Mengapa Orang Sulit Berubah?


Oleh *Syarifah, S.Pd.I

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Qs. Ar Ra’ad: 11)


Tsaqofah.com - Dunia itu terus berubah, tidak akan tetap karena satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Pada umumnya seseorang yang telah berada di zona nyaman, akan sulit berubah dari posisi tersebut. Kita ambil contoh, seorang yang terbiasa tidak tertib  ia akan merasa nyaman dengan kebiasaannya dan sulit berubah ketika ada aturan yang berseberangan dengan kebiasaan tersebut. Contoh lain, seseorang yang terbiasa merokok sekalipun ia tahu mudharatnya ia akan tetap merasa nyaman dengan kebiasaannya itu.
               
Dalam dunia pendidikan, masih banyak guru yang merasa nyaman dengan kebiasaan lama. Mengajar dianggap hanya sebatas rutinitas menyampaikan ilmu, hanya sebuah rangkaian kegiatan masuk kelas kemudian menerangkan pelajaran setelah itu pulang tanpa ada tuntutan lainnya. Padahal mengajar butuh persiapan yang baik berupa RPP (Rencana Program Pengajaran) dan evaluasi dari kegiatan mengajar tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum, tidak banyak guru yang mempersiapkan RPP pada saat akan mengajar. “Saya sudah hafal dan faham materi yang akan disampaikan, untuk apa membuat RPP?” begitu kebanyakan jawaban yang diberikan guru pada saat ditanya tentang RPP. Atau, “Niat saya mengajar ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, jadi tidak perlu  di supervisi, tanpa disupervisipun saya akan mengajar dengan sebaik-baiknya,” begitu jawaban yang diberikan ketika akan diadakan supervisi kelas. Belum lagi terlewatkannya kewajiban mengisi administrasi guru yang cukup banyak yang tentu saja terasa sangat memberatkan bagi para guru dengan upah yang tak seimbang.
               
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang keadaan amalnya hari  ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari). Dalam hadis ini tersirat perintah untuk berubah, berubah kearah yang lebih baik. Rasulullah mengharapkan agar umatnya terus mengalami perkembangan setiap harinya.
               
Perubahan merupakan hukum alam yang tidak terelakkan, maka hanya berubah yang bisa dilakukan bila tidak ingin tertinggal bahkan tergilas kehidupan. Berubah bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri, berubah artinya menjadi diri sendiri yang lebih baik dari sebelumnya, keahliannya lebih terarah, pengetahuannya bertambah, wawasannya lebih luas, pemahamannya lebih mendalam dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.
               
Proses perubahan mungkin melibatkan ketidaknyamanan dan kesulitan dalam menjalaninya, mengapa? Karena kita berusaha melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, mengubah sudut pandang kita, membiasakan hal-hal baru diluar apa yang biasa kita lakukan sebelumnya.

Tetapi jika kita mau berusaha maksimal mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang lebih baik, maka prestasi dan kemajuanlah yang akan kita dapatkan. Sebagai contoh,  seorang guru yang membiasakan  membuat Rencana Program Pengajaran (RPP), maka dia tidak akan terbebani dengan kebiasaan tersebut bahkan terasa mengganjal jika terlewatkan. Kegiatan supervisipun dijadikan sebagai ajang untuk mengasah dan memperbaiki kemampuan diri.

Untuk itu, jika kita mau berubah menjadi lebih baik maka tinggalkanlah kebiasaan lama yang tidak baik. Jadilah seperti ulat sebagai binatang melata yang menjijikan yang berubah menjadi seekor kupu-kupu indah yang dapat terbang bebas. Pertanyaannya adalah, maukah kita berubah???

*(Kepala Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah Cileungsi Bogor)

               
               
               


Posting Komentar

0 Komentar