab ghuluw, dikarenakan kekurangan ilmu dan tidak memahami hakikat agama.

Oleh karenanya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas sebagaimana firmannya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 190. 

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rh, “Ini adalah penyakit pertama yang paling besar yang terjadi pada kaum Nuh AS, sebagaimana Allah Azza wa Jalla telah berfirman dalam Al-Qur’an;
قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ﴿٢١﴾ وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا ﴿٢٢﴾ وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ﴿٢٣﴾ وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا
Nuh berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya‘uq dan Nasr. Dan sungguh, mereka telah menyesatkan orang banyak; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” (Nuh (71) 21-24)

Menghindari Sikap Ghuluw?

Dalam menjauhi sikap ghuluw, hendaknya kita jangan sampai terjebak ke dalam sikap meremeh-temehkan agama (Taqshir). Mempertahankan diri di tengah-tengah di antara taqshir dengan melampaui atau berlebih-lebihan (ghuluw) di dalam agama itu adalah suatu perkara yang agak sulit untuk dilaksanakan.

Namun, jika memahami agama itu berdasarkan kedudukannya yang tepat, sebenarnya akan lebih menampakkan keindahan dan relevannya sebuah agama itu sendiri. Jadi, hendaknya kita tidak bermalas-malas dalam belajar, memahami dan melaksanakan agama dan jangan pula sampai berlebih-lebihan dalam melaksanakannya yang tidak disyari'atkan oleh agama.

Allah dan Rasulullah telah memberikan peringatakan kepada manusia agar tidak terjatuh pada sikap ghuluw. Oleh karenanya agar dapat terhindar dari sikap ghuluw, maka senantiasa kita melakukan cara sebagai berikut;

1. Menuntut ilmu tentang Islam. Tanpa ilmu, niscaya kita tidak akan dapat memahami sesuatu perkara. Begitu juga terhadap agama Islam, sekiranya tanpa ilmu, sudah tentu kita tidak akan memahami apa dan bagaimana hokum-hukum Islam.

2. Jangan malu untuk bertanya kepada orang yang memiliki ilmu. Apabila kita tidak memahami suatu perkara, maka bertanyalah kepada yang memiliki ilmu dengan begitu ia akan menjelaskan berdasarkan ilmunya dengan jelas.

3. Sentiasa melakukan penelitian yang baik dan menghindari sikap terburu-buru. Agama ini dibangun dan dibina di atas prinsip yang teliti di atas manhaj ilmu, dengan itu, hendaklah kita sentiasa menyimak dan memastikan agar berada di atas asas-asasnya yang tepat. 

Mari kita sama-sama menjaga diri dan saling mengingatkan dalam kebaikan, agar kita tidak terjerumus kepada sifat ghuluw yang dibenci oleh Allah dan Rasulnya. Allah Taala berfirma yang artinya “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Hud: 112)







Posting Komentar

0 Komentar