Ini Rahasia Menjadi Guru Berkualitas


Menjadi guru adalah profesi mulia bahkan sangat mulia. Bagaimana tidak, dari guru seseorang bisa mengenal terangnya hidup. Guru adalah pembawa cahaya kemuliaan. Karena itu, menjadi guru, bukan sekedar berburu sertifikasi semata, tapi bagaimana berburu pahala di akhirat.

Tsaqofah.com - Meski guru adalah profesi mulia, tapi tak sedikit pula orang memandang sebelah mata pada profesi itu. Jika mau menalar pada tarikh Islam, maka Nabi Shallallahu 'alaih wasallam sendiri pun mempunyai seorang guru: Jibril AS adalah gurunya. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pun seorang guru bagi umat ini. Tentu saja disamping mengemban profesi-profesi yang lain.

Karena guru itu profesi mulia, setidaknya ada beberapa catatan yang bisa menjadi pegangan bagi seorang guru agar bisa sukses dalam mentransfer ilmu-ilmunya kepada para murid. Beberapa hal yang harus diperhatikan itu antara lain sebagai berikut.

1. Memperhatikan Pribadi Murid

Guru yang efektif dan profesional amat care (perhatian) pada pribadi para peserta didiknya dan menampakkan hal itu sehingga para peserta didik merasakannya. Perhatian personal seperti ini paling dapat dirasakan dari tatapan mata di antara guru dengan para pserta didiknya: tatapan mata perhatian dan suportif. Guru yang sungguh memerankan “caring” akan lebih sering memberikan peneguhan dan dorongan semangat. Karakteristik dari “caring” ini banyak bentuknya, seperti: kesabaran, kepercayaan, kejujuran dan keberanian; juga mendengarkan dengan empatik, memahami, mengenal masing-masing peserta didik secara individu, hangat dan penyemangat; dan di atas semuanya itu, cinta pada pribadi peserta didik.

a. Mendengarkan (Listening)

Guru yang efektif mampu mendengarkan penuh empatik, tidak hanya mendengarkan apa yang terjadi di dalam kelas, tetapi terlebih tentang kehidupan peserta didiknya secara umum. Sikap dan tindakan berarti menghargai tiap hal yang diungkapkan oleh sang peserta didik. Para pserta didik butuh perhatian dan pendampingan, dan mereka amat menghargai guru yang baik dan suka menyemangati. Dalam tindakan seperti itulah tampak bahwa guru itu sungguh care atau tidak terhadap peserta didiknya.

b. Memahami (Understanding)

Peserta didik sangat menghormati guru yang memahami apa yang menjadi masalah dan pertanyaan mereka. Hasil wawancara dengan pserta didik secara konsisten menampakkan bahwa para siswa ini menginginkan guru yang dapat mendengarkan keluh kesah, pemikiran, dan masalah mereka serta dapat membantu mereka mencari jalan keluar darinya. Para siswa merindukan sosok guru yang mengembangkan sikap saling menghargai antar guru-siswa, merindukan sosok yang berbagi tentang hidup pribadi dan pengalamannya. Guru yang siap sedia untuk siswa juga mendapatkan nilai penghargaan yang tinggi. Peserta didik ingin melihat guru sebagai pribadi yang autentik dengan perhatian dan empati yang tulus terhadap anak didiknya.

c. Mengenal Murid (Knowing Students)

Guru yang efektif dan care mengenal sungguh muridnya secara formal maupun informal. Dia menggunakan kesempatan untuk terus menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak didik. Dia tahu siswanya secara individual, tidak hanya mengerti masing-masing gaya belajar dan kebutuhan akademiknya, tetapi juga mengenal mereka secara personal, apa yang mereka suka atau tidak suka, situasi dirinya yang bisa jadi mempengaruhi perilaku dan penampilannya di sekolah. Guru yang efektif mengenal mereka pertama-tama sebagai person, baru kemudian sebagai siswa.

