Halimi, Jalani Hidup Ini dengan Penuh Makna


Mbah Halimi (Foto: Panji Ahmad)

Tsaqofah.com - “Kamu boleh merantau, dan carilah teman sebanyak-banyaknya, jangan cari musuh”, itulah sepenggal nasehat seorang ibu yang melepaskan anak dari kampung halamannya untuk merantau. Kala itu, Halimi bocah 12 tahun, nekat menuntut ilmu di Jakarta, hanya berbekal nasehat ibu yang selalu dipegang dan menjadi teman disebatangkaranya di tahun 1958.

“Jakarta adalah tempat kehidupan keras, berhati-hatilah disana nak,” kisah Jakarta yang diceritakan oleh warga Sumpiuh desa Kemiri tempat kelahiran Halimi sangat berbeda dengan Jakarta. Padahal Jakarta kala itu masih terbilang sepi, tidak seperti saat ini.

Saat itu, Halimi diminta oleh saudagar bemo untuk membantu di rumahnya.  Di rumah saudagar Bemo itu, Halimi ternyata diminta bekerja untuk mengisi kolam-kolam besar dengan timba-timba kecil. Setiap Shubuh, Halimi harus berpacu dengan waktu untuk mengisi kolam-kolam besar yang besarnya berkali lipat dirinya. Kolam-koma itu harus terisi penuh di pagi hari, sebelum orang banyak menggunakan kolam-kolam air itu untuk mandi dan keperluan yang lainnya.

Selain harus mengisi kolam-kolam besar itu, Halimi mendapat kerjaan tambahan lainnya, yaitu ikut membantu mencuci bemo-bemo kotor yang habis dipakai oleh para joki. Kepalan tangan lemah Halimi tidak menyurutinya dalam mencari uang untuk sekedar mempertahankan hidupnya di Jakarta. Uang yang ia kumpulkan dari upahan itu, bukan hanya untuk memenuhi keperluan makan dan minum, tapi juga ia kumpulkan demi meraih secercah cahaya pendidikan.

Sampai suatu ketika, karena ketekunan Halimi dan kesabarannya, maka bos bemo pun membuatkannya SIM agar ia juga bisa menarik bemo yang biasa ia cuci. Apa pun akan ia kerjakan selama itu halal. Sebab, jauh di lubuk hatinya ia masih menyimpan harapan agar bisa mengenyam pendidikan. 

“Saya akan kerja keras untuk pendidikan saya,” ucapnya suatu ketika. Baginya, pendidikan adalah pegangan dan impian. Karena itulah, betapapun berat pekerjaan yang dilakoninya, ia anggap semua itu adalah hal yang biasa saja. Beruntung kini, ia bisa mendapatkan uang tambahan dari menarik bemo. Akhirnya, dengan segala jerih payahnya, Halimi pun mendapatkan ijazah SMP pada tahun 1961 di Pejompangan, Tanah Abang, Jakarta.

Menjadi Polsus 10 Tahun

Sekian lama menarik bemo membuat Halimi sesekali merasa bosan juga. Allah mendengar bisikan hatinya. Suatu hari saat ia sedang menghitung uang receh dan beberapa uang lembaran yang  baru saja ia peroleh dari upah menarik bemo. Tiba-tiba ia melihat teman-temannya berlarian membaca sebuah kertas pengumuman yang terpampang di tembok. Ternyata itu adalah pengumuman dari PLN yang sedang mencari Polsus (Polisi Khusus) PLN. Kesempatan itu tak disia-siakan Halimi. Akhirnya, setelah segala persyaratan siap, ia pun melamar pekerjaan sebagai Polsus PLN itu. Qadarullah (atas kehendak Allah) ia diterima. Lalu, ia mengikuti pelatihan terlebih dulu di Lido Sukabumi.

Kini, Halimi tampak lebih gagah bak TNI AL dengan seragam Polsusnya. Di antara tugas dia dan kawan-kawannya sebagai Polsus adalah menertibkan pemasangan listrik, termasuk menertibkan pelanggan yang melanggar aturan PLN. “Saya harus berani jika harus menertibkan para pelanggan PLN yang tidak mau menaati peraturan di PLN. Jika mereka masih melanggar ya, mau tidak mau harus kita urus,” ujarnya mengenang masa itu.

Masa 10 tahun tentu saja bukan waktu sebentar untuk bekerja dengan profesi seperti Halimi. Karena sudah cukup lama menjadi Polsus, akhirnya Halimi dipindahkan dibagian pergudangan sebagai penjaga gudang. Di tempat yang baru itu, acap kali Halimi mendapat sindiran dari temana-temannya. 

Bahkan di antara  temannya ada yang berkata, “Tikus aja gemuk apa lagi orang.” Ungkapan sindiran semacam itu sudah tidak lagi bagi Halim. Namun, baginya, sindiran itu adalah motivasi baginya untuk terus menjadi yang terbaik. Ia selalu ingat pesan ibunya yang mengatakan, “Kamu boleh merantau, dan carilah teman sebanyak-banyaknya, jangan cari musuh.

