Wartawan Itu Manusia "Pilihan"

Ismet Rauf, saat menjadi pembicara BBM (Bedah Berita MINA) di Radio Silaturahim Jakarta
By. Abu Labib Abdullah A

TSAQOFAH.COM - Satu kehormatan bagi saya karena pada hari itu (Sabtu, 4 Juli 2015) atas takdir-Nya bisa tampil sebagai pemateri dalam Pelatihan Jurnalistik Islam Tingkat Dasar bersama seorang wartawan senior. Ya, dia seorang wartawan yang sudah punya pengalaman puluhan tahun dalam rimba jurnalistik. Saya sebut satu kehormatan karena dibandingkan diri saya yang pengalaman jurnalistiknya belum seujung kuku. Saya akan paparkan siapa sang tokoh jurnalistik yang menurut saya sudah layak mendapat gelar kehormatan sebagai Doktor Honoris Causa itu.
Usianya tak lagi muda layaknya usia saya. Namun, semangatnya dalam berbagi ilmu (terutama dalam bidang jurnalistik) bukan main luar biasanya. Itu terlihat dari ucapannya kepada saya juga teman-teman yang kini sedang berusaha terus untuk menikmati indahnya menjalani profesi sebagai  wartawan. Suatu hari ia berkata, “Setiap saya melangkahkan kaki dari rumah, saya selalu memasang niat untuk terus berbagi ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada saya."

Bukankah itu  sebuah ungkapan yang luar biasa kawan? Sederhana, tapi disana terselip rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Ta’ala atas segala skill jurnalistik yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Dalam ungkapan itu, tertata indah niat mulia untuk selalu berbagi dari seorang hamba Allah yang dhaif  (lemah) kepada sesamanya. Ungkapan itu juga bermakna, yang memiliki ilmu itu adalah orang yang mengamalkan falsafah padi, “makin tua makin berisi dan merunduk”.
Dengan kata lain, tidak ada keangkuhan dengan segala ilmu dan pengalaman jurnalistiknya meski ia pernah melakukan liputan jurnalistik ke beberapa negara di dunia. Dan, masih banyak makna lain yang tersirat dari ungkapan sederhana pria kelahiran Sumatera Barat itu.
Dalam pelatihan jurnalistik Islam tingkat dasar itu, ia mendapat amanah menyampaikan materi untuk menjelaskan seluk beluk dunia jurnalistik, termasuk mengenalkan pada peserta apa itu Citizen Journalism. Gaya bahasanya santai, lembut, sesekali bernada tinggi sebagai bukti ia sedang semangat memotivasi para peserta. Dan tak jarang ia sisipkan humor dalam pembicaraannya. 
“Hanya manusia pilihan yang bisa mejadi wartawan!” katanya penuh semangat di depan peserta yang terlihat begitu antusias.

Wartawan Bukan Aktivis
Di lain kesempatan, pria berusia melebihi 70 tahun dan senang bergaul dengan anak-anak muda itu pernah mengatakan, wartawan itu bukan aktivis. “Ya, wartawan itu bukan aktivis,” katanya. Saat ditanya apa maksud dari ungkapan itu. Begini penjelasannya, wartawan dalam melihat sebuah masalah atau peristiwa, maka ia harus melihat dengan komprehensif (dari segala sudut pandang) sehingga akan nampak apa yang tersembunyi sebenarnya di balik suatu masalah atau peristiwa tersebut.
“Seorang wartawan itu bukan aktivis, dalam melihat dan menyikapi setiap permasalahan, tidak mengedepankan emosional semata. Dia harus memaksimalkan kerja intelektualnya agar analisanya tajam dan tidak meleset. Dia tidak terpengaruh dengan situasi yang terjadi. Dia berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalsitik. Kalau dia wartawan Islam, dia berpegang teguh pada ajaran Islam. Sehingga dia tetap bisa bersikap adil dalam menulis beritanya,” katanya senyum bijak penuh makna.

Sebagai contoh dari ungkapannya diatas, ia mengajak saya untuk melihat realita sebenarnya dan mencoba meraba-raba ada apa dibalik perang Yaman yang hingga kini tak jua kunjung usai. Saya, yang dari segi usia terpaut 35 tahun lebih. Apalagi jika dibanding dari ilmu jurnalistik dan wawasannya, tentu saya masih sangat jauh. Saya ini, anak kemarin sore yang sedang terus berproses menempa diri menjadi jurnalis penuh dedikasi. Waktu itu, saya menjawab dengan semangat muda menggelora. Singkat padat tapi gak cespleng. “Di balik perang Yaman itu ada kerjaan Zionis Yahudi pak,” jawab saya mantap.
Mendengar jawaban pendek yang seolah terlihat sedikit benar itu membuatnya tersenyum. Lalu ia menjelaskan bahwa sebenarnya apa yang terjadi dalam perang Yaman itu sesungguhnya ada hidden agenda (agenda terselubung). “Jangan lupa, di Yaman itu ada sumber minyak yang harus dieksploitasi,” katanya meyakinkan saya. Mendengar jawaban itu, saya semakin sadar dan bertekad untuk terus berbenah menjadi lebih baik serta memantapkan diri menjadi wartawan bukan aktivis.

Namanya Ismet Rauf
Kawan, tahukah engkau siapa orang saya maksudkan di atas? Dialah Ismet Rauf. Pria energik kelahiran Payakumbuh 70 tahun silam lebih itu sudah sejak  mda meniti karir sebagai seorang wartawan. Hingga kini, meski fisiknya sudah tak lagi muda, namun semangatnya dalam berbagi ilmu jurnalistik, selalu membara, sehingga saya dan sesama rekan wartawan lain sering sekali mendapat ‘percikan api’ semangatnya yang seolah tak pernah padam itu.
Pak Ismet begitu ia biasa disapa, saat ini menjadi Pemimpin Redaksi Kantor Berita Islam Mi’raj Islamic News Agency (MINAnews.net) Jakarta. Jauh sebelum bergabung dengan MINA, ia sudah lama menjadi wartawan senior di kantor berita nasional ANTARA. Selama menjadi wartawan Antara, banyak wartawan muda dengan intelektual handal berhasil ia kader. “Sebagai senior, saya harus mampu mengkader yunior,” katanya merendah.

