Abdullah Zaini, “Hidup itu ibadah, apapun yang kita lakukan niatkan semua untuk beribadah”


TSAQOFAH.COM - Hidup itu pilihan. Hidup bukan hanya sekedar mementingkan dunia, tapi juga akhirat. Hidup tidak milik seorang diri. Hidup merupakan sebuah kebersamaan, dimana adanya sebuah harapan untuk berubah dan memperbaiki lingkungan sekitar. Keberadaan seseorang bisa saja bisa merubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik atau bahkan menjadi buruk.

Begitu juga dengan Abdullah Zaini, pria kelahirann Demak, 2 Juli 1969 yang kini mendapat amanat menjadi seorang Mudir (pimpinan) di Pondok Pesantren (ponpes) Shufah Hizbullah Meranggen, Demak, Semarang itu terus memperjuangkan pesantren agar lebih baik lagi. Ia terus berusaha agar perjuangannya itu semata-mata karena Allah.

Perjalanan pendidikan

Berawal dari kelulusannnya di Sekolah Dasar (SD) pada 1982, ia mulai menghabiskan waktunya untuk belajar mengaji dan mengkaji kitab-kitab di Shuffah Hizbullah Meranggen yang didirikan oleh Amir Tarbiyah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah), alm  KH. Abdullah Fadlil Ali  Siradj, pada 1979. Awalnya, ia ingin melanjutkan pendidikannya ketingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), tapi orang tuanya tidak mengizinkan karena sebuah amanat dari alm Ustad Fadil yaitu pendiri pesantren tersebut.

“Sewaktu lulus SD awalnya saya berniat akan melanjutkan sekolah saya di SMP, tapi karena amanat ustad Fadil yang meminta saya untuk sekolah di pesantren sehingga orang tua saya pun tidak mengizinkan saya untuk melanjutkan ke SMP,” kenangnya.

Tidak bisa dipungkiri, Shufah Hizbullah Meranggen adalah ponpes yang pertama kali yang berdiri dilingkungan Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Dengan penuh sabar, seraya mendengar dan taat, Abdullah Zaini menjalankan pendidikannya di pesantren tersebut selama enam tahun, dan akhirnya ia mendapatkan ijazah setara dengan lulusan Madrasah Aliyah (MA).

Selepas aliyah, ia ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke Lembaga Pendidikan Islam dan Arab (LIPIA), tapi keinginannya itupun harus ia tahan lagi, hingga ia memutuskan mendaftar kuliah di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ)  di Wonosobo.

Qadarullah, pada saat yang sama datanglah sebuah surat kawat dari Gubernur setempat yang berisikan tentang beasiswa perguruan tinggi yang akan dibiayayai oleh daerah, dan pada akhirnya dialah yang mendapatkan beasiswa tersebut.

“Awalnya saya memang berniat ingin melanjutkan pendidikan saya di LIPIA tapi tidak jadi, sehingga akhirnya saya mendapat beasiswa IIQ di Wonosobo,” ujarnya.

Tidak sampai disitu, saat perjalanan menuntut ilmunya di IIQ itu, ia masih mendapaat sedikit hambatan. Ya sudah jelas tentu ia masuk ke perguruan tinggi tersebut dengan menggunakan ijazah yang ia dapaatkan dipesantren, alias ijazah pesantren, setelah dua tahun lamanya ia mengenyam pendidikan ditempat itu ternyata ada peraturan yang mengharuskan mengikuti ujian negara jika ingin lulus, dan syarat dari ujian negara tersebut harus memiliki ijazah dari sekolah negeri.

Mau tidak mau, suka tidak suka jika ia ingin lulus dari perguruan tinggi terssebut ia harus menuruti aturan, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti ujian formal di salah satu MA negri, dan itupun ia lakukan tanpa persiapan, ia hanya ikut-ikutan saja dalam ujian tersebut, tapi ia tetap tercatat sebagai murid disekolah tersebut walau selama ini ia tidak mengikuti pendidikan yang seharusnya tiga tahun dijalani. Pada akhirnya ia lulus dari ujian formal di MA negri tersebut.

“Karena salah satu syarat kelulusan dari perguruan tinggi tersebut adalah dengan ijazah negeri, maka saya harus mengikuti ujian formal di MA negeri, alhamdulillah saya lulus,” tambahnya.

Setelah ia mengikuti ujian negri di tingkat MA, ia harus mengejar ujian negara di perguruan tingginya, meski sudah tertinggal jauh oleh teman-temannya, namun ia tetap bersemangat mengerjakannya, sehingga membuat ia  lulus dengan prestasi terbaik di fakultas yang ia ambil, yaitu Fakultas Dakwah dengan nama jurusan Penerangan dan Penyiaran Agama Islam (PPAI), pada waktu itu jika sekarang sering digunakan dengan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

“Saya memang sudah tertinggal jauh dari teman-teman waktu ujian negara, teman-teman saya sudah selesai namun saya baru mau mengerjakan, tetapi saya yakin dan saya terus mengerjakan dengan percepatan (mengambi semua ujian negara), Alhamdulillah saya lulus dengan nilai terbaik di fakultas Dakwah waktu itu,” tuturnya.