Menurut pengakuannya, ia adalah terlama yang mampu dalam memegang amanah menjaga barang-barang gudang, ketika teman-teman yang lain terkena fitnah atau kasus permasalahan, Halimi tetap bertahan dan menjaga amanah yang dipercayakan, walau tikus-tikus itu gemuk ada di dalam gudang, tapi Halimi bukanlah tikus-tikus yang buruk dan tertangkap lalu dikeluarkan dari pekerjaan. 

Nasehat ibunyalah yang seolah menjadi ruh baginya untuk terus mengasah mental menjadi kuat dan tanggung dalam setiap keadaan bagaimana pun pahitnya. Sikap mentalnya yang baik itulah akhirnya mengantarkannya dipercaya oleh PLN untuk menjaga pergudangan selama 30 tahun. Hinnga akhirnya ia menjadi salah satu pensiunan PLN.

Kilatan Petir Menjadi Lentara

Suatu hari, karena keahliannya dalam bidang listrik, maka ia diminta untuk mengalirkan listrik di desa Al Muhajirun Lampung Selatan. Kala itu, Halimi harus bulak-balik Bekasi rumahnya dan desa Al Muhajirun di Lampung Selatan yang terpisahkan pulau. Namun, ia tetap bersemangat menunaikan amanah.

Dalam bekerja di Muhajirun itu, ia dibantu Tasliman temannya. Tak jarang, Halimi dan Tusliman berjalan kaki karena tidak ada kendaraan yang masuk ke desa dan mengirit biaya keluar, sebab pekerjaan memasang instalasi listrik itu tidak ada bayaran, sebab semua adalah amal shaleh sebagai wujud ukhuwah islamiyah. Dari Pasar Natar untuk menuju desa Al Muhajirun itu, Halimi dan Tusliman harus melalui perkebunan sawit yang gelap karena rimbunnya. Halimi harus berjalan kaki untuk sampai ke Muhajirun.

Pada saat bekerja, Halimi mendapatkan info bahwa anaknya sakit sehingga Halimi harus bergegas pulang ke Bekasi lebih awal. Saat itu, malam hari gelap gulita, listrik belum terpasang sempurna, dan tidak ada kendaraan yang bisa mengantarkannya ke Natar. Akhirnya, Halimi memutuskan jalan kaki melewati kebun sawit untuk sampai ke Pasar natar.

Kesunyian dirasakannya, suara serangga di malam gelap nan sunyi itu sesekali membuat bulu romanya merinding. Bukan hanya itu, ia menyusuri jalan setapak demi setapak karena tidak ada penerang. Satu-satunya yang menjadi penerang jalannya adalah kilatan-kilatan kilat dibarengi sahutan suara guntur di langit. Sepanjang jalan menyusuri kebun sawit itu, Halimi hanya bisa berjalan sambil merunduk (menunduk) agar tidak terjerembab dalam lubang jika ada.

Proyek memasukan aliran listrik itu terselesaikan selama empat bulan. Selama masa itu, cukup bagi Halimi untuk lebih akrab dengan para pemuda dan masyarakat di desa Al Muhajirun Natar Lampung kala itu. Bagaimana tidak, sebab semua rumah di Muhajirun ia masuki untuk memastikan pembagian arus listrik disetiap rumah itu ada. “Alhamdulillah hanya perlu waktu 4 bulan memasang instalasi listrik dan mengenal akrab semua warga Muhajirun.

Beternak Lele Jumbo

Pensiunan PLN, mungkin yang terakhir bagi Halimi di dunia pekerjaan yang sebelumnya Halimi menjadi pensiunan timbaan air, pensiunan pencuci bemo, dan pensiunan penarik bemo. Halimi mendapatkan kursus pembekalan bagi para pensiuanan PLN, agar banyaknya pesangon tidak tersalurkan sia-sia. Halimi mengambil pelatihan perikanan dan pertanian di puncak Villa Sopotumbur.

Dari itu Halimi mengalokasikan pesangonnya untuk menjual tanaman-tanaman buah dan lele. Sumber airnya di ambil dari kali (sungai) yang tidak juah dari kolamnya. Dengan penuh kreatif, Halimi membuat jalur air bawah tanah menuju kolam lelenya. Kolam ikannya menjadi daya tarik tersendiri bagi para rekan kerjanya dulu untuk bersilaturahmi sambil memancing.

