Karidi, Relawan Al Fatah untuk Gaza


 
(Karidi sebelah kanan, salah satu relawan yang turut membangun RSI Gaza)

Tsaqofah.com - Lahir di salah satu desa di Wonogiri sebagai anak petani pada 14 Januari 1982. Setelah lulus SMP, Karidi sudah menjelajah dalam perantauannya. Di ibukota Jakarta, anak bungsu dari tiga bersaudara ini bekerja sebagai tukang bangunan, khususnya di bidang alat pendingin ruangan (AC).

Pada 2009, Pondok Pesantren Al-Fatah di Cileungsi, Bogor, membuka pendaftaran untuk relawan gempa Padang.

Karidi yang sudah menetapi Jamaah Muslimin (Hizbullah), tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Jama’ah Muslimin (Hizbullah) wadah umat Islam yang bersatu dalam satu kepemimpinan yang juga mengelola jaringan Ponpes Al-Fatah seluruh Indonesia menjadi wasilah bagi Karidi untuk mendaftar sebagai salah satu relawan yang kemudian diterjunkan ke daerah bencana gempa di Padang.

Di Padang, Karidi berkenalan dengan Tina, gadis relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang juga terjun ke Padang. Dengan cepat cinta merambat di hati Karidi. Maka sepulang dari tugas di daerah bencana gempa Padang, ditemani oleh  seorang ustadz dari Al-Fatah, Karidi meminang Tina.

MER-C adalah lembaga medis kemanusiaan dan kegawatdaruratan yang selalu menerjunkan relawannya ke berbagai daerah bencana dan konflik, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Meski telah menjadi suami seorang staf MER-C, namun ketika ada pendaftaran relawan ke Jalur Gaza, Karidi mendaftar melalui Ponpes Al-Fatah. Sebelumnya, MER-C dan Al-Fatah telah menjalin kerjasama yang erat. Jaringan Ponpes Al-Fatah se-Indonesia menjadi pemasok relawan utama untuk pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina, yang diprakarsai oleh MER-C atas nama dan dana dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.

“Saya mendaftar dari inisiatif sendiri, bukan atas dorongan siapa pun. Alasannya, karena saya merasa sebagai hamba Allah yang dhaif (lemah), jadi saya berpikir, mungkin dengan menjadi relawan, bisa menjadi penebus dosa bagi saya sendiri,” kata Karidi.

Karidi masuk dalam rombongan relawan Indonesia dengan jumlah terbesar dalam sejarah yang dikirim ke Jalur Gaza, sebanyak 27 relawan pada 21 Oktober 2012. Sebelumnya, MER-C juga mengirimkan empat relawan. Tim ini terdiri dari insinyur dan para tukang bangunan.

(Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina)

Disambut Serangan Bom Israel

Rasa yang menempa hati sangat berbeda ketika para relawan berada di wilayah Mesir sebelum masuk melalui perbatasan dengan kita berada di dalam Jalur Gaza. Rasa was-was yang sempat menyerang hati para relawan seketika sirna dengan semangat jihad, ketika mereka telah berada di tanah Syam yang diberkahi.

Kedatangan tim terbesar Indonesia di Gaza, membuat masyarakat Gaza sangat gembira luar biasa.
Pada hari kedua berada di sana, terjadi serangan bom dari Israel, sehingga anak-anak Gaza yang bersekolah segera dipulangkan. Serang bom jatuh tidak jauh dari RS Indonesia yang sedang dibangun oleh tangan-tangan keikhlasan para relawan.

“Karna kami di sana amal shaleh, jadi kami berjuang di jalan Allah. Jika sampai terjadi kami terbunuh, in syaallah kita syahid. Jika kami terkena bom, pandangan mata yang melek mungkin bukan memandang langit lagi, mungkin sudah surga,” ujar Karidi.

Dalam pembangunan RS Indonesia, Karidi diamanahi tugas sebagai Ketua Bidang Mekanikal Elektrikal.

Bergaul dengan Warga Gaza

Relawan Indonesia memiliki cara dan waktu khusus untuk berbaur dengan warga Gaza yang begitu tampak keramahannya dengan tamu asing.