2. Menghargai dan Memperlakukan Secara Sama Masing-Masing Pribadi

Guru yang efektif mengerti sungguh bagaimana menjaga kredibilitas dirinya. la akan berusaha untuk menekankan nilai-nilai penghargaan dan perlakuan yang sama kepada tiap-tiap pribadi muridnya. Selain itu, la pun menjadi model dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Murid sangat menghormati guru yang memperlakukan mereka secara adil, tidak pilih kasih. Dan kalaupun ada anak yang bertindak keliru, akan lebih dihargai oleh siswa jika guru tidak menasihatinya di depan seluruh kelas atau di depan teman-temannya, melainkan ia berbicara berdua dari hati ke hati, lalu mengatakan apa yang keliru serta memberikan masukan untuk tindakan yang benar dan baik. Siswa sangat menghargai guru yang tidak membeda-bedakan mereka berdasarkan ras, latar belakang budaya, dan gender.

3. Interaksi Sosial dengan Murid

Interaksi sosial dengan siswa adalah kesempatan baik bagi guru untuk mengembangkan perhatian, perlakuan yang adil, dan rasa hormat pada anak didiknya. Kemampuan seorang guru untuk melakukan interaksi positif dan hubungan yang saling menghargai, sungguh memainkan peranan yang kuat dalam menumbuhkan suasana pembelajaran yang positif dan meningkatkan keberhasilan siswa. Kehadiran guru dalam kegiatan olah-raga, konser musik, atau acara-acara yang melibatkan partisipasi siswa, amatlah berharga bagi anak didik. 

Interaksi sosial yang konstruktif antara guru dan siswa tidak hanya memberi sumbangan positif terhadap proses pembelajaran dan pencapaian belajar murid, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri siswa dengan cara menumbuhkan dalam diri mereka rasa memilki kelas dan sekolah (sense of belonging). Dan melalui interaksi sosial seperti ini, guru dengan lebih mudah memberikan tantangan yang realistis kepada masing-masing siswa untuk meraih sukses.

4. Mendorong Antusiasme dan Motivasi untuk Belajar

Guru dapat dengan lebih efektif memotivasi murid dengan cara mendorong mereka untuk secara pribadi bertanggung jawab atas cara belajar, cara mengatur suasana kelas, menetapkan standar yang cukup tinggi, melontarkan tantangan-tantangan, ser­ta memberikan penguatan dan semangat dalam mengerjakan tugas-tugas. Siswa akan melihat sosok guru yang efektif seperti ini sebagai sosok pemimpin yang memotivasi. Meskipun sadar bahwa ada beberapa murid mungkin lebih suka duduk tenang, guru yang efektif tidak berhenti untuk terus memberikan moti­vasi dan melibatkan anak itu.

juga karena sadar bahwa tiap-tiap siswa punya level motivasi yang berbeda-beda, sang guru dapat secara kreatif menemukan strategi yang cocok untuk masing-masing. Ia tahu bagaimana memberikan dukungan kepada siswa yang sudah memiliki motivasi intrinsik; sekaligus ia terus mencari jalan bagaimana memberikan motivasi ekstrinsik bagi siswa yang membutuhkannya.

Guru yang efektif mampu menciptakan suasana kelas yang nyaman dan membekali para siswa dengan keahlian strategi belajar sesuai kapasitas dan interes masing-masing individu. Sejalan dengan tindakan menyediakan keahlian strategi belajar, tindakan melatihkan proses berpikir yang lebih tinggi akan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, selalu baru, dan tidak membosankan. Guru yang memiliki dan menampakkan api semangat hidup dan antusiasme merupakan faktor yang amat penting dalam memperkuat motivasi anak didik.

5. Sikap terhadap Profesi Mengajar

Guru yang efektif memiliki dedikasi tinggi kepada pribadi siswa dan terhadap tugas mengajarnya. Dalam dirinya tertanam sikap bahwa ia bertanggung jawab atas keberhasilan anak-anak didiknya. Ia mengusahakan berbagai strategi pembelajaran un­tuk melayani kebutuhan cara belajar muridnya yang bervariasi, dengan satu tujuan: anak didiknya sukses.

