Lelah yang Dicintai Allah (bag. 2 habis)

Oleh Bahron Ansori
 
Tsaqofah.com - Lelah, sebuah rasa yang pasti melekat pada setiap orang. Karena ada lelah, maka ada istirahat. Lelah, akan terasa nikmat jika bahkan bisa berbuah rasa syukur kepada Allah Ta’ala, karena melalui rasa lelah itu, Allah Ta’ala akan menaburkan rasa cinta-Nya kepada seorang Muslim.

Jika dalam pembahasan sebelumnya sudah dibahas dua kelelahan yang akan mendatangkan cinta Allah seperti seperti lelah berjihad di jalan Allah dan lelah mengajak manusia kearah yang lebih baik (dakwah), maka lelah lain yang akan dicintai Allah adalah sebagai berikut.

Ketiga, lelah dalam beribadah dan beramal sholeh. Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an surat Al Ankabut (29) ayat 69,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al-Ankabut : 69)

Keempat, lelah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik anak-anaknya. Cinta dan kasih sayang Allah Ta’ala juga akan meliputi setiap ibu yang sedang mengandung anaknya, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik mereka dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman: 14)

Sangat wajar jika Allah Ta’ala mencintai para istri yang dengan susah payah mengandung anak-anaknya, melahirkan, merawat dan mendidik mereka dengan segala jerih payah. Sebab apa Allah mencitai mereka para istri sholehah itu? Sebab mereka dengan segala kelelahan yang bertambah tambah telah mengandung calon hamba-Nya yang kelak akan lahir ke dunia.

Kelima, lelah dalam mencari nafkah yang halal juga akan mengundang cinta Allah. Jika Allah sudah cinta, maka pahala besar akan diperoleh seorang suami/ayah karena ia telah berupaya menafkahi keluarganya.

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ
Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56). 

Imam Al Bukhari memasukkan hadits ini pada masalah ‘setiap amalan tergantung pada niat’. Ini menunjukkan bahwa mencari nafkah bisa menuai pahala jika diniatkan dengan ikhlas untuk meraih wajah Allah. Namun jika itu hanya aktivitas harian semata, atau yakin itu hanya sekedar kewajiban suami, belum tentu berbuah pahala.

Keenam, lelah mengurus keluarga. Masya Allah, setiap orang yang lelah dalam mengurus keluarganya yang sudah Allah amanahkan kepadanya, selama ia ikhlas juga menjadi jalan datangnya cinta Allah kepadanya. Tentang memelihara keluarga ini, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Qs. At-Tahrim: 6) 

Ketujuh, lelah dalam belajar/menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap ikhwan dan akhwat. Karena, hanya dengan memiliki ilmulah seseorang akan bahagia hidupnya; dunia akhirat selama ilmu yang ia peroleh itu seimbang antara ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Allah Ta’ala mencintai setiap hamba-Nya yang berjalan keluar rumahnya untuk mencari ilmu. Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 79 yang artinya, Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Qs. Ali Imron: 79).

Kedelapan, lelah dalam kesusahan, kekurangan dan sakit. Dalam Islam, orang yang lelah karena himpitan kesusahan, kekurangan dan sakit yang menahun akan berbuah kebaikan bagi si empunya bila ia sendiri bisa ikhlas menerimanya. Allah Ta’ala akan mencintainya selama ia bisa terus berbesar hati menerima ujian-ujian itu. Lelah memang, tapi lelah itu akan dibalas dengan rasa cinta oleh Sang pencipta alam semesta yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman dalam Qur’an surat al Baqarah ayat 155,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

 Artinya, Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. al Baqarah (2): 155).

Itulah beberapa rahasia dibalik rasa lelah yang dialami seorang Muslim. Ikhlas menerima kelelahan akibat pahitnya ujian dalam menjalani kehidupan, lelah karena menanggung kehidupan keluarga dalam mencari nafkah dan lainnya akan menjadi jalan turunnya cinta dari Allah Ta’ala, dengan syarat lelah yang diiringi keimanan kepada-Nya, wallahua’lam. (sumber: minanews.net)

 


Posting Komentar

0 Komentar