Abdul Qohar, “Wahai Pemuda, Islam Tidak Dibangun dengan Tidur”

(Foto: istimewa)

Hanya mengharap ridha Allah, itulah yang terus terngiang di benak sosok sederhana yang sehari-hari pernah membersihkan area masjid At Taqwa, Pesantren Al Fatah Bogor. Umurnya memang tak lagi muda, tapi tak membuat Abdul Qohar,  kakek berumur 72 tahun itu patah semangat dalam berbuat kebaikan; dimana dan kapan pun berada. Berbagai rintangan ia lalui untuk terus menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran sebisa dan semampunya.

Tsaqofah.com - Siapa sangka, ayah 7 anak itu sebelumnya pernah memeluk agama Kristen dan sekolah di sekolah Kristen. Namun, setelah menemukan indahnya hidayah Islam, ia berusaha istikomah di jalan-Nya. Saat era Orde Baru (orba) ia mulai mengenal kembali Islam sebenarnya dari kedua orangtuanya.

Di masa orba, semua aktivitas keislaman selalu diawaasai. Katanya, jika ada orang yang berkumpul lebih dari tiga saja, maka mereka harus bersiap dicurigai, ditangkap aparat. Bahkan, ibu-ibu yang sedang mengajipun bisa dipukul dan ditendang. Dengan kondisi seperti itu, Pak Qohar mulai tersentuh. Ia berfikir kedua orangtuanya yang sudah tua saja rela disiksa dan menghadapi segala resiko  untuk terus istikomah mengamalkan syariat. Lalu, mengapa dia yang masih muda malah takut menghadapi semua resiko dakwah.

Atas kehendak Allah, sekitar tahun 1977-1979 ia menetapi Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Lalu, diminta untuk mengembangkan Jama’ah Muslimin di Bandung. Sekitar tahun 1980 ia sering bolak-balik Cileungsi (Bogor) -Bandung  untuk membantu membangun Pesantren Al Fatah. Karena aktivitasnya bolak balik Bandung Bogor, akibatnya ia ditangkap aparat, dicurigai sebagai Jama’ah Imran, yang kala itu memang sedang menjadi incaran aparat karena membakar polsek.

Menurutnya, menetapi Jama’ah Muslimin bukan berarti ia tak menerima ujian. Bahkan, ujian yang tak kalah hebat justeru datang dari keluarga istrinya. “Saat itu, jika saya mau mencari kekayaan dunia, maka bukan hal sulit. Keluarga istri saya orang berada. Mereka akan memberi saya tanah seluas 8 hektar, kendaraan serta rumah jika saya mau meninggalkan Jama’ah Muslimin,” katanya.

“Saya lebih baik tidak tidur beralaskan kasur, dari pada harus meninggalkan Jama’ah yang saya yakini kebenarannya ini,” ujar suami dari Sulasih itu mengenang. Allah mengujinya lagi, sebelum Pak Qohar pindah ke Cileungsi, ia ditangkap Kodim. Di saat yang sama, istrinya melahirkan dan anaknya meninggal. Ia harus menguburkan anaknya sendiri, sebab tak satu pun tetangga yang mau membantu pemakaman anaknya karena mereka membenci keluarga Pak Qohar.

Pak Qohar membawa hijrah anak dan istrinya ke Shuffah Cileungsi, pusat Jama’ah Muslimin.  Walaupun harus tinggal di ruangan sempit 2 x 2,5 meter tak membuatnya patah semangat tuk membantu membangun pesantren Al Fatah  bersama jamaah lainnya yang juga datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Kolam Kemusyrikan

Dulu, di sekitar Ponpes Al Fatah terdapat sumur dan kolam yang dikeramatkan dan tidak ada yang berani mengambil atau mengonsumsi ikan yang berada di kolam. Sumur itu sering dipakai untuk sesembahan oleh warga sekitar. Hampir setiap tahun diadakan Wayang Golek dan ritual di sumur juga kolam keramat tersebut.

Melihat kemusyrikan di depan matanya, Qohar berfikir bagaimana caranya agar kemusyrikan itu musnah. Tanpa pikir panjang, ia menguras kolam itu dan mengambil semua ikannya untuk di makan. Setelah kolam itu kering,  tak ada lagi orang percaya dengan sumur dan kolam keramat itu. Ia sangat bersyukur sebab kemusyrikan dengan izin Allah sudah bersih dari sekitar Ponpes Al Fatah.

“Saya bersyukur juga karena tidak ada yang tahu jika yang menguras kolam dan sumur itu adalah saya. Saat itu saya hanya tawakal kepada Allah. Apa pun yang terjadi saya sudah serahkan kepada Allah. Yang pasti niat saya ingin menghilangkan kemusyrikan di sekitar pesantren ini,” katanya mengenang.