Di hari-hari kerja, para relawan bergaul dan berbaur dengan masyarakat di waktu-waktu shalat. Dalam kondisi aman, mereka selalu shalat berjamaah di masjid. Selaku musafir, para relawan pergi ke masjid hanya di tiga waktu shalat, yaitu Subuh, Zhuhur dan Maghrib, waktu Ashar mereka jamak dan qashar di waktu Zhuhur serta Isya mereka jamak dan qashar di waktu Maghrib.

Khusus Jumat, para relawan libur bekerja. Di hari itu mereka memiliki program khusus dengan shalat Jumat di masjid-masjid Gaza yang berbeda dari Jumat yang satu dengan Jumat yang lainnya. Dekat dan jauhnya jarak masjid tempat mereka shalat, didatangi dengan melakukan long march (jalan kaki) secara rombongan.

“Kami melakukan long march dari masjid ke masjid. Jumat ini mungkin di masjid dekat rumah sakit, jumat depan di masjid lain yang lebih jauh. Kami tempuh dengan jalan kaki. Ada tim sendiri yang dipimpin oleh Ustadz Syamsuddin,” ujar Karidi.

Tidak semuanya berangkat, hanya sekitar belasan orang. Jika waktu Jumat jam 12, maka mereka berangkat jam 9 pagi.

Di hari libur itu juga, sebagian relawan ada yang memilih istirahat, ada pula yang ikut bermain bola dengan para pemuda di sekitar wilayah masjid dekat rumah sakit, umumnya para pemuda masjid.
Karidi sendiri, mengaku mengalami beberapa kesulitan dalam mendapatkan beberapa bahan yang tidak lazim ada. Karidi juga membantu dalam perbelanjaan bahan-bahan pembangunan.

“Tidak seperti di Jakarta, datang ke pasar lalu pulang bawa barang. Misalnya kabel 240 mili, kita pesan, kemudian tiga minggu baru datang. Kalau bahan yang umum setiap hari ada di Gaza,” ungkap Karidi.

Sering dalam berbelanja, Karidi didampingi oleh Ustadz Abdurrahman yang bahasa Arabnya lebih fasih.  “Jika saya sendirian berbelanja, saya ambil sendiri barangnya karena saya tidak tahu namanya. Sebelumnya saya beritahu kepada kepala toko bahwa saya tidak tahu nama barangnya, jadi saya minta untuk mengambil sendiri.

(Karidi dan keluarga tercinta)

Kuatnya Syariat Hijab Warga Gaza

Warga Gaza memiliki syariat yang kuat, terutama dalah hal penjagaan hijab antara muslimin dan muslimat. Sejak sekolah, pelajar sudah dipisah antara sekolah pria dan sekolah perempuan. Bahkan di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bersama antara anak laki-laki dan perempuan. “Jika terjadi obrolan antara anak  sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” kata Karidi.

Pria asal Wonogiri ini juga menceritakan bahwa dari segi ruangan tamu di rumah warga Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang sehinga sampai melihat ruangan-ruangan yang lain.

Selama puluhan kali para relawan diundang dalam jamuan makan oleh warga Gaza, para relawan tidak pernah bisa melihat isteri pemilik rumah. Sebab yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya. Kecuali pada satu jamuan makan terakhir sebelum para relawan pulang ke tanah air setelah hampir satu setengah tahun mengabdi di Gaza.

Saat itu ada undangan makan dari sebuah keluarga dengan jamuan yang sangat besar. Jumlah relawan yang banyak membuat ruang depan tidak cukup, sehingga sebagian harus duduk di ruang dalam yang berbatasan dengan dapur, di mana terlihat muslimat sedang bekerja menyiapkan hidangan yang akan disajikan kepada para tamu yang sangat mereka muliakan.

Rumah-rumah warga Gaza pun dipagar tinggi. Misalnya, jika orang lewat di depan rumahnya, orang tersebut tidak bsa mengateahui apa isinya di dalam. “Jadi sangat terjaga hijabnya.”

