Generasi yang Hilang, dan Impian yang Kandas



Oleh JANE LOUISE KANDUR*

Yaman, Suriah, Irak, Afghanistan, Mesir dan Palestina. Pemuda dari negara-negara ini menghadapi masa depan yang suram. Berapa banyak lagi generasi yang harus dihilangkan sebelum orang mengatakan tidak untuk perang yang menghancurkan kehidupan banyak orang tidak bersalah?

Krisis kemanusiaan di Yaman menyisakan banyak duka. Diperkirakan, ada 18 juta orang dari 27 juta penduduk berada di ambang kelaparan. Sebagian besar penduduk kekurangan gizi dan dalam bahaya. Kolera menyebar ke seluruh negeri, dan dengan pengiriman bantuan medis diblokir oleh tanah dan laut, maka masa depan suram bagi Yaman kian terlihat.

Krisis Yaman adalah krisis kemanusiaan terburuk di dunia. 80 persen penduduknya tidak memiliki makanan yang cukup. Makanan langka, persediaan medis langka. Vaksin langka. Harga bahan bakar meningkat (hampir 100 persen). Inflasi merajalela, membuat lebih sulit bagi orang untuk menemukan makanan.

Koalisi yang didukung Saudi membom sekolah dan rumah sakit. Warga Yaman tidak memiliki infrastruktur karena koalisi yang dipimpin Saudi menjatuhkan senjata buatan Amerika dan Inggris pada warga sipil Yaman.

Krisis Yaman membuat kondisi dan apa pun di negara itu berubah. Setiap headline media selalu membahas krisis Yaman. Jumlah orang yang meninggal dari hari ke hari terus meningkat. Ini adalah inti permasalahannya. Seberapa hebat angka-angka itu harus tumbuh sebelum kita duduk dan tertarik? Berapa banyak anak harus mati kelaparan? Berapa banyak orang yang harus mati?

Tragedi di Yaman telah menghilangkan sebuah generasi mendatang.  Sejak 2015, ketika koalisi Negara-negara Arab - Kuwait, UEA, Bahrain, Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, dan Senegal bergabung untuk mengalahkan kaum Houthi - anak-anak telah banyak yang meninggal. Sekolah telah dibom. Guru tidak hanya belum dibayar. Bahkan, mereka tidak memiliki ruang kelas. Jika mereka memiliki ruang kelas, mereka tidak memiliki siswa.

Perang, apa pun alasannya, semua itu adalah tragedi. Kematian warga sipil selalu merupakan tragedi. Namun, ada tragedi yang lebih dalam, salah satu yang sering diabaikan. Saat mengebom musuh, saat berperang melawan musuh, infrastrukturnya pun hancur berkeping-keping. Kehidupan berhenti. Orang tidak lagi bisa bekerja, karena tempat kerja mereka sudah tidak ada lagi. Orang-orang kelaparan dan tidak mendapatkan perawatan medis, mereka kehilangan rumah. Mereka kehilangan anggota badan mereka. Semua ini adalah peristiwa yang mengerikan.

Di Yaman, jika pemboman, kelaparan, kolera dan kurangnya perawatan medis harus dihentikan besok, masalahnya tidak akan berakhir di sana. 

Mendapatkan pendidikan kembali berdiri akan memakan waktu bertahun-tahun. Untuk tenaga kerja agar memiliki vitalitas akan memakan waktu bertahun-tahun. Dan di tahun-tahun ini seluruh generasi akan terbuang sia-sia.

Yaman Terpuruk

Ada perbedaan antara Suriah dan Yaman. Di Suriah, gambar anak-anak kelaparan di Ghouta Timur yang dikuasai pemberontak, pada akhir tahun lalu, adalah bukti terbaru penggunaan taktik oleh rezim Assad. Dengan dukungan Rusia dan Iran, pemerintah Suriah telah membuat kelaparan di daerah-daerah sipil sebagai cara untuk  menekan mereka agar menyerah.

Di Yaman, tidak ada satu pun pihak yang bertikai yang tampaknya secara sistematis menahan makanan dari penduduk sipil. Sebaliknya, perang membuat mustahil bagi kebanyakan warga sipil untuk mendapatkan uang yang mereka butuhkan untuk membeli makanan. Tidak ada krisis ketersediaan pangan nasional di Yaman, tetapi ekonomi besar. Artinya, orang-orang kehilangan pekerjaan, penghasilan, sehingga tidak mempunyai kemampuan walau hanya untuk mendapatkan roti sebagai makanan harian mereka.

