Benarkah Menyontek Berarti Membantu Orang Tua?


(Ahmad Zubaidi: istimewa)

Oleh KH. Ahmad Zubaidi, Amir Majelis Tarbiyah Pusat, Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

Kasus menyontek memang bukan barang baru dalam dunia pendidikan kita. Entah sejak kapan praktek contek menyontek itu mulai marak. Dari tingkat sekolah dasar, menengah bahkan sampai perguruan tinggi, beredar ungkapan “menyontek berarti membantu orang tua, atau kalau di perguruan tinggi, posisi menentukan IP (Indeks Prestasi)”, yang seakan menjadi dalil pembenar praktek tersebut.

Ketika Ujian Nasional (UN) tingkat dasar dan menengah diselenggarakan, beberapa oknum siswa dan orang tua berusaha mencari bocoran termasuk kunci jawabannya. Berapapun harga, mereka siap membayarnya. Yang penting lulus.

Sementara, di tempat lain juga beberapa kali tersiar kabar, seorang master dan doktor yang lulus dengan tesis dan desertasi hasil plagiat. Bahkan, sempat sersiar kabar seorang rektor di suatu perguruan tinggi dipecat karena melakukan  praktek jual beli ijazah pasca sarjana dan mengizinkan mahasiswanya melakukan plagiat.

Ada satu kejadian yang cukup mengejutkan. Di sebuah sekolah, sejumlah siswa mendapatkan pelajaran tambahan dari gurunya dengan biaya yang disepakati. Siswa-siswa tersebut sebenarnya cukup berprestasi, tetapi guna mempertahankan prestasinya tetap meminta pelajaran tambahan.

Pada saat UN berlangsung, para siswa menempuh ujian dengan tenang dan santai. Tetapi ada yang mengejutkan, ketika hasil ujian diumumkan, siswa-siswa tersebut dinyatakan tidak lulus semua.

Kontan saja, para siswa dan orang tua yang bersangkutan kecewa berat. Mereka mencoba melacak penyebabnya. Ternyata ketika menjawab soal ujian, mereka mendapat kunci jawaban dari guru lesnya, tetapi kunci jawaban itu beda seri dengan soal yang dikerjakannya. Akhirnya, guru les itu dipecat dari jabatannya, padahal ia seorang guru yang sudah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kasus yang serupa juga pernah pula terjadi sebuah sekolah favorit. Oleh sebuah instansi tertentu, sekolah itu diberi sejumlah dana untuk membuat kantin kejujuran (kantin tanpa penjaga). Setiap siswa yang akan membeli barang yang tersedia, setelah mengambil barang, mereka diperintahkan memasukkan uang ke kotak yang telah tersedia tanpa dijaga oleh penjaga kantin.

Awalnya, program itu berjalan baik, tetapi setelah beberapa bulan dievaluasi, uang yang terkumpul tak sesuai (kurang) dibanding barang yang terambil. Bahkan sampai suatu hari barang dagangan habis sementara tidak ada uang terkumpul di kotak pembayaran. Memprihatinkan!

Apakah mungkin ketidakjujuran saat para siswa menempuh pendidikan ada korelasinya dengan mentalitas korup para pejabat di negeri ini, baik yang tertangkap atau yang belum?
Diberbagai bidang di negeri ini rasanya kita perlu melakukan penelitian tentang kejujuran. Setidaknya, manfaat yang bisa diambil dari hal itu, kita bisa jadikan bahan renungan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang agar lebih baik, terutama dalam hal kejujuran.

Gelang Biru Kejujuran

Ada yang membanggakan di sebuah SMA negeri favorit di provinsi Yogyakarta, yaitu SMAN 3. Sejak tahun 2015 lalu, dipelopori sejumlah siswa yang tergabung dalam SKI (Seksi Kerohanian Islam), mereka membuat program yang dinamakan “Gelang Biru”. Gelang itu menjadi tanda kejujuran saat menempuh ulangan.

Mereka melakukan hal itu karena terdorong pembinaan guru-guru dan para alumni melalui pendidikan karakter. Dari hasil renungan dan diskusi di antara mereka disimpulkan bahwa para siswa ingin mendapatkan keberkahan ilmu yang dipelajari melalui sekolahnya. Kata kunci yang disimpulkannya adalah “kejujuran” dalam segala aspek kehidupan, salah satunya adalah mereka harus jujur saat penentuan prestasi dalam sesi ulangan. Sebagai symbol, mereka kemudian menunjukkan hal itu dengan memakai gelang biru sebagai tanda kejujuran.

Teknis yang ditempuh adalah siapa saja (siswa) yang dengan kesadaran penuh ingin jujur saat ulangan dengan tidak menyontek, tidak saling membantu, tidak mencari bocoran soal dan kuncinya, maka disiapkan gelang biru di kelas dengan jumlah yang cukup. Siswa secara suka rela mengambil dan mengenakannya saat ulangan berlangsung sebagai tanda ia ingin bersungguh-sungguh jujur dalam menjawab soal ulangan yang sedang dihadapinya.

Setelah melakukan sosialisasi melalui berbagai media di sekolah beberapa bulan sebelum ulangan, awalnya beberapa anak saja terutama para pegiat SKI yang mengambil gelang biru tersebut dan mengenakan di tangannya saat ulangan berlangsung. Mereka benar-benar mempraktekkan kejujuran itu dengan segala akibatnya. Misalnya ia harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan penuh keseriusan sehingga tidak mengalami gagal paham terhadap materi ajar yang sedang dipelajari.