Di tempat fasilitas umum juga, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi perbaurannya. Masyarakat di sana jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face to face.

Pejuang Hamas Sangat Senang kepada Para Relawan

Para relawan memiliki kebijakan khusus terkait dengan para pejuang bersenjata di jalur Gaza. Para relawan memiliki prinsip netral terhadap berbagai faksi jihad di sana. Namun bukan berarti para relawan anti terhadap pejuang. Para relawan sering menyaksikan para pejuang Brigade Izzuddin Al-Qassam berbaris, sebab mereka memiliki markas pelatihan tidak jauh dari RS Indonesia. Itulah sebabnya, beberapa kali bom Israel jatuh beberapa ratus meter dari lokasi rumah sakit, di mana para relawan menetap.

“Kami sering melihat tentara latihan pada jam delapan atau jam sembilan malam,” kata Karidi. Pada bulan puasa tahun lalu, Komandan Hamas untuk wilayah utara datang khusus ke rumah sakit, untuk buka puasa bersama.

Sang Komandan menyatakan bahwa mereka senang sekali dengan adanya para relawan, apa lagi mereka sangat jarang menemukan relawan yang tinggal sampai satu setengah tahun. Biasanya relawan hanya satu sampai dua minggu. Mereka tidak menganggap para relawan sebagai tamu lagi, tapi mereka menyebut para relawan sebagai “keluarga saya karena kita adalah ikhwan, seperti satu tubuh.”

Dalam melawan Israel, para pemuda dikenakan wajib militer. Dari sekolah sudah diwajibkan pendidikan militer. Anak usia lima tahun atau kelas 1 sekolah dasar, sudah terbiasa membawa senjata api jenis AK, senjata asli. Mereka sudah dilatih dari sekolah, ada kelas khusus.

“Cara Allah Memuliakan Saya”

Karidi mengatakan bahwa masa-masa terburuk mereka di sana adalah saat perang delapan hari, ketika Jalur Gaza dibombardir secara penuh oleh militer Zionis Israel. “Para relawan tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa berdoa.”

Dan kerinduan sangat tinggi pernah dirasakan oleh Karidi setelah setahun lamanya, ketika ayahnya tercinta sedang sakit. “Saya sempat telepon, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdoa. Saya tidak bisa menunggui, atau menyuapi dan memberi minum. Hingga akhirnya orang tua meninggal,” kenang Karidi.

Pada akhir Desember 2013, pembangunan fisik RS Indonesia akhirnya rampung seratus persen. Namun para relawan tidak bisa langsung pulang keluar dari Jalur Gaza. Baru ketika awal-awal tahun 2014, barulah para relawan atas izin Allah berhasil menembus perbatasan Rafah dan kembali menginjak tanah air pada 27 Februari 2014.

“Ada plus minusnya ketika akan meninggalkan Gaza. Minusnya mungkin seperti ketika kita berpisah dengan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah.  Seperti itu pula rasanya saat berpisah dengan orang-orang Gaza atau pun bumi yang diberkahi,” ujar Karidi. “Ada pun plusnya adalah karena akan bertemu dengan keluarga.”

Insya Allah ada niat untuk ke sana lagi. Dan sudah ada rencana untuk berangkat kembali,” kata Karidi optimis. Dan atas izin Allah, beberapa bulan kemudian, 28 Juni 2014, Karidi bersama 14 relawan lainnya kembali berangkat ke Jalur Gaza untuk menyelesaikan pembangunan Wisma Indonesia di dekat RS Indonesia.

Namun, tidak lama setelah memasuki Jalur Gaza, pada 7 Juli Israel kembali melancarkan serangan brutal yang membantai rakyat Palestina di Jalur Gaza. Karidi bersama 14 relawan lainnya kembali berada di dalam wilayah perang yang setiap saat terancam oleh serangan bom Israel. “Saya merasa inilah cara Allah memuliakan saya,” kata Karidi sebelum keberangkatannya yang kedua kali ke Jalur Gaza yang terblokade dari darat, udara dan laut oleh penjajah Zionis Yahudi.

(Rudi Hendrik/Bahron A)



Posting Komentar

0 Komentar