Menasehati Tidak Harus Menjadi Sempurna


Oleh Bahron Ansori

Dalam keseharian, seringkali kita jumpai sekelompok orang yang enggan memberikan nasehatnya kepada orang yang berbuat maksiat. Alasannya sangat klise, “Ah, iman dan akhlak saya kan belum sempurna. Ah, saya kan tidak lebih baik dari mereka,”  dan sederet alasan klasik lainnya. Orang-orang ini tidak hendak bergerak untuk beamar makruf dengan alasan pada dirinya sendiri masih banyak kekurangan di sana sini.
Kedengarannya alasan kelompok di atas sederhana. 

Namun, andai setiap orang atau kelompok punya alasan yang sama tidak mau memberi nasehat kepada orang lain karena dirinya belum sebaik orang yang melakukan kemaksiatan itu, maka tentu saja sudah tidak akan pernah ada para pendakwah di muka bumi ini.

Menasehati bukan berarti sudah lebih baik dari yang diberi nasehat. Menasehati bukan berarti sudah sempurna iman dan akhlak. Menasehati bukan berarti tidak mempunyai salah dan dosa. Menasehati sejatinya adalah kewajiban setiap muslim kepada saudara muslimnya yang lain. Menasehati bukan berarti diri  harus lebih baik terlebih dulu, tapi tentu saja menjadikan diri lebih baik itu adalah sebuah keharusan.

Apalagi, saling menasehati sesama itu sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan, para nabi pun diutus keseluruh penjuru dunia semata-mata untuk memberi nasehat kepada umat manusia. Tak jarang, di antara para nabi itu pun di caci maki, dikatakan lebih buruk dari mereka yang dinasehati. Namun, apakah kewajiban para nabi untuk menyampaikan nasehat itu jadi berhenti? Tentu saja tidak.

Setiap kali mereka menasehati manusia agar berjalan di atas aturan Allah, maka mereka para nabi itu pun senantiasa memohon ampun kepada Allah, sebab takut apa yang disampaikan sebagai nasehat mereka sendiri belum bisa mengamalkannya. Artinya, nabi pun menuju kesempurnaan sebagai seorang nabi, tapi selama berproses menuju kesempurnaan itu, mereka tidak pernah berhenti memberi nasehat.

Andai setiap muslim tidak memberi nasehat kepada saudara muslim lainnya, maka tentu saja
Nasehat yang indah dari Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku sendiri. Akupun tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah subhanahu wataala, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya. Namun dengan berkumpulnya Ilmu para ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.. Maka terus-meneruslah berada pada majelis-mejelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar di sana dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat (bagi kita). Bertakwalah kalian semua kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”. [Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 185].


Posting Komentar

0 Komentar