Merasa Bisa dan Bisa Merasa


Oleh Bahron Ansori

Tsaqofah.com - Kita memang terlahir sebagai manusia dengan berjuta kelemahan, tapi tidak memungkiri ada banyak kelebihan yang sudah Allah persiapkan.
Salah satu kelemahan yang Allah tanamkan dalam setiap jiwa manusia adalah sifat Merasa Bisa dalam segala hal. Merasa Bisa ini sering diistilahkan dengan kalimat ringan “sok tahu”. Bisa jadi, sifat ini pula kelak yang akan menggiring seseorang tak pernah maju dalam segala bidang.
Orang yang Merasa Bisa, tentu sangat berbeda dengan orang yang Bisa Merasa. Meski kedua kata itu sama, tapi ada makna yang sangat jauh berbeda. Ada jurang pemisah yang sangat lebar di antara kedua kata itu.
Merasa Bisa arti bebasnya adalah orang yang merasa lebih superior di atas semua orang, sehingga ia tak pernah bisa menilai positif apa yang dihasilkan oleh orang lain kecuali karyanya sendiri.
Namun sebaliknya, orang yang Bisa Merasa adalah orang-orang yang berjiwa besar, merdeka dari segala prasangka negatif dan terus berupaya meraba, menyelami, merasakan, berempati, simpati dengan apa yang dirasakan oleh orang lain dan lebih mendahulukan (itsar) kepentingan orang lain di atas dirinya.
Bisa Merasa adalah sifat yang melekat pada orang-orang yang selalu rendah hati (tawadhu) dan tidak angkuh. Ia akan menerima bila dinasehati temannya, sahabatnya atau bahkan orang tuanya sendiri.
Bersyukurlah siapa saja yang mempunyai sifat Bisa Merasa ini. Sebab dengan sifat itulah akan luluh lantak segala keangkuhan, kepongahan, kecongkakan, watak merasa paling benar dan membenarkan yang salah.
Bersyukurlah siapa saja yang bisa menghidupsuburkan sifat Bisa Merasa ini. Sebab orang yang mempunyai sifat ini akan senang jika ditegur, diarahkan atas perilakunya yang salah. Bukan sebaliknya mempertahankan kekeliruannya dan merasa apa yang diamalkannya selama ini adalah  benar.
Lihatlah para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Tak satu pun dari mereka memiliki sifat Merasa Bisa. Lihatlah bagaimana kisah sebuah keluarga yang berani menjamu sahabat Nabi lainnya sementara di rumahnya tak ada makanan kecuali hanya cukup untuk anak-anaknya saja.
Lihat pula bagaimana tiga orang sahabat yang sebelum syahid mereka merasakan dahaga sangat luar biasa. Saat air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka, terdengar ringkih sahabat di sebelahnya yang sangat haus dan ingin minum. Tanpa pikir panjang, sahabat pertama meminta agar air jatahnya diberikan saja kepada sahabat di sebelahnya.
Saat sahabat kedua itu hendak minum, tiba-tiba ia mendengar sahabat ketiga yang juga sedang sakarat meminta minum. Lalu dengan senang  hati sahabat kedua pun memberikan air tadi kepada sahabat di sebelahnya.
Atas takdir Allah semata, sahabat ketiga itu meninggal beberapa saat sebelum air itu diberikan kepadanya. Air itu pun dibawa dan akan diberikan kepada sahabat pertama dan kedua sebelumnya.
Namun, kedua sahabat tadi juga sudah wafat. Akhirnya air itu utuh, dan benar-benar utuh karena ketiganya tak sempat minum sedikit pun. Ketiganya pun syahid (HR. Ibnu Sa’ad dalam ath Thabaqat dan Ibnu Abdil Barr dalam at Tamhid, namun Ibnu Sa’ad menyebutkan Iyas bin Abi Rabi’ah sebagai ganti Suhail bin Amr). Allahuakbar…

Inilah perjuangan para sahabat dalam membangun jiwa Bisa Merasa di antara mereka. Rasa senasib, seperjuangan, sepenanggungan, tak lekang karena waktu.
Para sahabat itu telah melahirkan Ta’aruf (saling kenal) yang sempurna. Tingkatan itu pun naik kepada tafahum (rasa saling memahami), lalu naik lagi menjadi Ta’awun (rasa saling menolong dan menguatkan satu sama lain).
Tak hanya sebatas ta’awun di antara mereka. Sifat Takaful (rasa senasib dan sepenanggungan/sepenanggulangan) pun tumbuh subur hingga melahirkan sifat Itsar (mendahulukan kepentingan sahabatnya di atas kepentingan dirinya sendiri).
Pertanyaannya, bagaimana dengan kebanyakan kita hari ini? Sudah benarkah cara ber-Islam dan beriman kita? Sejauh mana sifat Bisa Merasa itu hidup subur dalam diri kita? Atau sebaliknya, kita lebih menyuburkan sifat Merasa Bisa dan selalu memandang orang lain tak pernah bisa seperti kita?
Kita bukan siapa-siapa kawan. Kita hanyalah manusia-manusia lemah akhir zaman yang penuh dengan dosa dan aib. Namun tetaplah bersyukur karena Allah Ta’ala selalu menutup dosa dan aib yang kita lakukan. Terbayangkah oleh kita, andai Allah selalu menampakkan aib dan dosa yang kita lakukan di dunia ini?
Mari merenung sejenak, hisablah diri ini. Katakan, “Siapa sebenarnya aku? Untuk apa aku diciptakan? Apa yang harus aku lakukan di dunia ini? Ke mana aku harus melangkah? Lalu, kapankah hidup ini akan berakhir?”
Pertanyaan-pertanyaan introspeksi di atas sesungguhnya akan menyentil nurani kita yang paling dalam. Kita akan tahu siapa diri ini setelah kita melakukan banyak introspeksi dan berkata apakah aku termasuk orang yang Merasa Bisa atau Bisa Merasa.


Posting Komentar

0 Komentar