Ia yang selalu mengingat-ingat perkataan gurunya, alm ust Fadil, “Jika kita memegang Al-Qur’an, maka Allah akan mudahkan” ucapan itu selalu ia ingat dan amalkan. Ia selalu yakin bahwa dengan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, Allah akan menolongnya dimanapun berada. Terbukti dengan berjalannya waktu itu dan sekarang. Dengan keyakinannya yang sangat kuat dan semangat tinggi ia bisa melewati segala rintangan yang dihadapi ketika menuntut ilmu.

Perjalanan Mengajar

Tidak dipungkiri lagi Abdullah memang berprestasi di Fakultas Dakwah, sehingga setelah dinyatakan lulus ia langsung diminta untuk mengajar dikampus tersebut, memang kalau diurut-urutkan mungkin orang akan curiga dengan urutan ijazahnya, jika tidak mengetahui prjalanannya dalam menuntut ilmu.

“Setelah saya dinyatakan lulus, saya mendapat kesempatan untuk mengajar disana, tetapi memang jika dilihat-lihat dan diperhatikan orang-orang akan curiga dengan ijazah saya jika tidak tahu proses perjalanannya,” paparnya.

IIQ yang sekrang menjadi Universitas Ilmu Al-Qur’an disitulah ia mengabdi, tapi peraturannya jika ingin menjadi dosen maka ia harus melanjutkan pendidikannya di S2, hingga akhirnya ia melanjutkan di Universitas Islam Malang (UNISMA), Malang, mengambil jurusan pendidikan, dengan proses yang begitu panjang hingga akhirnya ia lulus pada 2002.

“Sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan S2nya di Timur Tengah, tapi lagi-lagi takdir berkata lain, akhirnya saya melanjutkan di UNISMA Malang,” kenangnya.

Perjalanan Menjadi Mudir

Pada 2009 ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Meranggen dan menajar di Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK). Ia menggelutinya selama empat tahun, tapi pada November 2013 kesedihan yang sangat mendalam ia rasakan dengan perginya seorang guru yang sangat dicintainya, yaitu KH. Abdullah Fadlil Ali  Siradj ia pergi untuk selama-lamanya.

Namun, kesedihan yang ia rasakan itu justeru menjadi sebuah semangat baru dalam hidupnya, dengan perginya seorang guru besar yang selama ini ia sayangi membuatnya bertekad untuk melanjutkan perjuangannya dengan mendirikan kembali Shufah Hizbullah Meranggen. Kala itu, bukan hanya ia yang merasa kehilangan sang guru, tapi juga semua alumni pesantren tersebut yang pernah merasakan tempaan sang guru pun merasa kehilangan.

Dengan tekad kuat ia mengadakan pertemuan dengan para alumni dari Shufah Hizbullah Meranggen, walau sebenarnya ia mengaku tidak banyak mengenal para alumni pesantren Meranggen karena ia sudah lama meninggalkan pesantren tersebut untuk menuntut ilmu ditempat yang berbeda.

Abdullah yang mendapat amanat sebagai Mudir di ponpes Shuffah Hizbullah Meranggen pada 2014 lalu itu memiliki pedoman hidup “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan setiap hari harus ada peningkatan”.

“Karena menjadi Mudir ini adalah amanat, jadi saya cukup mendengar dan mentaatinya (sami’na wa ato’na) saja, saya lebih suka ngajar, tetapi tetap tidak bisa ditangani sendiri harus ada yang membantu,” jelasnya.

Menurutnya, mengajar adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan. Mengajar seperti sudah menjadi bagian dari hidupnya, karea sangking hobinya dalam menggeluti dunia ajar mengajar sampai-sampai ia merasa rindu terhadap murid-muridnya dan merasa ada yang tidak terselesaikan dalam hidupnya jika tidak ngajar.

“Jika saya ada amanat yang mendesak dan terpaksa tidak ngajar, saya merasa kangen dengan anak-anak, dan seperti ada yang kurang dalam hidup saya, seperti ada yang tidak terselesaikan,” ungkapnya bahagia.

Menurutnya, menjadi seorang mudir juga menjadi sebuah beban moral tersendiri, bagaimana tidak, tujuannya sangat kuat untuk menjadikan pesantren maju dan berkualitas, terbukti dengan kerja kerasnya dalam mendidik para santri. Santri di pesantren yang ia pimpin kini jumlahnya masih sedikit, tetapi tujuannya adalah ingin menjadikan seluruh santri sebagai orang yang benar-benar alim dan menjadi ahli kitab yang sebagaimana diamantkan para wali santri.

“Sekarang para santri masih sedikit, jadi masih mudah ditangani, tetapi jika nanti santri sudah banyak, butuh bantuan untuk mendidiknya,” tambahnya.
  

(Neni Reza/ba)

Posting Komentar

0 Komentar