Seperti dikatakan di atas, tragedi di Yaman melampaui tragedi hari ini. Jika seorang anak berhasil selamat dari masa yang mengerikan ini, apa yang akan terjadi di masa depan? Ada laporan menyebutkan bahwa pernikahan anak di Yaman sudah meningkat.

Sebelum Anda terkesiap, dan tutup mulut Anda dengan tangan Anda. Sebab Anda akan kaget dan ngeri, memikirkan tentang tragedi itu. Jika Anda adalah ayah dari tiga, empat, lima atau lebih anak-anak, jika Anda tidak memiliki penghasilan, jika Anda tidak dapat membeli makanan, bahan bakar atau obat-obatan, dan jika seseorang datang dan berkata, "Saya ingin menikahi anak perempuan Anda yang berusia 15 tahun?”

Jika pria ini memiliki makanan, bahan bakar, tempat tinggal, dan penghasilan, apakah Anda tidak akan mempertimbangkan kesempatan itu? Dan bagaimana jika putri sulung Anda baru berusia 13, atau 12 tahun? Apakah lebih baik membiarkannya kelaparan, atau dengan sangat terpaksa menikahkannya dengan seseorang yang dapat memberikan segala kebutuhan itu? Termasuk beberapa di antaranya bisa memenuhi kebutuhan Anda dan keluarga?

Menurut sebuah laporan, mayoritas anak-anak gadis di Yaman sekarang menikah sebelum usianya genap 18 tahun. Bahkan, banyak di antara mereka yang menikah sebelum berusia 15 tahun. Itulah kondisi di Yaman.

Bagaimana dengan Suriah? Kami tahu bahwa ada generasi yang hilang di Suriah. Orang-orang muda yang tumbuh di sana saat ini memiliki harapan yang sangat kecil untuk masa depan. Dan sekarang tampaknya hal yang sama akan berlaku untuk Yaman. Generasi lain yang hilang.

Namun, bagaimana dengan negara lain di mana ada perang? Bagaimana dengan Irak, misalnya? Ini adalah negara lain yang tidak menjadi berita utama. Kami tidak lagi mengkhawatirkannya. ISIS telah diusir; mereka seharusnya baik-baik saja, kan? Namun, laporan Oxfam baru-baru ini menyoroti perjuangan yang dihadapi kaum muda di Irak.

Sekitar 61 persen populasi yang ada di bawah usia 24 tahun. Saat pemerintahan ISIS melakukan teror terus menerus. Rakyat Irak tidak bisa mengejar pendidikan dan mendapatkan perawatan kesehatan  adalah hal mustahil. Anak muda tetap tidak berpendidikan. Anak-anak perempuan tinggal di rumah dan anak laki-laki direkrut untuk bertempur.

Seorang gadis muda pernah berkata, "Jika saya bisa bangun dan semua impian saya menjadi kenyataan, kami akan memiliki rumah baru, dengan kondisi yang lebih baik, lebih banyak uang, dan kehidupan baru dimana semuanya aman." Namun, bahkan gadis muda ini tahu bahwa ini hanyalah mimpi. Mereka tidak akan memiliki semua itu, dan mungkin tidak satu pun dari mereka, untuk waktu yang sangat lama.

Sebuah survei yang dilakukan oleh AS mengungkapkan bahwa hanya 57 persen pemuda Irak yang optimis tentang masa depan mereka. Kurang dari 40 persen orang muda terdaftar dalam pendidikan menengah. Di sana, ingkat buta huruf cukup tinggi, dan tingkat pengangguran sekitar 30 persen.

The Guardian pernah mewawancarai seorang gadis Irak dua kali, pada interval tiga tahun. Dalam wawancara pertama, Zaynab nama gadis yang diwawancarai itu mengatakan, dia ingin menjadi seorang dokter. Ketika ditanya apa yang paling dirindukannya setelah harus melarikan diri dari rumahnya akibat dikejar ISIS, dia menjawab dengan singkat, "Buku saya" (dan kemudian dia menangis).

