Kekuatan Strategis Media Massa


Oleh Bahron Ansori*

Tsaqofah.com - Masihkah kita meragukan kekuatan besar media massa? Di dunia ini, media adalah kekuatan keempat yang ada setelah tiga kekuatan lainnya. Untuk lebih meyakinkan kita betapa media massa itu mempunyai sebuah kekuatan yang dahsyat, berikut catatan kecil ini semoga bisa memberi pencerahan bagi para investor yang ingin melahirkan sebuah media berkekuatan besar.

Suatu hari Boss CNN Ted Turner menyampaikan sambutan yang terkesan arogan pada acara pemberian penghargaan tertinggi Jurnalisme broadcasting tahun 1989. Katanya, "Kitalah, para news direktur, orang yang paling berkuasa di dunia, karena kita memengaruhi publik, kita menemukan definisi news. Kita memilih news yang kita anggap perlu ditonton publik dan kita menyensor sendiri.” (Syah, 2002).

Bukan hanya Ted Turner, perhatikan apa kata Rupert Murdoch yang pernah berpidato secara arogan, “Teknologi komunikasi tingkat tinggi telah terbukti menjadi ancaman yang jelas bagi rezim-rezim totaliter dimanapun jua…televisi satelit dapat melampui surat kabar-surat kabar dan televisi yang dikelola negara.”

Lihat pula apa kata seorang Carver, tokoh antagonis dalam film James Bond pada tahun 1997, Tomorrow Never Dies, di mata para pengamat didasarkan pada karakter Murdoch dan ambisinya mengendalikan sistem informasi global. “Sekarang informasi menjadi senjata baru,” kata Carver, “dan satelit menjadi arteleri yang baru…..Julius Caesar memiliki legioner, Napoleon memiliki pasukan, saya memiliki divisi saya sendiri; televisi, surat kabar, majalah dan malam ini (ketika itu Carver yakin akan dapat mengontrol seluruh pasar Cina)…saya akan mejangkau lebih banyak orang dibandingkan yang dapat di jangkau orang-orang lain, kecuali Tuhan sendiri.” (Feber, 2003).

Ungkapan terkesan arogan di atas bukan tanpa dasar. Mereka adalah orang-orang yang sudah menyadari dengan benar betapa media massa mempunyai peran yang sangat penting, besar dan strategis dalam mewujudkan setiap impiannya. Setidaknya berikut ini ada beberapa fungsi media yang disampaikan oleh pakar media.

Menurut Gurevitch dan Blumer (1990:270) fungsi-fungsi media massa adalah: Pertama, sebagai pengamat lingkungan dari kondisi sosial politik yang ada. Media massa berfungsi sebagai alat kontrol sosial politik yang dapat memberikan berbagai informasi mengenai penyimpangan sosial itu sendiri, yang dilakukan baik oleh pihak pemerintah, swasta, maupun oleh pihak masyarakat.

Contoh penyimpangan-penyimpangan seperti praktik KKN oleh pemerintah. Termasuk berbagai permasalahan sosial akan membuka mata kita bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ada.

Kedua, sebagai pembentuk agenda (agenda setting) yang penting dalam isi pemberitaannya. Pembentukan opini dengan cara pembentukan agenda atau pengkondisian politik sehingga masyarakat terpengaruh untuk mengikuti dan mendukung rencana-rencana pemerintah.

Ketiga, media massa merupakan platform (batasan) dari mereka yang punya advokasi dengan bukti-bukti yang jelas bagi para politisi, jurubicara, dan kelompok kepentingan. Ada pembagian lain dari komunikator politik, yaitu yang disebut dengan komunikator profesional (Carey, 1969). Pembagian ini muncul karena kemajuan-kemajuan dalam dunia teknologi komunikasi. Sehingga ada batasan/pembagian tugas dan peranan penyampaian pesan politik.

Ketiga, media massa mampu menjadi tempat berdialog tentang perbedaan pandangan yang ada dalam masyarakat atau diantara pemegang kekuasaan (yang sekarang maupun yang akan datang). Media massa sebagai sarana untuk menampung berbagai pendapat, pandangan, dan paradigma dari masyarakat yang ingin ikut andil dalam membangun sistem politik yang lebih baik.

Kelima, media massa merupakan bagian dari mekanisme penguasa untuk mempertahankan kedudukannya melalui keterangan-keterangan yang diungkapkan dalam media massa. Hal ini kerap terjadi pada masa Orba, ketika masa Presiden Soeharto berkuasa yang selalu menyampaikan keberhasilan-keberhasilan dengan maksud agar masyarakat mengetahui bahwa pemerintahan tersebut harus dipertahankan apabila ingin mengalami kemajuan yang berkesinambungan.

Keenam, media massa bisa merupakan insentif untuk publik tentang bagaimana belajar, memilih, dan menjadi terlibat daripada ikut campur dalam proses politik. Keikutsertaan masyarakat dalam menentukan kebijakan politik bisa disampaikan melalui media massa dengan partisipasi dalam poling jajak pendapat dan dialog interaktif. Hasil dari poling atau jajak pendapat tersebut akan merefleksikan arah kebijakan para politisi.

Ketujuh, media massa bisa menjadi penentang utama terhadap semua upaya dari kekuatan-kekuatan yang datang dari luar media massa dan menyusup ke dalam kebebasannya,integritasnya, dan kemampuannya di dalam melayani masyarakat.Fakta-fakta kebenaran yang diungkapkan oleh media massa dapat menyadarkan masyarakat tentang adanya kekuatan-kekuatan berupa terorisme atau premanisme, maupun intimidasi dari pihak-pihak tertentu yang mencoba mengkaburkan suatu permasalahan.

Kedelapan, media massa punya rasa hormat kepada anggota khalayak masyarakat, sebagai kelompok yang punya potensi untuk peduli dan membuat sesuatu menjadi masuk akal dari lingkungan politiknya. Adanya kecenderungan dalam menilai para politisi, komunikator politik, aktivis adalah sebagai pihak yang selalu bicara dengan publik. Oleh karena itu Bryce (1900) menyatakan bahwa khalayak komunikasi (khususnya dalam komunikasi politik) pada umumnya akan terpusat pada masalah opini publik.

Dari gambaran di atas mengenai fungsi media massa dalam kaitannya sebagai alat politik, maka semakin jelas bahwa peran media massa sangat besar dalam kekuasaan pemerintahan. Pendapat ini juga dipertegas dengan pernyataan Harold Lasswell, bahwa Politik tidak bisa dipisahkan dari pengertian kekuasaan dan manipulasi yang dilakukan oleh para elit penguasa atau counter elite.

Pelaksanaan komunikasi politik di Indonesia tentu tidak terlepas dari kebebasan pers. Di era keterbukaan yang dikenal dengan istilah masa global, peranan pers sebagai sarana komunikasi politik di Indonesia sangat penting untuk menyalurkan berbagai kebijakan kepada masyarakat, baik yang datang dari atas maupun bawah.

Lebih dari semua itu, karena media massa adalah sebuah bisnis kepercayaan (trust business), maka untuk bisa melahirkan media massa yang berkualitas diperlukan antara lain sumber daya manusia yang berkualitas yang ditopang dengan kekuatan modal memadai. Idealnya, jika tidak ada sumber daya manusia yang berkualitas, dan ditunjang modal yang kuat, jangan pernah bermimpi bisa melahirkan media massa yang berpengaruh. (*Jurnalis)

Posting Komentar

0 Komentar