Zina, Dosa Besar yang Dianggap Biasa

Tsaqofah.com - Era serba digital membuat orang semakin mudah untuk melakukan sesuatu. Banyak sisi positif memang, tapi di era digital juga semakin memudahkan Bani Adam untuk melakukan perselingkuhan yang berujung pada perzinahan. Bencana perselingkuhan itu bisa jadi bermula dari sekedar berkirim pesan biasa, entah itu lewat sms, WhatsApp, facebook atau layanan digital lainnya. Lama kelamaan mulailah saling curhat satu sama lain. Lalu saling mengatur waktu dan membuat janji untuk ketemuan. Puncaknya, terjadilah perzinahan, nauzubillah min dzalik. 



Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah sehingga bisa dimakan, dan beliau bersabda, “Apabila zina dan riba sudah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan jatuhnya siksa Allah pada diri mereka sendiri”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak, ia berkata shahih sanadnya juz 2, hal. 43, no 2261]. 

Pengertian zina adalah persetubuhan antara pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan perkawinan yang sah menurut agama. Islam memandang perzinaan sebagai dosa besar yang dapat menghancurkan tatanan kehidupan keluarga dan masyarakat. Berzina dapat diibaratkan seperti memakai barang yang bukan menjadi hak miliknya.

Perbuatan zina sangat dicela oleh agama dan dilaknat oleh Allah. Pelaku perzinaan dikenakan sanksi hukuman berat berupa rajam. Mengenai larangan berzina, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina, itu (zina) sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.

Yang dimaksud perbuatan mendekati zina yang dilarang adalah berpacaran yang mengakibatkan pelakunya ingin melakukan zina. Mendekati sesuatu yang dapat merangsang nafsu sehingga mendorong diri kepada perbuatan zina juga termasuk perbuatan mendekati zina.

Begitu pula dengan perbuatan yang berpotensi mendorong nafsu seperti menonton aurat dan mengkhayalkannya adalah mendekati perzinaan. Menurut Al-Ghazali, perbuatan keji (dosa besar) yang tampak adalah zina, sedangkan dosa besar yang tersembunyi adalah mencium, menyentuh kulit, dan memandang dengan syahwat.

Nafsu syahwat merupakan senjata syetan yang paling kuat atas diri manusia, yang apabila nafsu syahwat tersebut telah menguasai diri manusia, maka ia dapat membuat manusia tersebut condong kepadanya. Seorang bijak berkata “Siapa yang jatuh dalam satu lubang dari urusan dunia, niscaya ia jatuh dari lubang itu”. Sedangkan menuruti nafsu syahwat perut dan farji (kemaluan) adalah termasuk dari bagian-bagian dunia.

Lalu apa yang menjadi permulaan zina? Dikisahkan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Yahya As. “Apa penyebab dari permulaan zina?” Nabi menjawab “Memandang dan berangan-angan. Jadi, seseorang yang mampu menundukkan pandangannya, maka ia mampu pula menjaga pikiran, hati serta kemaluannya. Memandang merupakan dosa kecil yang bila dituruti ia dapat membawa pada dosa besar yaitu zina farji (kemaluan).


Allah Subhanahu Wa Ta’ala jelas-jelas telah melarang berbuat zina dalam frimanNya yang artinya, Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang teramat buruk.(Qs. Al-Isra’ : 32)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Qs. Al-Mu’minuun : 5-7)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menegaskan dalam sabdanya, “Tujuh orang yang dilindungi oleh Allah pada hari kiamat dalam lindungan ‘arasy-Nya pada hari itu tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya. Dan terhitung termasuk mereka, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang cantik dan mempunyai kedudukan kepada dirinya, lalu laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya saya takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Muttafaq ‘alaih dari hadits Abu Hurairah)

Diriwayatkan pula bahwa seorang pemuda mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, maukah engkau memberikanku izin untuk berzina,” mendengar pernyataan pemuda tersebut, para sahabat marah karena pemuda itu karena telah berani bertanya hal demikian kepada Nabi. Nabi lalu berkata, “Biarkan ia! Ke marilah kamu!”

