Abah Mamay, "Saya Ingin Menjadi Manusia Bermanfaat"

(Foto: Suji & Hamidah)

Tsaqofah.com - Dalam menjalani hidup ini, tidak selamanya kita harus menjadi seorang yang disegani apalagi ditakuti. Namun, yang penting adalah bagaimana menjadi seseorang yang berguna bagi siapapun, minimal bagi orang-orang disekitar. Menjadi manusia bermanfaat itulah yang menjadi prinsip hidup seorang laki-laki yang kini menetap di lingkungan Pesantren Al Fatah Cileungsi Bogor.

Laki-laki kelahiran 74 tahun silam itu mempunyai nama lengkap Eng Kusmayadi. Ia merupakan ayah dari 10 orang anak yang kini sudah memberinya 30 orang cucu. Abah Mamay, demikian ia biasa disapa, lahir pada 12 Mei 1945 di Sukabumi. Memiliki latar belakang keluarga dari pihak ayah adalah orang yang ahli dalam bidang pertanian dan bandar kerbau di masanya. Sementara dari pihak ibu, adalah lurah pada zaman Belanda. Dari dua garis keturunan yang berbeda itulah, prinsip hidup untuk menjadi manusia yang banyak memberi manfaat bagi orang lain mulai tertempa.

Prinsip yang ia anut, tentu saja bukan tanpa dasar. Sebagai seorang Muslim memiliki pemahaman agama yang lurus, tentu saja ia menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai satu-satunya idola. Menurutnya, prinsip hidup yang diambilnya dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, khairun naas an fauhum lin naas, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.”

"Intinya, saya selalu ingin menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada banyak manusia. Dimana, dan kapanpun saya berada," katanya. 

Pendidikan

Mengenai pendidikannya, Abah Mamay mengawali pendidikannya dari sekolah tehnik (ia tidak menceritakan sejak SD maupun SMA). Lalu kuliah pada jurusan Syariah di sebuah kampus di Jawa Barat. Semasa muda, ia aktif di berbagai organisasi tetapi bukan partai, namun organisasi semisal PII, HMI, dan organisasi kepemudaan lainnya. 

"Sejak dulu, saya termasuk senang berorganisasi," jelasnya.

Setelah lulus kuliah, ia sempat menjadi guru. Saat menjadi guru itu, ia sempat mengikuti program peningkatan guru tehnik untuk beberapa lama. Setelah itu, ia diangkat menjadi guru di daerah di Sukabumi pada tahun 1987 dan pensiun pada 1998, karena faktor usia yang sudah melebihi peraturan sekolah.

"Saya menjadi guru cukup lama. Alhamdulillah, setidaknya saya bisa merasakan suka cita menjadi guru. Usia yang sudah tidak memungkinkan lagi menurut peraturan, maka saya pensiun menjadi guru," jelasnya.

Dipenjara Akibat Demo

Hal lain yang tak terlupakan dan pernah dialaminya, adalah seringnya ia melakukan demonstrasi pada masa kepresidenan Soeharto. Akibat aksinya itu, ia terpaksa harus merasakan bagaimana hidup di dalam sel tahanan selama 4 tahun. Namun, penjara tidak pernah membuatnya sedih, sebab baginya hal itu (penjara) adalah cara dari Allah untuk men-tarbiyah dirinya.

“Saat di penjara, justeru saya merasakan kasih sayang Allah. Di penjara itulah Abah dipertemukan dengan para jenderal, ulama dan mujahid,” ujarnya dengan mata berkaca.

Setelah 4 tahun Abah Mamay mendekam dalam penjara, akhirnya ia pun di bebaskan. “Sebagai seorang pendekar, saya pun turun gunung, katanya. Lalu ia mulai mencari jati dirinya. Pada tahun 1986 ia mulai mempelajari Islam secara kaffah (menyeluruh) dan ia sempat dijuluki sebagai seorang “ustadz” hingga dipercaya oleh masyarakat Sukabumi untuk mendirikan sekolah tahfiz yaitu Pesanren Tahfidzul Quran Al-Fatah, Sukabumi. Karena ia juga mempunyai program ingin membangun kecerdasan masyarakat, dengan membuat berbagai pelatihan keterampilan bagi anak-anak yang putus sekolah.

“Saya ingin sekali membantu masyarakat Sukabumi. Karena itu, saya membuat berbagai pelatihan untuk membantu anak-anak yang putus sekolah,” jelasnya.

