Akhlak dan Kode Etik Jurnalis Muslim

By. Admin

Tsaqofah.com - Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan mulia, selama tujuannya baik dan benar. Tujuan seorang jurnalis Muslim, tentu saja tak jauh beda dengan fungsi dan peran seorang da'i yakni menyampaikan pesan kepada khalayak dengan tujuan mencerdaskan, selain menginformasikan pesan, meng-educate dan mempengaruhi. Demi tercapainya pesan dengan baik, maka seorang jurnalis Muslim harus menjadikan akhlak (etika) sebagai bekal utama dalam menyampaikan pesan-pesannya.

Dalam ranah praktis, jurnalis juga dituntut memiliki kemampuan teknis dan etis sebagaimana dituntunkan dalam Al-Qur’an. Hal ini menurut Romli (2003) dan Amir (1999) tercermin dalam berbagai bentuk ahlakul karimah, antara lain:

(1) Menyampaikan informasi dengan benar, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta (QS. Al-Hajj: 30);

(2)  Bijaksana, penuh nasihat yang baik, serta argumentasi yang jelas dan baik pula. Karakter, pola pikir, kadar pemahaman objek pembaca harus dipahami sehingga berita yang disusun akan mudah dibaca dan dicerna (QS. An-Nahl: 125);

(3). Meneliti fakta/cek-ricek. Untuk mencapai ketepatan data dan fakta sebagai bahan baku berita yang akan ditulis, jurnalis muslim hendaknya mengecek dan meneliti kebenaran fakta di lapangan dengan informasi awal yang ia peroleh agar tidak terjadi kidzb, ghibah, fitnah dan namimah (QS. Al-Hujarat: 6);

(4). Tidak mengolok-olok, mencaci-maki, atau melakukan tindakan penghinaan sehingga menumbuhkan kebencian (QS. Al-Hujarat: 11); dan

(5) Menghindari prasangka/su’udzon. Dalam pengertian hukum, jurnalis hendaknya memegang teguh “asas prduga tak bersalah”.
Selain poin-poin di atas masih, beberapa pedoman ahlak Qur’ani yang wajib diperhatikan bagi seorang muslim yang berprofesi sebagai wartawan atau praktisi media adalah sebagai berikut.

Pertama, dalam menyampaikan informasi, waratawan muslim hendaknya melandasi dengan iktikad atau niat yang tinggi untuk senantiasa melakukan pengecekan kepada pihak-pihak yang bersangkutan sehingga tidak akan merugikan siapapun.

Kedua, ketika menyampaikan karyanya, wartawan muslim hendaknya menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam gaya bahasa yang santun dan bijaksana. Dengan demikian apa yang disampaikannya akan dapat dimengerti, dirasakan, dan menjadi hikmat bagi khalayak.

Ketiga, dalam melaksanakan tugas jurnalistik, hendaknya wartawan muslim melaksanakannya secara profesional dalam ikatan kerja yang produktif, sehingga karyanya akan memiliki hasil yang optimal dan adil untuk semua pihak sehingga ia  akan dipandang sebagai aset utama perusahaan media.

Keempat, dalam melaksanakan tugas-tugasnya, wartawan muslim hendaknya menghindarkan sejauh mungkin prasangka maupun pemikiran negatif sebelum menemukan kenyataan objektif berdasarkan pertimbangan yang adil dan berimbang dan diputuskan oleh pihak yang berwenang.

Kelima, dalam kehidupan sehari-hari, wartawan muslim hendaknya senantiasa dilandasi  etika Islam dan gemar melakukan aktivitas sosial yang bermanfaat bagi umat. Wartawan muslim sudah seharusnya selalu memperkaya wawasan keislamannya untuk meningkatkan amal ibadah sehari-hari.

Keenam, dalam melaksanakan tugasnya, wartawan muslim hendaknya menjunjung tinggi asas kejujuran, kedisplinan dan selalu menghindarkan diri dari hal-hal yang akan merusak profesionalisme dan nama baik perusahaannya. Komitmen yang tinggi seyogyanya diberikan pada profesionalisme dan bukan ikatan primordialisme sempit.

Ketujuh, dalam melaksanakan tugasnya, wartawan muslim hendaknya senantiasa mempererat persaudaraan sesama profesi berdasarkan prinsip ukhuwah Islamiyah tanpa harus meninggalkan asas kompetisi sehat yang menajdi tututan perusahaan media massa modern.

Kedelapan, dalam melaksanakan tugasnya, waratwan muslim hendaknya menyadari betul bahwa akibat dari karyanya akan memiliki pengaruh yang luas terhadap khalayak. Karena itu, hendaknya semua kegiatan jurnalistiknya ditujukan untuk tujuan-tujuan yang konstruktif dalam rangka pendidikan dan penerangan umat.

Kesembilan, dalam melaksanakan tugasnya, wartawan muslim hendaknya menyadari dengan penuh kesadaran memahami banwa profesinya merupakan amanat Allah, umat dan perusahaan media. Karena itu wartawan muslim hendaknya selalau siap mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada Allah, umat dan perusahaannya.

Kesepuluh, dalam melaksanakan tugasnya, wartawan muslim hendaknya selalu berkata atau menulis dengan prinsip-prinsip berbahasa yang diajarkan Al-Quran, yaitu qaulan ma’rufan (pantas), qaulan kariman (mulia), qaulan masyura (mudah dicerna), qaulan balighan (efektif/mengena), dan qaulan layyinan (lemah lembut).


(dari berbagai sumber)

Posting Komentar

0 Komentar