Menggagalkan Misionaris

Pria yang punya skil memijat itu juga, pernah menjadi relawan bencana tsunami Aceh 2004 lalu. Pak Qohar diberangkatkan dari Cileungsi bersama dengan enam puluh relawan lainnya. Ia beserta kelompoknya bertugas mengevakuasi daerah bencana sekitar 15 kilometer dari Masjid Baiturrahman dan bermarkas di Masjid Darussalam.

Suatu hari, saat sedang berjaga-jaga, tiba-tiba datang sekelompok orang Nasrani dengan kalung salib di leher. Tiba-tiba memasuki masjid tanpa melepas alas kaki. Melihat hal itu, temannya segera mengusir orang-orang asing itu dari dalam masjid. Rupanya, setelah diusir mereka tidak pergi. Sebaliknya, melangkah menuju lapangan tempat bermain anak-anak. Orang-orang asing itu lalu mendekati anak-anak. Satu di antara mereka terlihat seperti sedang membujuk anak-anak itu sambil memberikan minuman.

Sepertinya orang-orang itu adalah sekelompok misionaris. Benar saja, beberapa saat setelah anak-anak itu menegak minuman yang diterima, tiba-tiba mereka langsung lemas seperti tak bertenaga. “Saya sejak tadi memperhatikan tambah curiga. Hati saya sakit melihat anak-anak itu dicekoki minuman yang tidak jelas kandungannya apa. Sebaliknya setelah minum, malah anak-anak itu jadi lunglai,” ujar Qohar.

Pandangan dihadapannya itu semakin membuat hatinya marah. Sebab anak-anak yang sudah terlihat lunglai itu diajak para misionaris itu masuk ke mobil. Menurutnya, anak-anak itu digiring dalam keadaan lemah. Tanpa pikir panjang, ia lalu melaporkan kejadian di depan matanya kepada ketua relawan. Bersyukur, para relawan sigap dan langsung menuju tempat kejadian. Bersyukur anak-anak itu berhasil diselamatkan dari tangan para misionaris.

“Sejak awal saya curiga dengan gerak-gerik para misionaris itu. Saya tadinya tidak tahu jika mereka misionaris. Tapi setelah melihat kalung salib di lehernya yang menjuntai, saya baru tahu pasti mereka ini punya niat jahat. Dan benar saja, mereka berniat membawa anak-anak korban tsunami untuk di baptis,” ujar Qohar.

Ditangkap GAM

Menjadi relawan gempa dan tsunami di Aceh bukan tanpa resiko. Tak jarang saat Qohar melakukan evakuasi pasca gempa dan tsunami, sesekali masih sering terjadi gempa. Bukan hanya itu, selama menjadi relawan di Aceh, ia juga pernah ditangkap GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Penangkapan atas dirinya itu terjadi saat ia akan mandi bersama temannya. Ia diinterogasi, dicurigai sebagai anggota TNI sebab teman-temannya memakai pakaian loreng ala tentara. Namun, karena kecurigaan atas dirinya itu tak terbukti, ia dibebaskan. Selama sebulan menjadi relawan di Aceh, ia tidak hanya mengevakuasi mayat tapi juga membantu memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak berat.

Hanya mencari ridha Allah, kalimat itulah yang terus memotivasinya untuk mencegah kemungkaran dan membantu sebisa yang ia lakukan. Ia berprinsif, jika ada kemungkaran, maka sebagai umat Islam wajib untuk memberantasnya. “Jika kita membiarkan kemungkaran itu, maka kita akan mendapatkan dosa karenanya,” katanya.

Lelaki kelahiran Bandung ini, menitipkan pesan kepada para pemuda Muslim, agar bangun dari tidur. “Bangun...bangunlah wahai pemuda. Islam ini dibangun bukan dengan tidur. Banyak hal yang bisa dilakukan para pemuda untuk membangun Islam ini,” tegasnya.

Di matanya, seorang pemuda muslim itu harus berani. Berani untuk mengatakan yang benar adalah benar dan yang batil (salah) adalah salah. Berani mencegah nahi munkar. Menurutnya, Allah akan membantu setiap orang yang membantu agama-Nya. Ia mengutip ayat al Qur’an dalam surat Muhammad ayat 7 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah. Niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu di muka bumi ini.”

“Allah akan menolong kita, karena kita menolong agama Allah. Jika kita akan berjuang hendaknya dengan sepenuh hati. Bersih hanya untuk Allah, jangan setengah-tengah, maka hasilnya akan memuaskan,” ujarnya.

(Lu’lu’ Fitroh Islami/Bahron A).



Posting Komentar

1 Komentar

  1. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan untuk abah Qohar .. .

    BalasHapus