Mereka juga berusaha mendapatkan kefahaman lebih melalui belajar dari internet, belajar kelompok dan mentoring di dalam/luar sekolah. Mereka tidak kecewa dan tidak iri jika ia sudah bersungguh-sungguh dalam belajar, ternyata  mendapat nilai lebih rendah dibanding siswa yang tidak jujur.

Dengan cara itu, semakin hari semakin banyak siswa yang mengikuti program gelang biru itu sehingga tumbuh kembang rasa tanggung jawab dan percaya diri pada siswa di SMA itu.
Bagaimana dampak yang dirasakan para guru-gurunya? Tentu para guru semakin senang kepada  siswanya, saat KBM mereka harus lebih siap, karena tak jarang siswa yang sudah lebih tahu sebelum guru mengajarkannya. Ketika ulangan berlangsung, mereka tak harus memelototi siswa dan mengawasinya dengan ketat.

Ada yang membanggakan dari sekolah itu, pada saat UN berlangsung, ada seorang siswa yang mendapatkan bocoran soal ujian. Kemudian siswa itu melapor kepada yang berwajib. Atas kejujurannya, lembaga anti rasuah, KPK sampai datang ke sekolah tersebut memberikan penghargaan atas kejadian itu.

Bagaimana dampak yang dirasakan sekolah? Kepercayaan masyarakat kepada sekolah itu semakin tinggi. Hal itu ditandai dengan banyaknya orang tua yang berebut mendaftarkan anak-anaknya agar bisa diterima di sekolah itu.

Mereka berkeyakinan, di SMA 3 prestasi anaknya akan terpelihara, karena adanya pendidikan kejujuran yang bagus yang tidak didapatinya di sekolah lain. Setiap akhir tahun, prestasi  tertinggi di kota tersebut selalu diraih SMA 3 Yogyakarta ini, bahkan se Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Bagaimana  nasib “Gelang Biru“ setelah berjalan empat tahun? Apakah masih konsisten? Apakah ada sekolah lain yang mengikuti dan mengembangkannya? Untuk di SMA 3 Yogyakarta masih konsisten sampai sekarang. Adapun di sekolah lain, sepengetahuan penulis belum ada.

Pondok Pesantren Al-Fatah sebagai sebuah lembaga pendidikan berciri khas Islami tentu harus menjadi pelopor dalam hal kejujuran ini.  Bukankah kejujuran inti pendidikan dalam Islam?

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasalam diberi gelar Al-Amin dan sahabat terdekatnya, Sayidina Abu Bakar bergelar As-Shidiq itu semua karena kejujuran.

Sebuah kisah yang cukup populer di kalangan pesantren yaitu kisah Syeikh Idris, ayahanda Imam Syafi’i saat masa remaja menjelang dewasa. Ketika berada di sungai, ia mendapatkan buah yang terbawa air, lalau dimakannya. Setelah itu, ia sadar bahwa buah itu bukan miliknya yang haram dikonsumsi tanpa meminta kehalalan dari pemilik pohon yang buahnya jatuh dan terbawa air itu.

Ia kemudian menelusuri sungai tersebut. Ketika menemukan pohon buah yang dimaksud, ia segera mencari pemiliknya untuk minta keridhaan. Akhirnya bertemulah ia dengan pemilik pohon buah yang dimaksud. Dengan merendahkan diri ia mengiba agar berkenan menghalalkan buah yang telah terlanjur dimakannya.

Akhirnya, pemilik pohon mau menghalalkan dengan syarat ia mau bekerja tanpa dibayar selama dua tahun dan bersedia dinikahkan dengan anak perempuannya yang tuli, bisu, buta dan lumpuh. Demi mendapatkan kehalalan buah yang hanya satu biji itu, yang telah terlanjur dimakannya, ia menerima syarat itu.

Setelah akad nikah dan bertemu istrinya (putri dari bapak pemilik kebun itu), ternyata anaknya sangat cantik, sholehah dan tidak cacat seperti yang dulu diceritakan si pemilik pohon. Akan tetapi, ia heran mengapa putri secantik itu dikatakan tuli, bisu, buta dan lumpuh?

Sang ayah kemudian menceritakan, ia berkata putrinya lumpuh karena lebih banyak di rumah dan tidak suka pergi ke luar rumah kecuali untuk hal yang baik. Begitu pula dikatakan buta karena tidak pernah melihat maksiat, dikatakan tuli karena tidak pernah mendengar yang buruk-buruk, dan dikatakan bisu karena tidak pernah berkata-kata kotor. Dari pernikahan itulah lahir Imam Syafi’i rahimahullah.
 
Dari kenyataan di atas maka kita bisa menentukan jawaban yang benar, apakah ketidakjujuran dalam pendidikan benar-benar membantu orang tua? Ataukah kejujuran yang justru membantu dan membuat mereka bangga dengan putra/putrinya?

Allah Subhanahu wa ta‘ala telah memberi petunjuk yang pasti benarnya pada surah At-Taubah, ayat 119, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Selamat mengembangkan pendidikan kejujuran dengan aneka metode, gelang kejujuran telah membawa bukti. Semoga ilmu generasi yang akan datang lebih barokah, aamin. (ed: Ba)

Posting Komentar

0 Komentar