Suami, Ini Rahasia Membahagiakan Istri­­ (1)

By. Abu Labib Abdullah
TSAQOFAH.COM - Membangun rumah tangga sakinah, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus punya ilmu untuk saling membahagiakan antara suami dan istri. Ketika membangun suatu rumah tangga, tips menjaga keharmonisan rumah tangga adalah dengan menjaga pula kebahagiaan masing­­–masing pihak yang terlibat di dalamnya, yaitu suami dan istri. Suami dan istri yang berbahagia dalam pernikahan mereka akan menjadi landasan yang kuat dalam memperkokoh rumah tangganya.
Biasanya, para istrilah yang berusaha lebih keras mencari cara menjadi istri idaman suami dan tips menjadi istri yang baik dan disayang suami. Sementara pihak suami merasa sudah sewajarnya istri melakukan berbagai tugas dalam rumah tangga. Namun, tahukah Anda para suami, kalau kebahagiaan istri juga bisa menjadi tips menjaga keharmonisan rumah tangga.
Berikut ini adalah beberapa rahasia yang bisa dilakukan para suami untuk membahagiakan istrinya.
Pertamatunjukkan lemah lembut kepada istri
Sebuah rumah tangga tanpa rasa cinta tentu saja akan terasa hampa, hambar dan tidak membuat bahagia. Seorang suami hendaklah bisa menunjukkan rasanya kepada istrinya dengan cara yang tulus yang bisa dirasakan oleh istri. Dengan begitu istri akan merasa bahagia. Salah satu cara menunjukkan rasa cinta itu adalah dengan berlaku lemah lembut kepada istri.
Perintah Allah untuk berlaku lemah lembu,
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr: 88)
Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “Berendah dirilah‘ yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu’ (rendah diri).” (Adhwaul Bayan, Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, 3/238, Dar Ilmi Al Fawaid). Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta’ala,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159). Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah). Dengan sikap seperti ini malah membuat orang lain lari dari kita.
Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/232)
Kedua, berkomitmenlah untuk setia
Wahai para suami, mari belajar untuk berkomitmen menjadi suami setia. Tutup segala celah untuk mengkhianati istri Anda. Tidak ada yang lebih membahagiakan istri kecuali suami bersikap setia kepada istrinya. Kesetiaan akan menjaga istri tetap bahagia dan menjadikan pernikahan harmonis. Berusahalah selalu untuk menjaga (menundukkan) pandangan mata terhadap lawan jenis.
Perintah menjaga pandangan ini telah diabadikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur: 30).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
هذا أمر من الله تعالى لعباده المؤمنين أن يغضوا من أبصارهم عما حرم عليهم، فلا ينظروا إلا إلى ما أباح لهم النظر إليه ، وأن يغضوا أبصارهم عن المحارم
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)
Menundukkan pandangan mata merupakan dasar dan sarana untuk menjaga kemaluan. Oleh karena itu, dalam ayat ini Allah Ta’ala terlebih dulu menyebutkan perintah untuk menahan pandangan mata daripada perintah untuk menjaga kemaluan.
Jika seseorang mengumbar pandangan matanya, maka dia telah mengumbar syahwat hatinya. Sehingga mata pun bisa berbuat durhaka karena memandang, dan itulah zina mata. Rasulullah bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim).
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
الْعَيْنُ تَزْنِي، وَالْقَلْبُ يَزْنِي، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا الْقَلْبِ التَّمَنِّي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ مَا هُنَالِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ
“Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad no. 8356. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Insya Allah jika seorang suami bisa menundukkan pandangannya terhadap lawan jenis yang haram dipandangnya, maka kesetiaan kepada istrinya akan mudah dilakukan dengan mengharap pertolongan Allah semata.
Ketiga, bimbinglah istri dalam ibadah
Menjadi sebuah konsekuensi bila seorang lelaki sudah menikah, maka dialah yang menjadi pemimpin. Ia dituntut untuk bisa membimbing istrinya agar selalu berada di jalan yang lurus sesuai syariat Allah dan Nabinya. Jika suami bisa membimbing istrinya, insya Allah kelak keduanya akan berkumpul bersama di surga-Nya kelak.
Salah satu contoh bimbingan suami untuk istrinya adalah dalam hal beribadah agar dapat meningkatkan pengetahuannya mengenai ajaran islam, dan menjadi manusia yang lebih religius. Istri akan merasa bahagia bila suami bisa membawanya ke arah yang lebih baik sebagai manusia.
Jika suaminya memahami agama (berilmu), maka itu pertanda ia adalah suami yang baik. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Suami yang faqih adalah suami yang pemahaman yang lurus tentang Al-Qur’an dan hadits didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Andai pun suami tidak atau minim ilmu agama, maka jangan larang istri Anda untuk menimba ilmu dari majlis-majlis taklim yang mengedepankan Al Qur’an dan as Sunnah.
Keempat, sediakan waktu untuk istri
Jika Anda para suami ingin membahagiakan istri, maka usahakanlah mempunyai waktu luang untuk istri Anda. Tak penting berapa banyak Anda memberinya uang dan segala perhiasan bila Anda tidak pernah punya waktu untuk sekedar mendengar keluhannya. Memang, biasanya suami lebih sibuk dibanding istrinya, sebab ia biasanya bekerja di luar rumah.
Duhai Anda para suami, sesibuk apapun Anda, berusalah untuk membagi waktu untuk istri. Sediakan waktu bagi istri agar ia bisa melepas lelah di pundak dan sekedar mengeluarkan keluh kesahnya selama seharian bekerja di rumah kepada Anda.
Jangan menjadi suami yang egois. Sebab teladan kebaikan menjadi seorang suami adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah dan Rasul-Nya melarang seorang muslim bersikap dan mempunyai sifat egois sebab egois itu adalah buah dari rasa sombong. Allah Ta’ala berfirman,
قال تعالى : {فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74) قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ..} [ص : 73 – 77] .
“Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS. Shad: 73-78). (sumber: mina)
bersambung…

Posting Komentar

0 Komentar