Biar Lelah Asal Lillah


Oleh Bahron Ansori

Tsaqofah.com - Dunia memang tempat kehidupan dengan segala macam ragamnya. Di dunia ini pula setiap orang bisa mengambil ‘peran’ apa pun sesuai yang dikehendakinya. Hanya saja, yang mesti diingat adalah setiap peran yang diambil itu kelak pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala. Karena hidup ini pilihan, maka setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih menjadi apa dan siapa dalam menjalani kehidupan serba fana ini.

Dalam al Qur’an, Allah Ta’ala sudah memberi hak pilih kepada setiap manusia untuk memilih jalan mana yang ingin dilaluinya, termasuk apakah manusia ingin menjadi orang yang bertakwa atau fujur (rusak/sesat), mukmin atau kafir. Itulah pilihan yang Allah hadirkan untuk manusia jauh sebelum ia dilahirkan.

Allah telah memberikan kita sebuah pilihan yang nantinya akan dijalani dalam kehidupan ini. Semua terserah kepada manusia itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Qs. al-Syams [91]: 7-10).

Sungguh indah pilihan yang Allah berikan dalam ayat di atas. Manusia diberikan kebebasan meski sebenarnya Allah Ta’ala berharap agar setiap manusia memilih satu pilihan yakni; jalan takwa. Mengapa? Inilah bukti kasih sayang Allah kepada manusia. Allah menginginkan agar manusia itu bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, bukan sebaliknya menjadi orang-orang yang celaka.

Apa pun pilihan yang dipilih manusia, tetap pilihan itu mempunyai sebuah konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia itu sendiri. Ketika dia memilih jalan keburukan untuk menjadi orang-orang yang fasik, maka sebenarnya pilihannya itu akan dijalaninya dengan berbagai ujian hidup. Artinya, pilihan apa pun yang diambil manusia, maka tetap saja ujian dan derita pasti akan dirasakannya.

Orang yang dalam hidupnya lebih memilih mengambil ‘peran’ antagonis (menolak aturan-aturan Allah dalam kehidupannya),  bisa jadi ia merasa ‘bahagia’ saat itu, tapi sayang kebahagiaan yang ia rasakan adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan yang kelak akan ia bayar dengan segala kelelahan dan keletihan setimpal di akhirat. Kesengsaraan demi kesengsaraan akan dirasakannya kelak bila hidupnya berakhir dalam keadaan enggan mengamalkan syariat Allah.

Sebaliknya, memilih peran menjadi orang-orang baik (soleh), bukan berarti akan menjalani kehidupan di dunia ini dengan aman dan damai. Coba lihat, betapa banyak pejuang di jalan Allah seperti para Rasul, Nabi, Sahabat, Ulama bahkan para ustad, yang hingga hari ini masih terus ‘berlelah-lelah’ dalam memperjuangkan agama Allah dan mengenalkannya kepada seluruh umat manusia. Lihatlah, apakah mereka semua hidup dalam keadaan yang damai, aman, tentram dan sejahtera?

Ternyata tidak. Semua tugas suci yang mereka emban itu harus dibayar dengan segala kelelahan: jiwa, raga dan  bahkan spiritual. Artinya, dalam menyampaikan kebenaran, ujian –demi ujian- harus mereka hadapi, hingga tak jarang karena mengenalkan, dan mempertahankan keyakinan yang bersumber dari Allah Ta’ala nasibnya  berujung pada kematian. 

Di mata manusia yang penuh tipu daya dan jauh dari tuntunan syariat Allah, kelelahan-kelelahan yang dirasakan oleh para pejuang agama Allah itu sepertinya sia-sia saja. Tapi, benarkah setiap kelelahan itu tak terbayarkan? Allah Maha Adil dan Melihat setiap kelelahan yang dilakukan dengan keikhlasan.

Di antara balasan yang dijanjikan Allah SWT kepada para pembela agama-Nya itu adalah, pertama, diberi pahala yang besar. "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. al-Maidah [5]: 9).

Kedua, diberi kehidupan yang layak. “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. an-Nahl [16]: 97).

Ketiga, diberi tambahan petunjuk. “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (Qs. Maryam [19]: 76).

Keempat, dihapuskan dosa-dosanya. “Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Qs. al-Ankabut [29]: 7).

Kelima, dimuliakan hidupnya. “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Qs. al-Isra’ [17]: 70).

Keenam, dijauhkan dari kegagalan. ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. al-Ashr [103]: 1-3).


Lelah Berpahala

Siapa pun kita, selama kita telah mengikrarkan diri menjadi seorang Muslim, maka setiap gerak langkah kita akan bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala, dengan syarat setiap kebaikan yang kiat lakukan itu (walau hanya seberat debu), yang terpenting adalah Lillah (karena Allah semata). 

Hanya perbuatan (amaliyah) yang Lillah saja yang akan berbuah pahala kelak di sisi Allah Ta’ala. Sebaliknya, perbuatan yang tidak dilakukan karena Allah, maka pasti akan sia-sia.

Tentang segala kelelahan hidup yang dirasakan oleh setiap Muslim, Nabi SAW pernah bersabda, “Tidaklah rasa lelah, rasa sakit (yang terus menerus), kekhawatiran, rasa sedih, gangguan, kesusahan yang menimpa seorang Muslim sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan musibah tersebut.” (HR. Bukhari Muslim)

Subhanallah …

Betapa indahnya kehidupan seorang Muslim. Betapa pun banyak kelelahan yang dirasakannya, semua itu akan bernilai pahala dan berbuah pengapusan segala dosanya selama ia menerima ujian itu dengan Lillah (karena Allah). Inilah konsekuensi hidup seorang Muslim. Apa pun yang terjadi dan dialaminya, selama ia bisa menerimanya dengan Lillah, maka semua itu akan menjadi wasilah (jalan) baginya untuk mendapatkan berjuta kebaikan dari Allah Ta’ala.

Ada satu rahasia agar untuk menjalani hidup ini agar kita bisa Lillah meskipun harus berlelah-lelah. Inilah sabda Nabi SAW yang bisa dijadikan motivasi agar setiap Muslim senantiasa mendapatkan kebaikan dunia akhirat.

Nabi SAW bersabda, “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Ingatlah Allah disaat lapang, niscaya Allah akan mengingatmu di waktu sempit. Ketahuilah bahwa apa yg ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kemudahan itu bersama kesulitan dan jalan keluar itu bersama kesusahan.” (Hadis Arba’in 19)

Ujian bagi seorang Muslim yang beriman merupakan ‘hadiah’ dari Allah sebagai tanda cinta Allah kepadanya. Hanya dengan ujian semata, iman seorang Muslim akan tampak. Di saat ujian itu datang, totalitasnya dalam berdoa, bertawakal kepada Allah akan terasa. Di saat itu pula ia akan merasakan tak ada satu kekuatan pun selain kekuatan dari Allah Ta’ala. Hal ini seperti yang dikatakan ulama salaf berikut.

“Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian, di saat totalitas dalam berdoa, tapi belum melihat pengaruh apapun dari do´anya. Ketika ia tetap tidak mengubah keinginan dan harapannya meski sebab-sebab untuk putus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih baik untuk dirinya.” (Ibnu Jauzi).

Jadi, jalani hidup ini dengan Lillah, sebab hanya dengan Lillah, kelelahan akan berbuah pahala.(www.tsaqofah.com) 


Posting Komentar

0 Komentar