Dalam wawancara terakhir, dia baru saja mengikuti ujiannya. Dia berkata, "Saya tidak akan mendapatkan nilai. Tapi saya ingin menjadi seorang dokter, untuk membantu orang miskin, dan sekarang saya tidak bisa. Saya kehilangan tiga tahun hidup saya."

Ketika pewawancara bertanya pada Zaynab mengapa dia tidak mengambil kembali ujiannya, dia menangis dan berkata, "Tidak ada uang. Dalam keluarga, kami berjumlah delapan orang. Bukan hanya saya," jawabnya. Zaynab menambahkan dia tidak akan tersenyum, sebab dia telah kehilangan pendidikan.

Bagaimana dengan Afghanistan? Jika seseorang melihat situasi di Afghanistan, hal-hal yang sama tentu tidak jauh berbeda dengan Yaman, Irak dan lainnya. Konflik pertama di Afghanistan, dimulai pada tahun 1979, yang mengoyak negara itu. Meskipun konflik Soviet-Afghani yang pertama ini akhirnya berakhir, tapi Afghanistan sekali lagi terjun ke dalam perang pada tahun 2001. 


Kali ini dengan Amerika. Perang kali ini menurut catatan Jurnal Asia Selatan, telah melahirkan lingkaran setan; kekerasan, ketidaktahuan, pengasingan, konflik etnis, dan ketidakstabilan sosio-ekonomi, yang mengakibatkan generasi Afghanistan hilang.

Laporan itu melanjutkan, PBB telah gagal untuk tepat waktu membantu warga Afghanistan yang kehilangan generasi. Afghanistan pada dasarnya dilupakan dan ditinggalkan sampai 11 September 2001. Dengan perang yang telah menelan ribuan militan Taliban.

Menurut laporan lain yang diterbitkan oleh UNICEF tentang dampaknya, perang terhadap anak-anak di Kabul antara usia delapan hingga 18 tahun. Lebih dari 42 persen anak-anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya dalam konflik. Lebih dari 50 persen anak-anak mengalami penyiksaan kejam dan mengalami kematian.

UNICEF melaporkan bahwa 85 persen dari anak-anak menemukan kehidupan yang tidak berarti dan 95 persen anak-anak yang diwawancarai oleh UNICEF takut bahwa mereka akan mati selama pertempuran.

Mari kita lihat Palestina. Palestina adalah sebuah negara dengan salah satu pusat pemuda terbesar. Namun sayang, kaum mudanya tidak memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Lalu lihatlah Mesir. Menurut satu laporan, sistem pendidikan Mesir adalah salah satu yang terburuk di dunia, peringkat 139 dari 140 negara. Anak-anak yang lulus dari sekolah dasar di negara itu seringkali tidak tahu cara membaca dan menulis. Sebuah survei baru-baru ini menemukan tingkat buta huruf hampir 80 persen di beberapa sekolah. Para guru tidak terlatih dengan baik, buku pelajaran tidak memadai dan kurikulum kuno.

Namun, yang lebih buruk dari ini, generasi Mesir yang hilang disebut sebagai "Generasi yang Dipenjara". Anak-anak berumur tiga tahun telah diadili karena melawan penguasa. Orang-orang muda harus masuk penjara karena berdemonstrasi melawan rezim. Para pemuda itu hanya karena memrotes rezim militer yang menggulingkan mereka harus dipenjara.

Tampaknya dunia tidak memperhatikan anak-anak kelaparan sampai jumlahnya mencapai angka yang mengejutkan. Dunia tidak memperhatikan anak-anak sekarat dalam perang. Tidak terlalu peduli siapa yang menjual bom. Dunia tidak peduli.

Di atas hanyalah gambaran sebagian dari generasi yang hilang di Timur Tengah. Anak-anak itu tidak punya masa depan, tanpa harapan. Ada generasi yang sama-sama hilang di setiap benua. Sementara sebagian dari kita duduk dalam kehangatan dan keamanan, memimpikan apa yang akan kita lakukan tahun depan, minggu depan, besok. Namun, di belahan bumi yang lain, ada jutaan anak muda hanya mengkhawatirkan, hanya rasa ditemani rasa takut. Mereka tidak punya masa depan, mereka tidak punya mimpi. (minanews.net)

* Jane Louise Kandur adalah penerjemah dan jurnalis lepas. Dia menulis untuk Daily Sabah, Al Jazeera, dan World Bulletin.


Posting Komentar

0 Komentar