Kelemahan Gerakan Dakwah Islam Masa Kini (bag. 2)


Keenam, Mencampuradukkan Antara Ghoyah dan Wasilah

Tidak sedikit dari kalangan gerakan dakwah (bahkan para qiyadahnya) mencampuradukkan antara ghoyah/tujuan dengan wasilah/sarana. Sering sekali kita menyaksikan bahwa kemaslahatan jama’ah menjadi standar kerja dan kesuksesan. Padahal kita tahu bahwa jamaah itu pada hakikatnya hanya sarana untuk berkhidmat/melayani tujuan perbaikan kondisi masyarakat.

Pencampuradukkan itu telah menyita jamaah untuk sibuk memikirkan dan bekerja untuk kepentingannya melebihi kepentingan masyarakat. Padahal jamaah itu pada awalnya didirikan bertujuan untk memperbaiki dan melayani masyarakat. Sebuah survey telah membuktikan bahwa mobilisasi waktu, harta dan tenaga anggota jamaah tercurah untuk kepentingan internal sekitar 70 % dan hanya 30 % yang diberikan untuk kemaslahatan masyarakat banyak.

Sedangkan urutan yang benar adalah kebalikannya. (Dalam banyak kasus, potensi masyarakat atau luar jamaahlah yang disedot sebanyak mungkin untk kepentingan elite jama’ah. Sesungguhnya jama’ah sekarang sudah menjadi partai yang muqaddas (disucikan). Orientasinya persis seperti partai umumnya yang didirikan sejak awal untuk kepentingan diri dan anggotanya.

(Munculnya pemikiran “aljamaah hiyal hizb, wal hizb huwal jamaah”, membuat jamaah semakin hancur). Inilah faktor yang menyebabkan jamaah itu tidak berbeda dengan club olah raga atau organisasi profesi di mana ruang lingkup pelayanannya terbatas pada anggotanya saja.

(Dalam banyak kasus, jamaah lebih buruk lagi di mana anggota/grassroots-nya saja tidak terurus sedangkan elitenya hidup berfoya-foya penuh kemewahan dengan sumber harta yang tidak jelas, dengan alasan menyesuaikan diri dengan kondisi pergaulan. Walaupun ada pelayanan masyarakat dilakukan itupun dengan tujuan mendapatkan pujian atau dukungan suara pemilu).

Sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya gambaran sebuah partai itu ialah organisasi yang terdiri dari para anggotanya yang sibuk dengan kepentingan anggotanya saja, tanpa melirik peran utama yang seharusnya dimainkan dalam masyarakan secara keseluruhan.
Sebab itu, mayoritas masyarakat tidak mau peduli atau empati terhadap kezaliman yang menimpa jama’ah/tokohnya. Fenomena ini diiringi pula oleh kehilangan eksistensi kelompok Islam yang mampu menduduki posisi (dalam masyarakat) sebagaimana kelompok sekuler sebagai hasil dari tidak terjalinnya kerjasama antara gerakan dakwah atau jama’ah yang ada.

Sesungguhnya strukturisasi gerakan dakwah terkadang juga menjadi penghambat untuk merealisasikan tujuan-tujuan pokoknya. Harus ditekankan —tanpa ragu-ragu— keharusan gerakan dakwah mencarikan solusi berbagai persoalan umat secara umum dan menciptakan solusi tersebut merupakan tantangan langsung yang dihadapi gerakan dakwah (masa kini).

Demikian pula, geralan dakwah berkewajiban untuk memobilisasi seluruh potensi dan kekuatannya untuk memberikan solusi berbagai persoalan (masyarakat) tersebut, agar umat Islam yakin bahwa gerakan dakwah itu adalah benteng yang aman yang memungkinkan mereka besandar/berlindung dan concern betul terhadap semua urusan mereka.

Ketujuh, Fanatik Kesukuan dan Nasionalisme

Secara teori, gerakan dakwah meyakini wihdatul ummah (kesatuan umat) dan dakwah internasional. Akan tetapai dalam prakteknya kita belum menemukan implementasi yang memadai terhadap maknanya. Prilaku kita masih diwarnai kecenderungan dan karakter kesukuan dan nasionalisme (kewarganegaraan masing-masing).