Menjadi Thabib

Sejak tahun 1981 ia menjadi seorang Thabib. Ia mulai dikenal masyarakat menjadi seorang Thabib lantaran ia pernah menyembuhkan orang-orang yang tidak bisa buang angin (kentut) setelah operasi. Ia mampu menyembuhkan orang-orang yang sakit sebenarnya bukan karena kepiawaiannya, tapi karena semangat belajar otodidaknya tentang ilmu-ilmu kedokteran Islam.

“Alhamdulillah, dengan izin dan kuasa Allah, saya pernah mengobati orang yang tidak bisa tidur selama 2 tahun, orang yang patah tulang, bahkan sampai bisa membantu orang yang kesurupan karena gangguan jin,” ungkapnya. Perlahan tapi pasti, prinsif hidupnya kini satu demi satu mulai terwujud dan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.

Ia mengisahkan, awal kali mengobati orang yang sakit, ia masih melakukannya dengan cara manual, yaitu ketika ada pasien datang menemuinya, Abah masih harus membuka-buka buku panduan pengobatan miliknya untuk mengetahui penyakit apa dan bagaimana cara mengobatinya. Namun, seiring berjalan waktu, ia menjadi terbiasa dan hafal dengan metode-metode yang harus digunakan mengobati pasien.

Menyadari kemampuannya dalam mengobati orang sakit masih harus terus diasah, akhirnya ia mengikuti pelatihan pengobatan tradisional China dalam menyembuhkan penyakit. Menurutnya, masyarakat China ketika terserang penyakit, mereka tidak langsung pergi ke dokter melainkan menggunakan pengobatan tradisional terlebih dulu dengan memanfaatkan bahan nabati atau hewani.

Abah Mamay mencontohkan pengobatan menggunakan Lintah misalnya untuk menyembuhkan salah satu penyakit berbahaya seperti kanker payudara dan beberapa penyakin ganas lainnya. Dengan skill pengobatan itu, tak sedikitk orang sakit yang bisa diobatinya. Tak disangka, namanya kian dikenal masyarakat luas sebagai seorang Thabib. 

"Banyak orang mulai mengenal saya sebagai Thabib. Banyak pula orang yang berdatangan dari luar daerah berobat. Alhamdulillah, saya masih terus bisa menebar manfaat," kenangnya.

Namun, terlepas dari semua itu, Abah Mamay tetap menyadari dalam setiap pengobatan yang dilakukannya, semua itu tak pernah lepas dari campur tangan Allah Yang Maha Menyembuhkan. Dia-lah satu-satunya yang menyembuhkan berbagai penyakit.

Membuka Training

Abah Mamay juga membuka training otomotif  bagi para tukang ojek agar mereka bisa memiliki pekerjaan selain menjadi tukang ojek juga bisa membuka usaha bengkel. Banyak orang yang mengikuti training otomotif yang digagasnya. Sehingga semakin banyak pula orang yang bisa membuka usaha berupa bengkel motor.

“Alhamdulillah, semua bisa terlaksana dengan kuasa Allah, termasuk training otomotif ini,” ujarnya mengenang masa itu.

Tak merasa cukup menjadi guru, thabib dan pendiri training otomotif, Abah Mamay selalu punya cita-cita dan ide baru untuk terus menebar manfaat bagi sesama. Misal saja, ia sempat membangun sebuah masjid tanpa menggunakan uang dari masyarakat melainkan suplay penuh dari seorang donatur. Menurutnya, donatur itulah yang sejak awal proses pembangunan hingga selesai mendanai salah satu masjid di Sukabumi itu.

Prinsip kuat yang ada pada diri Abah Mamay untuk selalu memberi manfaat bagi orang lain itu masih terus ia lakukan sampai saat ini meskipun usianya sudah senja. Usianya yang sudah tidak lagi muda, penyakit yang mulai menghinggapi tubuh rapuhnya, tak mematahkan semangatnya untuk terus membantu sesama, terutama mengobati orang lain yang memerlukan jasanya.

Pria yang kini beramal shaleh di Pesantren Al Fatah Cileungsi milik Jama’ah Muslimin (Hizbullah) itu menitipkan pesan kepada generasi muda zaman now untuk lebih dekat  dengan Allah dan berusahalah untuk selalu ada dalam kebaikan walaupun jumlahnya sedikit.

Teruslah berbuat baik, sekecil apapun bentuknya karena kita tidak akan tahu kebaikan mana yang akan menghantarkan ke dalam surga-Nya, ucapnya.

By. Suji Rahayu & Hamidah Juariah

Posting Komentar

0 Komentar