Guru yang efektif suka bekerja secara kolaboratif dengan kolega staf pendidik, suka berbagi ide, mau membantu teman yang kesulitan, dan terlebih membantu guru yang masih baru. la selalu terbuka dan ingin terns mengembangkan dirinya sebagai guru yang profesional, misalnya: mengikuti seminar, workshop, training, pengembangan profesionalitas guru, dan sebagainya. Ia menuntut dirinya sendiri untuk tiada henti belajar dan mengem­bangkan diri sebagaimana ia menuntut murid-muridnya untuk belajar dan berkembang.

6. Sikap Reflektif

Guru yang efektif juga memperlihatkan sikap dan tindakan hidup reflektif. Ia selalu mengevaluasi kinerjanya dan proses mengajarnya di kelas. Ia juga melakukan evaluasi diri dan kritik diri sebagai alat bantu untuk mengupayakan yang lebih baik di hari esok. Guru yang reflektif akan memotret dirinya sebagai murid yang belajar. Ia selalu ingin tahu hal-hal baru tentang seni dan teori mengajar, juga tentang dirinya sendiri sebagai guru yang efektif. Secara berkesinambungan ia mengembangkan pembelajaran dan mencoba pendekatan-pendekatan baru agar semakin dapat melayani kebutuhan masing-masing siswanya dengan lebih baik.

Riset mendefinisikan guru reflektif sebagai pribadi yang introspektif, artinya : mereka selalu mencari pemahaman yang lebih mendalam akan pengajaran melalui studi lanjut atau membaca buku-buku profesionalitas. Dengan cara melakukan refleksi setiap waktu, guru berkehendak untuk menjadi pendidik yang lebih baik dan menanamkan sesuatu yang berbeda (sesuatu yang positif) dalam hidup para muridnya. Guru yang efektif membuka hati terhadap masukan dan kritik konstruktif demi perkembangan pribadi dan keterampilannya; lalu mereka akan merefleksikannya dan belajar untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Untuk sampai ke tujuan seperti itu, dibutuhkan pikiran yang terbuka, kejujuran, dan waktu yang cukup agar terjadi perubahan dalam perilaku mengajar. Praktik refleksi juga meningkatkan self-efficacy dan rasa percaya diri dalam diri guru. Kedua hal ini pada gilirannya akan juga meningkatkan kemampuannya memfasilitasi siswa dalam pengajaran dan menjadikan mereka semakin berani mengkomunikasikan kepercayaan hidupnya untuk dibagikan kepada para siswa.

Menurut sumber lain, ada beberapa ciri guru berkualitas antara lain sebagai berikut. 


1. Memiliki akhlak yang baik

Sudah pasti guru yang berkualitas wajib memiliki akhlak atau sikap yang baik sebagai seorang pendidik karena kata pepatah jawa guru itu di gugu dan di tiru jadi bagaimana peserta didik memiliki akhlak yang baik jika gurunya saja yang katanya perkataannya selalu di dengar dan perilakunya selalu di tiru tidak memiliki akhlak yang seharusnya dimiliki oleh pendidik dan tenaga kependidikan. Contohnya guru yang perokok pasti muridnya juga akan menjadi perokok, guru yang biasa tidak jujur pasti muridnya juga sering berbohong, guru yang tidak disiplin pasti muridnya juga tidak disiplin, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya sebaliknya guru yang memiliki akhlak yang baik Insyaallah peserta didiknya juga memiliki akhlak yang baik.

2. Memiliki komitmen dan kopetensi

Guru yang berkualitas pasti memiliki komitmen yang kuat dengan profesi yang dijalaninya, memiliki dedikasi, loyalitas, semangat, tidak pernah berhenti untuk belajar, tidak pernah mengeluh, dengan profesinya meskipun penghasilannya tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Menguasai kopetensi yang diajarkannya juga termasuk salah satu ciri guru berkualitas, bagaimana guru mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik jika gurunya saja tidak menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan, yang ada peserta didik tidak mendapatkan apa-apa yang diajarkan oleh guru dan guru yang mengajar akan terasa sia-sia.

