Beramalah dengan Ilmu


Tsaqofah.com Ilmu adalah harta yang ternilai nilainya. Orang yang berilmu akan terlihat lebih mulia di mata manusia terlebih lagi di hadapan Allah Ta’ala. Ilmu adalah lentera untuk menerangi gelapnya kebodohan. Ilmu pula yang bisa membawa si pemiliknya untuk meraih kesuksesan dunia akhirat. Tanpa ilmu, bagaimana mungkin hidup akan berjalan dengan lancar. Ilmu adalah aset yang tak bisa dinilai dengan apa pun.

Allah Ta’ala sendiri sudah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mujadalah/58: 11)
Berikut adalah beberapa hadis tentang ilmu. Hadis-hadis yang menjelaskan pentingnya. Para ulama ahli hadis pada umumnya menuliskan bab tersendiri yang menjelaskan pentingnya ilmu. Mereka bahkan menulis sebuah kitab yang khusus menjelaskan betapa pentingnya ilmu bagi seluruh sendi kehidupan.

Pertama, orang yang berilmu perwaris para Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان
“Orang-orang yang berilmu adalah ahli waris para nabi” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban). Tidak ada kedudukan setinggi apa pun di dunia ini yang mampu menyamai kedudukan sebagi seorang Nabi.

Kedua, diampuni dosa-dosanya. Rasulullah Shallahu ‘Alaih Wasallam bersabda,
يَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان
“Segala apa yang ada di langit dan bumi memintakan ampun untuk orang yang berilmu.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban). Sungguh, kenikmatan yang tiada tara bagi seorang Muslim adalah ketika Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosanya. Kedudukan apa yang melebihi kedudukan seseorang yang selalu dimintakan ampun oleh para malaikat langit dan bumi?.

Ketiga, seutama-utama mukmin. Rasulullah Shallahu ‘Alaih Wasallam bersabda,
أَفْضَلُ النَّاسِ الْمُؤْمِنُ الْعَالِمُ الَّذِيْ إِنِ احْتِيْجَ إِلَيْهِ نَفَعَ وَإِنِ اسْتُغْنِيَ عَنْهُ أَغْنَى نَفْسَهُ (رواه البيهقي
“Seutama-utama manusia ialah seorang mukmin yang berilmu. Jika ia dibutuhkan, maka ia menberi manfaat. Dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia dapat memberi manfaat pada dirinya sendiri.” (HR. Al-Baihaqi)

Hadis di atas menjelaskan bagaimana keutamaan ilmu bagi seseorang, ia akan memberikan manfaat dan dibutuhkan oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan jika seorang yang berilmu terangsingkan dari kehidupan sekitarnya, ilmu yang ia miliki akan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, dan menjadi penghibur dalam kesendiriannya.

Keempat, disebut sebagai orang yang baik. Tentang pentingnya ilmu Rasulullah Shallahu ‘Alaih Wasallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ (رواه البخاري ومسلم
Artinya:  “Siapa dikehendaki bagi oleh Allah menjadi baik, maka Allah memberi kepahaman untuknya tentang ilmu agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah hadis yang sangat penting untuk direnungkan. Dimana seolah-olah Allah menggantungkan kebaikan seseorang terhadap kepahamannya terhadap agama. Artinya, kualitas dan kuantitas ilmunya dalam masalah agama. Ilmu agama adalah ilmu yang utama untuk dipelajar. Pemahaman baik buruk seseorang sangat ditentukan sejauhmana pemahamannya kepada agama Allah ini. Dengan ilmu ia akan membedakan salah dan benar, baik dan buruk dan halal dan haram.

Kelima, menjadi penujuk kebaikan. Rasulullah Shallahu ‘Alaih Wasallam bersabda,
مَنْ دَعَا إلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ , لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا , وَمَنْ دَعَا إلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ (رواه مسلم.
“Siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari phala-pahala itu. Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa itu.” (HR. Muslim)

Kelima, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallahu ‘Alaih Wasallam bersabda,
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ , أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ , أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم
“Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis-hadis di atas menjukkan kepada manusia betapa pentingnya menuntut ilmu. Ilmu adalah sebab seseorang menjadi mulia, bukan harta. Ada ungkapan yang terkenal terkait antara ilmu dan harta. Dimana ilmu mampu menjaga pemiliknya sementara harta dijaga oleh pemiliknya. Hal ini seperti ungkapan Khalifah Ali bin Abi Thalib tentang perbedaan antara ilmu dan harta.

Ilmu Syar’i

Para ulama telah menjelaskan bahwa kata ilmu apabila disebutkan secara mutlak dalam al-Qur`an, as-Sunnah, dan ungkapan para ulama adalah ilmu syar’i.

Imam Syafi’i rh sendiri telah menyatakan:

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ
إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَعِلْمَ الْفِقْهِ فِي الدِّيْنِ
الْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا
وَمَا سِوَى ذَلِكَ وَسْوَاسُ الشَّيْطَانِ

“Setiap ilmu selain al-Qur`an adalah kesibukan,
Kecuali al-Hadits dan ilmu tentang pemahaman agama.
Ilmu itu apa yang padanya mengandung “ungkapan telah menyampaikan kepada kami” (sanad).
Sedangkan selain itu, adalah bisikan-bisikan setan.”
(Diwan Imam Syafi’i, hal. 30, Darul Manar)

Syaikh Bin Bazz telah menyatakan, “Sesungguhnya (kata) ilmu itu dilontarkan untuk banyak hal, akan tetapi menurut para ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Inilah yang dimaksud dalam Kitabullah dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam secara mutlak, yaitu ilmu tentang Allah, Asma’-Nya, SifatNya, ilmu tentang hak-Nya atas hamba-Nya dan tentang segala sesuatu yang disyariatkan untuk mereka oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.“ (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah, jilid 23, hal. 297)

Tak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak menuntut ilmu, terutama ilmus syar’i (agama). Dengan memahami ilmu syar’i artinya seorang Muslim sudah mempersiapkan dirinya untuk menjadi penyeru di jalan Allah Ta’ala. Atau paling tidak ilmu yang ia fahami itu akan menjadi penyelamat diri dan keluarganya kelak dari api neraka. Wallahu’alam.(minanews.net)

by. Abu Habiburrahman A

Posting Komentar

0 Komentar