Karena umur dan kekuatan tubuh Halimi kian turun, sehingga rencananya perkembangan penjualan tanaman-tanaman buah dan kolam lele jumbo yang dua bulan sekali lele-lele itu diternak akhirnya tidak mencapai target, dan ia sudahi. Kini, kolam-kolam itu terbengkalai selama dua tahun. Akhirnya, saat ada pengurukan, kolam-kolam itupun harus ditutup, sebelum itu semua isi kolam dikeluarkan. Lele-lele jumbo berwarna hitam pekat memenuhi jalan kampung akibat tumpah ruah. Sopir angkot antar desa sengaja berhenti karena ingin melihat lele-lele jumbo bergeliatan.

Membangun Masjid

Awalnya, lokasi itu hanyalah halaman belakang ukuran 3 x 6 meter dikediaman Halimi di Mekarjaya, Harapan Mulya, Bekasi. Halaman itu ia sediakan untuk para warga mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu Allah, sehingga penuh tempat itu sampai kaki-kaki hadirin di tekuk ke dada menandakan tempat yang kecil dan sesak di halaman belakang yang disulap menjadi tempat pengajian tersebut. Lahan yang berukuran hanya 8 x 8 di samping bekas kolam kala itu Halimi jadikan mushola, tepat di belakang halaman rumahnya. Kian lama, tempat kecil itu semakin tak muat untuk menampung ledakan jamaah yang hendak mengikuti pengajian yang datang dari berbagai daerah khusunya Bekasi.

Tekad Halimi bulat. Ia ingin memperluas musholanya menjadi masjid yang lebih layak dari sebelumnya, untuk membuat nyaman para penuntut ilmu dalam pengajian yang dilakukan minimal seminggu sekali baik pengajian para pemuda, ibu-ibu dan pengajian umum seperti Sirah Nabawiyyah dan lain sebagainya. Tapi keterbatasan dirasakan oleh Halimi yang hanya seorang pensiun PLN yang jabatannya tidak begitu tinggi, sepertinya tidak mungkin untuk memperluas ke sekitar dan ke atas musholanya. Sebab pasti akan memerlukan dana yang tidak sedikit.

“Saya akan membangun rumah-Mu ya Allah, tapi saya tidak punya apa-apa, kecuali apa yang Engkau berikan kepada kami,” itulah lantunan doa Halimi yang penuh harap dan khusyu’ di setiap sepertiga malam terakhirnya. Mushola yang akan dibangun masjid itu membutuhkan lahan tambahan seluas 220 M.

Untuk membangun masjid itu, maka Halimi merelakan untuk pindah, dan rumah yang dihuninya dirobohkan guna memperluas masjid Baitul Muttaqin itu. Sekeluarga pindah. Terkhusus istri Halimi mengikuti keinginannya. Kini, rumah Halimi hanya berukuran 3 x 8 Meter yang sebelumnya seluas 220 Meter. “Kita di akhirat sedang bangun rumah juga,”  ungkapnya penuh makna. Kalimat itu ia sampaikan kepada istrinya, dan meminta kepada segenap keluarga untuk tidak memepermasalahkan tanah itu karena sudah menjadi milik Allah.

Dua tahun delapan bulan lamanya masjid itu dibangun tanpa ada kendala berarti. Kini, masjid itu berdiri megah nan indah. Dari kejauhan sekarang nampak majid Baitul Muttaqin berdiri gagah nan kokoh. Para jamaah pengajianpun sudah tidak bingung lagi soal tempat, lantai bawah masjid digunakan untuk tarbiyah TPA setiap pagi dan sore hari. Suara anak-anak kecil pun riang gembira, dan kadang mereka bertasyahud mengagungkan nama-Nya.

Biaya yang dihabiskan untu membangun masjid itu sekitar 1,5 miliar. Jumlah biaya yang tidak sedikit. Tetapi Halimi yakin Allah Maha Kaya dan kita tidak memiliki apa-apa kecuali hanya pertolongan-Nya saja. Untuk mendapatkan bantuan tunai, Halimi hanya memasang spanduk iklan didepan bangunan masjidnya, dan mendoakan dengan melalui arti yang dipahami.

Kini Halimi sudah tak lagi muda. Umurnya 75 tahun. Remaja yang dulu penuh suka duka dalam meraih mimpi, kini sudah tak lagi mampu banyak berbuat secara fisik, sebab ia sudah sakit-sakitan. Meski tubuh tuanya sudah ringkih, tapi semangat perjuangan berbinar jelas di depan matanya. Baginya, sudah cukup merasa puas karena keinginannya untuk membangun “Rumah Allah” itu kini terwujud. Tak ada perjuangan tanpa pengorbanan dan tak ada pengorbanan yang sia-sia.

“Yakinilah dengan sebenar keyakinan, Allah itu Maha Adil, Maha Kasih Sayang. Tidak ada yang sia-sia di mata Allah. Perjuangan itu memang berat, tapi nikmat jika setiap kita mau berusaha dengan sabar, ikhlas dan penuh rasa syukur untuk menjalaninya,” pungkasnya. (Panji Ahmad/BA)

Posting Komentar

0 Komentar