Adab Beda Pendapat


Oleh Abu Hasna S*
Tsaqofah.com - Ada orang, tidak senang jika harus berbeda pendapat dalam sebuah forum musyawarah. Padahal, namanya juga sedang musyawarah, maka sah dan boleh-boleh saja tentunya berbeda pendapat. Apalagi jika pendapat yang berseberangan itu justeru mencerahkan untuk mengambil kata mufakat. Manusia memang tempat salah dan dosa. Maka, tidak banyak pula orang yang berjiwa besar untuk sekedar berbeda pendapat.
Dalam syariat Islam, sudah diatur secara jelas bagaimana cara terbaik menyikapi perbedaan pendapat, sehingga tidak mengedepankan emosi sesaat yang meledak-ledak. Berikut adalah beberapa hal yang harus jadi perhatian dan amalan seorang muslim dalam menyikapi beda pendapat.
Pertama, ikhlas dan mencari yang benar (haq) serta melepaskan diri dari nafsu saat berbeda pendapat. Juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu. Salah satu akhlak seorang muslim adalah tidak memaksakan pendapatnya jika ada pendapat lain yang lebih pas untuk dijalankan dalam sebuah rencana.
Berjiwa ikhlas tentu saja mudah bagi siapa saja yang Allah mudahkan untuk melakukannya. Namun, tidak mudah bersikap ikhlas walau hanya dalam hal beda pendapat jika Allah belum menghendakinya untuk berlaku ikhlas. Jika kebenaran yang ingin diperoleh, maka tentu saja meski terjadi beda pendapat tidak akan sampai menanamkan kebencian kepada pihak yang berbeda. Sebab yang dicari adalah kebenaran.
Kedua, cobalah mengembalikan perkara yang diperselisihkan itu kepada al Quran dan as Sunnah. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, “Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Kitab) dan Rasul.” (Qs. An-Nisa: 59).
Bagi seorang muslim, maka tidak ada tempat mengembalikan masalah yang lebih baik selain kembali kepada al Quran dan as Sunnah. Termasuk jika ada perselisihan dalam musyawarah, maka sebaiknya segera dicari solusinya dari al Quran dan as Sunnah bila sudah tidak bisa diselesaikan dengan cara apa pun.
Ketiga, berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita dan tidak menuduh buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat. Ini adalah bagian dari akhlak mulia, ibadahnya hati untuk selalu berusaha berbaik sangka dengan orang yang beda pendapat dengan kita.
Keempat, sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu dengan cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik.
Berjiwa besar menyikapi perbedaan pendapat jauh lebih baik. Bisa jadi, pendapat yang berseberangan itu justeru dilain waktu akan menjadi pemikiran tersendiri yang bisa diaplikasikan. Tidak selamanya musyawarah yang baik itu selalu diikuti oleh orang-orang yang berfikiran sama. Jika semua pemikiran sudah sama, dan keputusan sudah disiapkan, lalu apa artinya musyawarah dilakukan?
Kelima, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang. Tentu bukan sifat yang baik jika ada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita lalu kita menyalah-nyalahkannya.
Terimalah perbedaan pendapat sebagai sebuah kekayaan berfikir. Sehingga kita tidak akan mudah menyalahkan orang lain yang beda pendapat. Bukan tidak mungkin kita pun mempunyai pemikiran yang berbeda dalam majelis musyawarah yang lainnya? Tentu saja, kitapun tidak mau jika karena pendapat kita berbeda lalu disalahkan terus-menerus.
Keenam, berlapang dada di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada kita atau catatan-catatang yang dialamatkan kepada kita. Tidak mudah memang. Namun, begitulah seharusnya dalam sebuah musyawarah yang baik. Orang yang memberi kritikan dan masukan kepada kita tentu saja ambil itu sebagai motivasi untuk lebih memperbaiki pemikiran atau ide-ide kita menjadi lebih baik lagi.
Namun, jika kita merasa berat menerima kritikan apalagi langsung meninggalkan forum musyawarah itu, jelas akan menimbulkan banyak sangkaan yang bukan-bukan dari peserta musyawarah lainnya. Selain itu, sifat tidak menerima kritikan dan masukan itu mencerminkan diri kita tak ubahnya seperti seorang anak kecil yang lebih mudah merajuk.
Ketujuh, sebisa mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah  dan fitnah. Sampaikanlah ide-ide besar dan cerdas lagi konstruktif dalam setiap musyawarah. Hindari membahas hal-hal yang sifatnya khilafiyah dan mengundang perpecahan juga fitnah.
Tentu saja, masih banyak masalah-masalah lebih besar yang bisa disampaikan dalam sebuah musyawarah. Membahas masalah-masalah khilafiyah sebenarnya hanya akan membuang-buang energi saja. Hasilnya tidak ada, malah sebaliknya bisa menimbulkan perselisihan bukan kata mufakat.
Kedelapan, berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan, bantah-membantah dan kasar menghadapi peserta musyawarah lainnya. Etika atau akhlak, harus menjadi dasar utama bagi setiap peserta musyawarah sehingga akan selalu mengontrol setiap kata, mimik wajah dan prilaku dalam mengeluarkan pendapat, menerima masukan dan menyikapi perbedaan.
Setidaknya, beberapa hal di atas adalah cara seorang muslim dalam menyikapi perbedaan pendapat. Bukan hanya dalam bermusyawarah, bahkan sehari-hari menjalani kehidupan bermasyarakat pun seorang muslim harus berlapang dada melihat banyaknya perbedaan, wallahua’lam.(minanews.net)
*Jurnalis menetap di Majalengka

Posting Komentar

0 Komentar