Ulama Besar yang Fakir



Tsaqofah.com - Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran, tapi itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu. Lihatlah sikap seorang ulama besar Islam bernama al-qadhi Abu Abdillah Syarik Ibnu Abdillah an-Nakha’i al-Kufi. Dia adalah salah seorang ulama besar pada zamannya (Tarikh Baghdad 9/288, al-Khatib al-Baghdadi).

Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya di pagi hari. Ia disambut oleh al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian, sembari membawa bubur. Kemudian sahabatnya itu berkomentar, “Engkau telah banyak menyelesaikan masalah hukum, namun keadaanmu masih seperti ini.”

Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silahkan duduk, duduklah!” Keadaannya yang seperti itu tidak membuatnya mengurungkan diri melayani sahabatnya. Mereka tetap mengobrol dengan asyiknya membicarakan satu permasalahan dari satu bab fikih nikah.

Apa yang dialami Al-Qadhi, dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka dihadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).

Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman, selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeserpun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), namun ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’nya, maka ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan. Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang, sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).

Kefakiran juga pernah dialami oleh Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu.  Umar  Ibnu  Hafsh  al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka. Lalu mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Ia telah kehabisan bekalnya dan tidak ada satupun yang tersisa darinya. Kemudian mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya. Hingga ia kembali mengajarkan ilmu kepada mereka. (Tarikh Baghdad: 2/13, al-Khatib al-Baghdadi).

Suatu saat ia pernah juga dengan terpaksa memakan rumput-rumputan selama tiga hari karena kiriman uang dari keluarganya terlambat datang. Ia tidak menceritakan kepada seorangpun apa yang dialaminya. Hingga hari ketiga datanglah seseorang yang memberikan satu bungkus kain yang berisi beberapa dinar. (Hadyus Sari: 2/195, al-Hafidz Ibnu Hajar).

Lalu bagaimana dengan kondisi kita hari ini? Apakah kita pernah mengalami kondisi seperti para ulama panutan umat di atas? Pernahkah kita sehari saja lapar? Bisa jadi, sebagian kita hari ini selalu kenyang sementara masih banyak disekitar kita yang kelaparan. (Republika.co.id)

Posting Komentar

0 Komentar