Sebab-sebab Kefakiran



Tsaaqofah.com - Sunnatullah setiap manusia pasti ingin menjadi orang kaya dan terhindar dari kemiskinan. Namun, kaya dan miskin pada hakikatnya terjadi atas kehendak Allah. Ada orang, ketika Allah titipkan sedikit kekayaan, maka ia menjadi sombong, lupa jika Allah-lah yang telah menitipkan kekayaan kepadanya. 

Sebaliknya, ada orang yang hidup sehari-harinya selalu diliputi kekurangan alias kemiskinan. Namun, karena ia adalah orang beriman, maka ujian kemiskinan yang menghampirinya itu tidak membuatnya gelap mata, dan mati langkah. Ia sangat menyadari bahwa kaya dan miskin adalah kehendak Allah. Karena itu kesabaran atas semua ujian, dan berusaha terus untuk mensyukuri yang Allah titipkan adalah amalannya menjalani kehidupan fana ini.

Sebenarnya, kaya dan miskin bisa juga dibilang sebagai pilihan dalam hidup. Artinya ketika seseorang  ingin menjadi orang kaya, bukan tidak mungkin ia akan berusaha keras dan menyerahkan segala hasilnya kepada Allah. Sebaliknya, ada beberapa sebab juga mengapa seseorang itu menjadi miskin, sebab-sebab itu antara  lain sebagai berikut.

Pertama, Lemah dan Malas. Penyakit lemah dan malas kadang menjadi salah satu sebab dari kefakiran seorang Muslim. Karena Allah SWT menciptakan manusia dalam keadan memiliki potensi untuk berusaha dan bekerja, serta diberi kemampuan untuk berjuang mencari rizki. Oleh karenanya Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Qs. 90: 4).

Susah payah mengharuskan seseorang untuk berusaha, bekerja keras dan berjuang untuk memperoleh rezeki dan keberkahan. Rasulullah SAW banyak berlindung dari sikap malas dan lemah, "Ya Allah , aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan, dari sifat lemah dan malas, dari sikap pengecut dan kikir, dari belitan hutang dan tekanan orang." (HR. al-Bukhari).

Kedua, Dosa dan Maksiat. Kefakiran dan kemelaratan merupakan bagian dari musibah. Itu terjadi kadang disebabkan kemaksiatan sebagaimana musibah lain pada umumnya. Allah SWT berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs. 42: 30).

Ibu Abbas ra berkata, "Sesungguhnya kebaikan itu sinar di wajah, cahaya di dalam hati, kekuatan di badan, keluasan dalam rezeki, kecintaan di dalam hati setiap orang. Sedangkan keburukan adalah kemuraman di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di badan, mengurangi rezeki, dan penyebab kebencian di hati orang."

Maka cukuplah kemaksiatan itu akan menghilangkan keberkahan, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rizki dengan sebab dosa yang dia kerjakan." (HR. Ahmad & Ibnu Majah).

Kalau kita menyadari, maka sungguh tidak ada seorang pun di antara manusia yang lepas dari berbuat dosa, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Seluruh bani Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. at-Tirmidzi).

Ketiga, Penjagaan Allah SWT kepada Hamba. Allah SWT itu Maha Tahu. Bisa jadi jika seorang hamba diberi kekayaan, justru akan menjadikannya celaka di dunia dan di akhirat. Atau menjadikan dia sombong dan besar kepala yang berakibat pada turunnya siksa dan bencana.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT menjaga hamba-Nya yang beriman dari dunia ini, padahal Dia mencintainya, sebagaimana kalian semua berhati-hati (menjaga) orang sakit dalam memberi makan dan minum, karena khawatir (terjadi sesuatu) terhadapnya." (HR. Ahmad, terdapat di Shahih al-Jami no. 181).

Keempat, Telah Ditetapkan Memperoleh Kedudukan di Sisi Allah SWT. Termasuk besarnya kemuliaan dan kemurahan Allah SWT adalah Dia memuliakan hamba-Nya sebelum hamba itu melakukan suatu prestasi, dan Dia telah menulis untuk seorang hamba satu kedudukan yang tidak mungkin hamba tersebut mencapainya hanya dengan amal perbuatannya. Sehingga, Dia memberikan kebaikan dengan cara mengujinya, baik itu dalam harta, anak, atau badannya. Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya jika seorang hamba telah ditulis baginya satu kedudukan yang tidak mampu dia capai dengan amalnya, maka Allah mengujinya di dalam harta atau badan atau anaknya." (HR. Abu Dawud).

Kedudukan yang tinggi hanya dicapai oleh seorang mukmin. Maka ketika ada seseorang datang kepada Nabi SAW lalu berkata, "Sungguh aku mencintaimu." Maka Nabi menjawab, "Siapkan dirimu menjadi orang fakir." Wallahua’lam. (Bahron Ansori)


Posting Komentar

0 Komentar