3. Membuat dan mengaplikasikan RPP

Guru zaman sekarang mungkin sangat dimanjakan oleh internet dan buku-buku ajar yang banyak menyediakan RPP, yang ada guru zaman sekarang malas untuk membuat RPP karena semuanya telah tersedia di buku ajar dan internet padahal RPP itu wajib hukumnya dibuat oleh guru dan mengaplikasikannya di kelas, Dari RPP yang dibuat oleh guru tersebut bisa jadi sebuah buku ajar yang sangat bermanfaat untuk dunia pendidikan dan guru yang membuat RPP tersebut akan mendapatkan penghargaan dari apa yang telah dia lakukan, dan ini menjadi salah satu tambang emas bagi profesi guru jika saja guru tersebut belum diangkat PNS maupun menerima tunjangan sertifikasi. Hanya saja dibutuhkan kreatifitas dan kemauan yang tinggi sehingga tercipta karya yang sangat luar biasa dari tarian jemari kita.

4. Menguasai berbagai macam strategi mengajar

Guru yang berkualitas pasti memiliki banyak sekali variasi strategi mengajar supaya suasana kelas tidak monoton dan anak yang kita ajar tidak jenuh atau mengantuk ketika kita mengajar dikelas, banyak sekali guru yang tidak banyak menguasai strategi mengajar, banyak guru yang masih menggunakan strategi mengajar "ceramah" akibatnya anak menjadi jenuh karena gurunya yang aktif bukan siswanya yang aktif seharusnya proses belajar mengajar yang berkualitas adalah siswa yang aktif bukan guru yang aktif.

5. Selalu menggunakan alat, bahan, dan media pembelajaran

Guru yang berkualitas adalah guru yang kreatif dan inovatif, ketika akan mengajar dikelas seorang guru yang berkualitas akan berfikir keras untuk menampilkan sesuatu yang akan melekat di memori jangka panjang siswa, salah satu inovasi guru tersebut adalah memanfaatkan alat, bahan, dan media pembelajaran. Memanfaatkan media, alat, dan bahan ini sangat membantu guru untuk meningkatkan kualitas KBM dikelas, guru yang memanfaatkan media, alat, dan bahan pembelajaran ini pasti suasana kelas akan hidup tidak monoton anak selalu duduk manis dikelas.

6. Menguasai manajemen kelas

Guru yang berkualitas pasti menguasai manajemen kelas dengan baik, sepandai apapun menguasai materi yang diajarkannya belum tentu guru tersebut mampu menguasai manajemen kelas dengan baik apalagi guru tersebut hanya bermodal satu strategi mengajar yaitu ceramah. guru yang menguasai banyak sekali strategi mengajar dan selalu membawa alat, bahan, dan media pembelajaran pasti sangat menguasai manajemen kelas, penataan meja dan kursi siswa pasti tidak luput dari perhatian seorang guru.

7. Menjadi idola bagi siswa-siswinya

Guru yang berkualitas pasti menjadi primadona bagi peserta didiknya, dengan akhlak yang baik, sabar dan telaten menghadapi siswa, serta mengajar dikelas selalu menarik pasti akan selalu di rindukan oleh siswa-siswinya, tidak jarang waktu 1-2 jam dikelas tidak akan terasa jika seorang guru mengajar dengan kreatifitas yang tinggi, peserta didik akan meras kurang mendapat pelajaran yang diberikan guru tersebut, tidak jarang seorang siswa menceritakan guru yang mereka idolakan kepada orang tuanya, tidak jarang pula orang tua yang setiap hari mendapat curhatan buah hatinya akan mendatangi guru tersebut untuk mengucapkan terima kasih dan memberikan kado kepada guru tersebut.(ba/tsaqofah.com)

(sumber: http://astriputriutami1.blogspot.com)

Posting Komentar

0 Komentar