Di matanya, kaderisasi dalam dunia wartawan itu harus selalu ada. Karena tak selamanya wartawan senior itu harus tampil ke muka. Tak selamanya wartawan senior harus melakukan dan menangani semua agenda. Sebab salah satu indikator keberhasilan senior adalah berhasil melahirkan generasi penerus. Menurutnya pula, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.

“Tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, berbagi tugas, sesuai dengan kelebihan masing-masing adalah hal yang tidak bisa tidak dalam dunia seorang wartawan,” ujarnya.
Selain masalah kaderisasi, wartawan penerima Press Card Number One dari sekitar lima ratusan wartawan lain yang sendang ngantri  untuk mendapatkan kartu kehormatan serupa itu, sering mengatakan pentingnya kerja tim dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik. Ia tidak senang jika ada wartawan yang maunya one man show (berkpribadian ingin menonjolkan diri sendiri, tampil sendiri mengatasnamakan tim).
“Kerja wartawan itu kerja tim. Bukan one man show. Tak ada superman di dunia ini, itu hanya tokoh hayalan saja. Yang ada adalah supertim. Tanpa kerja tim, sebuah agenda tidak akan pernah berjalan lancar,” pungkasnya.

Wartawan kawakan yang juga sebagai penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) seluruh Indonesia itu ibarat mutiara yang menyimpan sejuta keindahan. Semakin saya dan teman-teman sesama wartawan bergaul dekat dengannya, maka semakin banyak pula ilmu dan wawasannya yang bisa dipetik. Maka tak ada ungkapan yang pantas saya sampaikan kepada Allah kecuali rasa syukur tak terhingga karena masih diberi kesempatan bertemu setiap waktu dan menimba ilmu dari seorang wartawan Muslim senior sepertinya.
Saya katakan wartawan Muslim senior karena ia adalah seorang Muslim yang baik; tekun beribadah, senantiasa berbagi ilmu dan pengalaman-pengalamannya, bahkan tak sungkan-sungkan menerima nasihat dari siapa pun termasuk dari yuniornya sesama wartawan di MINA.
“Apalah artinya awak ini, cuma atas takdir Allah lahirnya duluan,” selorohnya dengan gaya bahasa Padang. “Sama-sama, semoga semua ini menjadi amal kebaikan kita di sisi Allah,” katanya dengan suara lembut, saat seorang peserta pelatihan jurnalistik Islam tingkat dasar di Cibubur kala itu menjabat erat tangannya dan mengucapkan rasa terimakasih atas ilmu yang sudah diterimanya.

Wartawan itu Berani
Karena wartawan itu adalah manusia pilihan, maka ia harus berani. Ayah dari tiga anak itu mengatakan salah satu syarat untuk menjadi seorang wartawan adalah memiliki sikap berani. Berani yang ia maksudkan bukanlah berani berkelahi atau di luar itu.
“Wartawan itu harus punya mental berani. Berani dalam menjalankan semua tugasnya sebagai seorang wartawan,” tegasnya.
Menurut pria yang hobi menanam itu, tidak layak seseorang menjadi wartawan namun tak punya keberanian. Pekerjaan wartawan itu pekerjaan yang menantang dan penuh tantangan. Ia menambahkan, orang dengan sifat pemalu sulit untuk menjadi wartawan.
“Bagaimana mungkin mau jadi wartawan kalau disuruh mewawancarai seorang bupati saja nyalinya sudah ciut,” paparnya.
Namun demikian, menurut lelaki yang kini menetap di Depok bersama keluarganya itu, keberanian bukanlah satu-satunya yang harus dimiliki seorang wartawan. Dalam pandangannya, keberanian memang harus ada dalam diri seorang wartawan, tapi itu saja tentu tidak cukup. Seorang wartawan mesti punya intelektual yang juga memadai.
“Jika seorang wartawan punya intelektual rendah, bagaimana mungkin ia bisa sukses menjalankan tugas-tugas jurnalistik,” ungkapnya.
Selain itu, karena wartawan adalah profesi manusia-manusia pilihan, maka Pak Ismet yang digelari oleh saya dan kawan-kawan wartawan di MINA sebagai “Guru Besar” selalu mengingatkan untuk fokus dalam menjalankan profesi sebagai wartawan Muslim. Menurutnya, tanpa fokus sulit bagi seorang wartawan atau bahkan orang yang berprofesi apa pun untuk meraih apa yang sudah menjadi impiannya.
Setengah-setengah dalam menjalani tugas kewartawanan menurutnya hanya akan melahirkan kelelahan dan membuang-buang waktu saja. Usia semakin bertambah, tapi ilmu dan wawasan selama menjalani profesi wartawan tak meberikan buah yang berarti. Karena itulah ia selalu menekankan kepada wartawan-wartawan yuniornya untuk tidak setengah hati memilih profesi sebagai wartawan.
“Kalau mau bisnis, bisnislah. Tapi kalau mau jadi wartawan, maka jangan setengah hati, nanti tak mendapatkan apa-apa. Harus fokus. Kalau tidak, sebaiknya carilah profesi lain yang cocok. Karena wartawan adalah profesi orang-orang pilihan. Bukan profesi orang yang setengah hati,” tegasnya.

Posting Komentar

0 Komentar