Pentingnya Rujukan, Ilmu dan Jabatan


Oleh Panji Ahmad, S.Kom.I

Tsaqofah.com - Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh seorang pakar bahasa, yaitu mengenai tiga kekuatan yang dapat mengatur kehidupan manusia. Dalam penelitiannya, ia menyebutkan kekuatan pertama, yaitu power of reference (kekuatan rujukan). Potensi ini cukup kuat pada masanya saat seseorang menjadi rujukan, maka ia bisa mengatur manusia lain.

Sebagai contoh seorang kiai di zaman dahulu, ia cukup belajar kepada guru melalui pendidikan non formal, kemudian memperbanyak jam terbang berceramah. Meski tak memiliki pendidikan formal, namun ia sudah memiliki kecukupan ilmu dan diakui banyak orang. Sehingga banyak orang yang ingin berguru kepadanya. Dari sana seorang kiai dapat mengatur manusia.

Selanjutnya, kiranya penulis perlu menjelaskan terlebih dahulu kekuatan ketiga, yaitu power of legitimate (kekuatan jabatan). Bagi kebanyakan orang, jabatan dianggap bisa memengaruhi bahkan mengatur banyak orang. Semakin tinggi tingkat jabatan, semakin banyak pula orang yang bisa diatur.

Dan terakhir, yaitu power of knowledge (kekuatan ilmu pengetahuan). Dalam banyak kasus, orang yang memiliki kedalaman ilmu, maka potensinya untuk mengatur bahkan memengaruhi banyak orang sangat besar.

Lambat laun paradigma kekuatan ilmu pengetahuan merosot tajam, dibatasi oleh sandangan titel yang didapat. Sehingga tolok ukur manusia berbeda terhadap setiap orang, tergantunga seberapa tinggi titel yang ia miliki.

Hal ini turut mempengaruhi kekuatan rujukan yang tak sekuat zaman dulu. Seperti misalnya pada awal 2000-an, para asatiz mulai berbondong mengejar pendidikan formal. Bahkan ada pula yang mengambil jalur pintas dengan mencari lembaga yang menawarkan pendidikan cepat. Hal ini terjadi disebabkan pergeseran paradigma, yaitu orang-orang yang berilmu dipandang dari jumlah titelnya.

Belakangan, fenomena yang lumrah terjadi di sejumlah masjid agung di perkotaan, di mana daftar nama penceramah dipenuhi oleh para asatiz dengan rentetan titel di belakang namanya. Situasi ini berhasil mengeliminasi sejumlah kiai tradisional tanpa gelar. Diakui atau tidak, hal ini nyata adanya.

Paradigma tersebut juga mempengaruhi kekuatan jabatan. Dahulu, untuk memperoleh jabatan didasari pada seberapa lama ia mengabdi. Namun hal itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sekarang yang justru banyak diisi oleh kaum bergelar. Sehingga tolok ukur kepercayaan masyarakat disandarkan pada gelar yang dimiliki.

Beberapa bentuk dinamika di atas adalah salah satu contoh gampang yang bisa kita temui di tengah kehidupan sosial saat ini. Disadari atau tidak, fenomena itu telah mengisi segala sendi kehidupan yang kemudian berimbas pada polarisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Sekarang, bagaimana jika umat Islam muda skeptis terhadap fenomena tersebut ?

Jawabannya adalah realita zaman sekarang seseorang dinilai atas gelarnya, tanpa memperhatikan ilmu yang dimiliki. Pos-pos birokrasi banyak diisi oleh mereka yang memiliki titel tinggi. Mau tak mau masyarakat pun merelakan kepercayaannya atas dasar gelar, tak lagi mempertimbangkan ilmu.

Jika generasi muda muslim yang sadar lalu skeptis, masih beranggapan bahwa gelar tidaklah penting, maka lihatlah apa yang terjadi sekarang. Sikap skeptis generasi muda muslim begitu terasa dampaknya. Situasi ini memunculkan pejabat birokrasi yang menganggap enteng aturan sehingga kehidupan masyarakat tak lagi harmoni.

Maka dapat ditarik benang merah bahwa ilmu sangat penting untuk dimiliki oleh generasi muda muslim. Sandangan gelar tak kalah penting. Sebab Islam adalah rahmatan lil'alamin, tak hanya cukup pada tataran RT/RW yang kita pengaruhi agar menjadi baik, tapi dunia yang kita upayakan menjadi lebih baik dan berakhlak, wallahualam.

Posting Komentar

0 Komentar