Pemuda itu pun mendekati Nabi. “Engkau senang kalau hal itu terjadi pada ibumu?” Tanya Nabi. “Tidak, demi Tuhan.” “Demikian pula orang lain, mereka juga tidak senang bila hal itu terjadi pada ibu mereka” “Akankah engkau senang hal itu terjadi pada anak gadismu?” “Juga tidak. “Demikan pula orang lain, tidak senang hal itu terjadi pada anak gadis mereka.

Setelah terjadi dialog tersebut, Nabi kemudian meletakkan tangan di dada si pemuda itu seraya berdo’a “Ya Allah, bersihkanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kemaluannya. Sejak saat itu, tidak ada yang lebih dibencinya daripada perbuatan zina. (Al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir : 7.679 dan dari Abu Umamah : 7.759, nas tersebut juga diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, III h.86).

Islam sangat menjaga kesucian seseorang, baik itu lahir maupun batin. Itulah mengapa dalam bab-bab fiqih yang dijelaskan pertama kali adalah bab thaharah, agar penganutnya senantiasa menjaga kesucian baik lahir maupun batin. Zina termasuk dosa besar yang dapat melenyapkan kehormatan dan menyebabkan kemurkaan Allah. adapun pandangan adalah permulaan zina dimana menjaganya itu penting dan sulit, terkadang diremehkan tanpa ada rasa takut, padahal banyak bencana yang timbul darinya.

Wajib mencegah diri dari perbuatan zina dengan meninggalkan memandanng dan berangan-angan dan lain-lain yang dapat menimbulkan hasrat untuk melakukan perbuatan zina. Kalau tidak, sehingga akal menjadi tunduk pada nafsu syahwat, maka menjadi sulit menolaknya dan tabiat menuntut pengulangan kembali. Dalam hal ini maka menjadi lebih sulit untuk mengobatinya.


Lukman menasehati anaknya, “Anakku, jauhilah dari berbuat zina, sebab awalnya adalah kecemasan, akhirnya penyesalan dan setelah itu azab.” Menururti hawa nafsu hanya akan memperoleh kesenangan yang bersifat semu yang pada akhirnya mengakibatkan penyesalan serta menjauhkan hubungan kita dari-Nya. Kebahagiaan dan ketenangan pada hakikatnya akan kita raih bila kita memutuskan nafsu syahwat dan mengendalikan diri dari sifat-sifat tercela, kemudian menghadapkan diri pada mujahadah (bersungguh-sungguh menentang hawa nafsu).

Seorang bijak berkata, “Orang bodoh adalah orang yang menambah keperluan-keperluan dan menuruti nafsu syahwatnya, sedang ia tidak mengerti bahwa ia memperbanyak sebab-sebab kesedihan dan kesusahan.”

Di dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar jangan mendekati zina seperti memandang lawan jenis yang dapat menanamkan syahwat di hati, berdua-duaan dengan lawan jenis dan lain-lain yang dapat mendorong kepada perbuatan zina. Sebab bila kita terlalu menuruti hawa nafsu maka akan terjebak dalam situasi yang kita sulit keluar darinya.

Seperti kata Ibnu Athailah, Kelezatan hawa nafsu yang sudah bersarang di kalbu merupakan penyakit kronis.(Al-Hikam, Ibn “Athaillah).

Awal kita tercipta adalah dalam keadaan suci, lalu untuk apa kita lumuri diri dengan dosa-dosa yang dapat merusak hubungan kita dengan-Nya, di mana rasa cinta untuk diri sendiri? Apabila kita menuruti nafsu syahwat, maka kita ibarat orang yang berjuang menggapai kebahagiaan “sesaat” untuk penderitaan “seabad”.

Surga memang dikelilingi oleh tabir duniawi yang menyesatkan, godaan keindahannya yang pada hakikatnya hanyalah kesenangan semu belaka dapat membuat kita melupakan kenikmatan surgawi yang tiada tara. Dalam hal ini, hendaknya kita menanamkan rasa takut kepadaNya sebagai pukulan dahsyat bagi syahwat dan mengisi waktu dengan segala amal taat dan segala hal yang bermanfaat serta menyibukkan diri dengan hal-hal yang dapat mendekatkan kita kepadaNya. Wallahua’lam. (Bahron Ans./berbagai sumber)




x

Posting Komentar

0 Komentar