Kader Jamaah


Oleh: Angga Aminudin (Alumni STAI Al-Fatah angkatan ke-V) 

Masa depan Jamaah Muslimin (Hizbullah) salah satunya ditentukan oleh sistem nilai dan semangat dakwah serta kualitas para kadernya. Sistem nilai yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Dibangun di atas fondasi ideologi gerakan Khilafah Ala Minjahhin Nubuwwah. 

Sistem dakwahnya prokaderisasi sentralistik. Prosedur pengelolaan amal sholeh yang berorientasi pada kekuatan para kadernya yang militan dan amanah.

Dengan adanya majlis-majlis dalam wadah jamaah sebagai operasional para pelopor, penerus dan penyempurna gerakan dakwah melalui setiap programnya harus bertumbuh dalam kebersamaan saling mendukung dan membesarkan. Rasanya ironis ketika melihat fenomena menjangkitnya potensi perpecahan ide dan pemahaman Jamaah Muslimin di kalangan kader. Akhirnya memunculkan sikap acuh dan apatis dari keluarga Jamaah sendiri.  

Padahal sejatinya dinamika internal itu untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan tetap menjagakan semangat kebersamaan dalam wadah yang sedang berkembang pesat ini. Tidak boleh berlama-lama acuh dan skeptis, apalagi bermusuhan dan saling memotong di belakang. Jika hari ini kita belum aktif di Jamaah, dan suatu saatnya tiba mendapatkan amanah menjadi kader penerus dakwah. Kita harus terbiasa dan memulai diri ditempa sebagai latihan, agar tangguh berlomba dalam kebaikan dimanapun.

Posisi Strategis Kader
Mesti diingat, pada orientasi yang lebih luas kader tidak hanya untuk kepentingan internal Jamaah. Kader harus siap membangun umat, bangsa bahkan tampil terdepan dalam agenda kemanusiaan bagi masyarakat dunia, mengimplementasikan Islam rahmatan lil ‘alamiin ( berkaca pada relawan RSI Gaza). 

Demikian pula proses pergantian kepemimpinan atau umaro di setiap levelnya ( riyasah, niyabah, wilayah bahkan pusat ) orientasi dakwah, sikap politik, ketaatan amanah, jenjang kaderisasi, budaya komunikasi sentralistik yang harus dibangun penuh dengan semangat ketulusan, dibingkai oleh nilai-nilai keislaman dan ideologi Khilafah Ala Minjahhin Nubuwwah. 

Pencapaian dakwah dalam bentuk beramal sholeh bersama-sama (jama’i) menjadi pertanda kemajuan wadah ini. Namun tentu pencapaian tersebut harus lebih ditingkatkan dan dipersiapkan sumberdaya manusianya (kaderisasi) agar sanggup menghadapi tantangan jaman. Karena memasuki era milenial ini, di berbagai level tempat dan pos majlis sudah menunjukan gejala “Hilangnya Kader”, walaupun baru gejala tetap saja harus secepat postingan medsos segera diantisipasi mencari solusi.

Dari perspektif manajemen sumberdaya manusia (human resource management), kader menempati posisi strategis. Keberlangsungan sebuah gerakan ( wadah ) dalam jangka panjang dengan pencapaian hebat ditopang oleh kualitas anggota gerakannya. Peran  vital para umaro dan bithonahnya itu ada pada manusianya. Sistem dan budayanya dibangun oleh kekuatan para kadernya.

Saya menggambarkan kader sebagai kelompok elite yang samapta dan terlatih dengan baik ( contohnya UAR ), yang menjadi tulang punggung lembaga dengan kualitas dan nilai lebihnya. Kelompok elite yang terpilih dan terlatih dengan baik itu tidak bisa dilahirkan dalam tempo yang singkat, melainkan melalui proses pelatihan dan kaderisasi yang mapan. 

Kader-kader yang terbentuk melalui pembinaan dalam ajang pelatihan, pendampingan dan wahana prosess didik diri yang terencana dan berkesinambungan (perkaderan formal, nonformal, dan informal). Pada dasarnya pembentukan kader itu tidak bisa lepas dari proses kaderisasi dan pendidikan yang harus dijalaninya dalam kurun waktu yang tidak terbatas.

Kader Jamaah Muslimin harus mampu tampil terbaik di zamannya dan memiliki visi masa depan yang melampaui zaman. Tumbuh dan berkembang dengan visi berkemajuan. Kata berkemajuan mengandung makna membebaskan, memberdayakan, mencerahkan dan memajukan. 

Membebaskan dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Gerakan dakwah yang dibangunnya selalu berusaha mengangkat derajat masyarakat secara ekonomi dan pendidikan. Pendidikan adalah kunci bangkitnya derajat kemanusiaan. Masyarakat miskin dan kurang pendidikan menjadi mitra dakwahnya, sehingga mereka bangkit dan memenangkan kehidupan, keluar dari keterbelakangan.

Memberdayakan mengandung makna kemampuannya untuk mandiri, berdikari tidak hanya untuk dirinya, namun juga keluarga dan masyarakat di sekitar lingkungannya. Tangannya selalu terdepan, membangun gerakan Jamaah, menciptakan kemandirian bagi kaum dhuafa.

Mencerahkan mengandung makna, selalu lahir ide-ide baru, memberikan inspirasi yang memajukan, inovasi dan sanggup mengikuti perkembangan jaman tanpa kehilangan nilai dan identitas diri. Kader harus sanggup menjadi manusia terdepan dalam memajukan segala bidang. Saya percaya saat ini calon kader dari ikhwan-ikhwan Jamaah saat ini banyak tersebar dan eksis di lingkungannya. 

Kini terletak pada upaya sungguh-sungguh pimpinan atau umaro untuk mencari, menjaring dan memberikan penguatan kapasitas kader. Bagi calon kader harus tumbuh kesadaran jamaah yang mutlak dilakukan. Agar kita yakin generasi mendatang lebih tangguh dibandingkan generasi saat ini.

 “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs An-Nisa’: 9). Wallahu ‘Alam

Posting Komentar

0 Komentar