Yahudi yang Merindukan Muhammad SAW



Oleh Fatimah SF*

Tsaqofah.com - Seorang Yahudi merasa bingung, sudah dua kali dari sejak kemarin ia membuka kitab sucinya ada nama "Muhammad" yang di hapusnya, tapi selalu muncul kembali esok harinya, dan hari ini adalah hari ketiga ia melihat nama yang ia tidak sukai ada di dalam kitab sucinya itu.

Lalu, ia bergumam, "Apakah ini utusan pilihan itu?" Tanpa menunda ia segera melakukan perjalanan ke Madinah. Ia yakin, nama itu biasanya berasal dari sana.

Sampainya di Madinah, diam-diam ia mendekati masjid. Tak ada satupun dari kaum muslimin di sana menyadari kehadirannya. Tiba-tiba lewat sahabat Anas bin Malik ra. Orang Yahudi itu menghampirinya dan berkata, "Wahai teman, bisakah kau antarkan aku pada Nabimu?"

Sahabat Anas ra hanya terdiam, lalu mengantarkan orang itu ke dalam masjid. Di masjid itu, berkumpul kaum muslimin dan para sahabat terdekat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Kemudian orang itu menghampiri Abu Bakr ra, ia mengira beliaulah Nabiyallah sambil berkata, "Wahai utusan pilihan Tuhan, orang tua yang tersesat ini datang untuk damai."

Mendengar itu, tiba-tiba kaum muslimin seisi masjid menangis. Melihat itu, orang Yahudi itu kebingungan, lalu berkata, "Apakah aku salah bicara? Apakah seharusnya aku diam saja? Apakah ini acara ibadah kalian? Atau jika ini sebuah upacara, sungguh aku belum pernah menyaksikan yang seperti ini?"

Umar ra kemudian berkata, "Kesedihan kami ini bukan karena ulahmu atau kata-katamu, tapi ketahuilah wahai orang yang malang, sesungguhnya orang yang kau cari itu telah meninggal beberapa hari yang lalu, dan setiap kami mendengar tentangnya atau namanya kami akan langsung menangis dengan kesedihan kami semula."

"Aku hanya seorang Yahudi yang datang dari jauh, yang ingin berjumpa dengan utusan pilihan Tuhan. Bolehkah aku memiliki jubahnya? Sungguh, aku tidak dapat menjumpainya setidaknya aku dapat memakai jubahnya," pinta Yahudi itu memohon.

"Jika kau menginginkannya, hanya Fatimah yang dapat memberimu hal itu," kata Umar ra. Namun, Ali ra mencegahnya, "Fatimah sedang tidak ingin ditemui oleh siapa pun karena ia sedang berduka."

Namun, pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Fatimah. Ketika pintu terbuka, mereka langsung menceritakan semua kejadian tadi kepadanya. Mendengar itu, Fatimah lantas berkata, "Sungguh, Rasulullah benar. Beliau berkata kepadaku sebelum meninggal, akan datang nanti seorang pejalan kaki yang datang dari jauh hanya ingin berjumpa denganku. Ia belum pernah melihatku, tapi dia datang karena cintanya kepadaku, maka jika ia datang berikan jubah tambalanku ini kepadanya, perlakukan dia dengan baik untukku dan sampaikan salamku untuknya."

Lalu, Fatimah memberikan jubah itu kepada orang tua tersebut yang langsung dipakainya, kemudian masuk Islam, dan ia meminta diantarkan ke makam Rasulullah di tempat dimana beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. (ba/tsaqofah.com)

*Mahasiswa STAI Al Fatah smester III


Posting Komentar

0 Komentar