Fenomena tersebut nampak dengan jelas saat berbagai pertemuan di mana setiap kita masih tergantung kepada teman se kabilah atau senegaranya. Sedikit sekali interaksi sosial kita dengan mereka yang di luar ikatan kedaerahan dan kenegaraan… Adapun dalam level qiyadah (kepemimpinan) memang sudah ada pertemuan-pertemuan rutin berskala internasional dengan para pemimpin lainnya. Namun, perlu diakui, masih sering tersandung oleh keinginan-keinginan yang didasari lingkup dan tantangan bersifat kewiliyahan dan lokal.

Kendati pertemuan-pertemuan tersebut dianggap merupakan masalah yang asasi untuk saling bertukar informasi, pengalaman, menyusun strategi bersama dan kordinasi kerja serta keyakinan kita bahwa musush-musuh kita bekerja melawan kita dengan kesatuang langkah, namun harus diakui bahwa kita belum berhasil menghadapi mereka melau kesantuan langkah pula.

Kita telah tertipu oleh pemeo yang berbunyi : “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang jalan-jalannya”. Kondisi sekarang sudah berubah. Kita lupa bahwa orang asing (bukan penduduk asli) yang spesialis dan mengamati serta mempelajari kondisi negeri kita bisa saja ia lebih tahu tentang negeri kita dari apa yang kita ketahui. Sebagaimana juga halnya sangat memungkinkan sebagaian pakar tertentu yang bukan penduduk asli mampu memebrikan advis, pengalaman mereka yang akan bermanfaat untuk berbagai aktivitas lokal kita.

Sarana komunkasi internasional sekarang telah menjadikan bumi ini semakin hari semakin kecil dan semakin dekat. Pengertian “small village” benar-benar menjadi kenyataan. Itulah pemahaman internasionalisasi yang digalakkan Islam sejak kemunculannya.

Namun disayangkan, berbagai gerakan dakwah masih saja pandangan terhadap berbagai urusan/masalahnya terbelenggu oleh cara pandang lokal dan nasional setiap negeri sehingga setiap wilayah atau negeri masih terisolasi dari wilayah atau negeri Islam lainnya.

Kedelapan, Tidak Memiliki Perencanaan

Kebanyakan harokah/gerakan dakwah dari hari ke hari berjuang sebatas mempertahankan eksistensi diri. Sedikit sekali mendapatkan kesempatan untuk menyusun perencanaan tahunan, lima tahunan dan sepuluh tahunan.

Berbagai aktivitasnya hanya dimenej melalui tantangan terhadap berbagai krisis yang sedang terjadi. (Celakanya lagi) sering kali terjadi aktivitas rutinitas itu berubah menjadi spontanitas (yang kehilangan ruh/spirit, sehinga terlihat dengan nyata sebagai gerakan yang reaktif)…

Tidak memiliki perencanaan kerja yang dirancang sebelum beraktivitas telah menyebabkan ketidak jelasan dalam merumuskan target, distribusi/penempatan SDM yang buruk (bukan berdasarkan the right man on the right place, bahkan dalam banyak kasus didasari like and dislike) telah menyebabkan kekacauan dalam menentukan skala prioritas dan kehilangan menentukan arah yang jelas.

Kita masih belum mampu menjelaskan posisi beridri kita sekarang di mana dan berapa jarak antara kita dengan target-target yang akan dicapai. Kita juga belum mampu bersandar pada uslub/metode yang sistematis dalam mengevaluasi berbagai aktivitas kita.

Akibatnya, kita berjalan dalam keadaan kondisi yang tidak menyadari tingkat produktivitas kita atau beban-beban yang ditimbulkannya, tanpa peduli terhadap perencanaan yang sehat dan kuat dan keharusan berpindah dari quadrant “bekerja apa yang mungkin” kepada quadrant “bekerja sesuai yang harus dikerjakan”.


(bersambung...)

sumber: eramuslim.com

Posting Komentar

0 Komentar