Ada Peran Indonesia Dibalik Perkembangan Islam Afsel



Oleh Abu Muslim

Perkembangan Islam di Afrika Selatan (Afsel) sangat menarik untuk disimak. Peninggalannya dapat dilihat dari beberapa makam dan masjid yang ada di sana. Walau umat Islam di Afrika Selatan hanya sekitar 1,5 persen dari seluruh populasi yang ada, tapi Islam telah memberikan warna tersendiri bagi negeri yang terletak di ujung selatan Benua Afrika itu.

Perkembangan Islam di Afrika Selatan

Secara umum, Islam di Afrika Selatan berkembang cukup pesat. Perkembangan Islam tumbuh dibarengi dengan adanya komunitas Islam di sana. Lembaga-lembaga Islam tumbuh dengan sangat baik. Ukhuwah yang indah terjalin diantara mereka melalui pengajian rutin.

Keluarga Muslim yang hidup disana beramai-ramai hadir dengan suka ria. Selain itu, perkembangan Muslim di daerah itu tidak mendapat hambatan dari pemerintah. Pelaksanaan ibadah sangat dihargai. Madrasah tumbuh dan berkembang di sana.  Di sana pula diajarkan Bahasa Arab, Alquran dan banyak hal tentang ke-Islaman. Hal ini karena Islam disebarkan secara damai tanpa kekerasan.

Muslim Afrika Selatan menawarkan pengamalan sosial secara total. Orang banyak menjadi Muallaf dengan berbagai alasan, Islam tidak membedakan warna kulit, keturunan maupun status sosial. Islam menerima semua orang dari berbagai kalangan. Hal ini sangat kontras dengan pandangan global dari kebanyakan penganut agama lain di daerah tersebut.

Kebanyakan Muallaf yang tertarik kepada Islam dipengaruhi oleh filosofinya dimana seorang budak dan orang merdeka adalah sama. warna tidak menentukan perlakuan Allah Ta’ala kepada mereka. 
Namun Allah hanya melihat tingkat ketaqwaan mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an, surah Al-Hujurat: 11, yang artinya, “Sesungguhnya yang paling mulia disisi kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 11)

Walaupun hidup dalam komunitas yang minoritas, Muslim di Afrika Selatan berjuang mempertahankan sunnah. Salah satunya memperjuangkan daging halal, mesti banyak tantangan yang mereka hadapi. Alhamdulillah, mereka pun berhasil. Melalui perjuangan yang panjang mereka mampu memberi tanda halal pada daging yang ada di Afrika Selatan.

Dalam bidang ekonomi, pengusaha Muslim bersatu dalam menyalurkan dananya untuk pembangunan sekolah, masjid, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga Islam atau pusat penyebaran dakwah Islam. Pusat pendidikan Islam menjadi mercusuar bagi generasi muda di sana. Mereka dibimbing tentang tugas dan kewajibannya dalam kehidupan Islam, walaupun kebanyakan masyarakat disana adalah non-Muslin.

Dengan adanya beberapa instansi-instansi pendidikan yang dibangun di sana, Muslim Afrika Selatan diharapkan akan memiliki pengetahuan dan ikut serta menyebarkan keindahan Islam tidak dengan senjata, namun dengan kepandaian. Selain diberi ilmu pengetahuan, mereka juga dibantu banyak hal, termasuk dalam hal ekonomi, supaya penganut Islam yang baru mampu mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan.

Islam di Afrika Selatan sangat unik dan memberi inspirasi bagi Umat Islam di kawasan lainnya, dimana sekelompok kecil komunitas Muslim telah berhasil mengatasi tantangan-tantangan dengan menjaga kesatuan dan dedikasi dalam keyakinannya kepada Allah

Peran Ulama Indonesia

Afrika Selatan, begitu indahnya kita membaca fakta-fakta menarik yang telah disajikan. Afrika Selatan, sebuah negara yang begitu sarat keterikatan sejarah yang unik dengan Indonesia. Betapa tidak?

Sumber-sumber sejarah menyebutkan, Agama Islam masuk ke Afrika Selatan justru dibawa ulama-ulama pejuang kemerdekaan Indonesia yang ditangkap dan diasingkan oleh penjajah Belanda ke negeri itu pada pertengahan abad 17 silam,  untuk memutus perlawanan dan pergerakan mereka di tengah ummat. Tapi justru memberi hikmah tersendiri bagi syiar Islam yang kemudian tersebar luas di Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan, terdapat beberapa makam penting para ulama penyebar Agama Islam. Dan, satu di antaranya yang sangat terkenal adalah makam Sheikh Yusuf, seorang ulama besar, keponakan Raja Gowa yang di buang Belanda dan mendirikan Kampung Makassar disana. 

Ajaran yang disampaikan Shekh Yusuf bahkan diakui langsung oleh Nelson Mandela, sekaligus menginspirasinya untuk membebaskan Afrika Selatan dari apartheid.

Sebuah karya tulis bertajuk “Islamic History and Civilisation in South Africa: The Impact of Colonialism, Apartheid, and Democracy”  juga menyebutkan soal peran Sheikh Yusuf dari Makassar atau Abidin Tadia Tjoessop yang datang pada 1694 sebagai tahanan politik.

Ia bersama keluarganya tinggal di sebuah lahan pertanian di Zandvliet, sekitar 50 kilometer dari Cape Town. Disinilah, Sheikh Yusuf pertama kali membangun sebuah komunitas Muslim. Dalam perkembangannya, ada 12 amir dalam komunitas ini.

Seperti tertulis dalam prasasti di tugu peringatan tak jauh dari Makam Sheikh Yusuf di kampung Makassar di Cape Town, Islam pertama kali masuk ke Afrika Selatan dibawa oleh Sheik Yusuf beserta Keluarga dan para pengikutnya.

“In the ship Voetboeg Saint Yusuf came from Ceylon to the Cape in 1694. He, his family & 49 Followers were the first to read the Holy Koran in South Africa”

“Sheikh Yusuf datang dari Sri Lanka ke Cape Town dengan kapal Voetboeg pada tahun 1694. beliau bersama keluarga dan 49 orang pengikutnya yang pertama kali membaca kitab Suci Alqur’an di Afrika Selatan”.

Kemudian pada 1697, datang Raja Tambora dari Jawa yang tiba di kota ini dalam kondisi dibelenggu rantai. Raja Tambora adalah orang pertama yang menulis Alqur’an di Cape Town. Alqur’an ini kemudian diberikan sebagai hadiah kepada Gubernur Cape ketika itu, Simon van der Stel.

Seratus tahun kemudian, masjid pertama di Afrika Selatan dibangun. Adalah Abdullah Kadi Abdus Salaam, seorang pangeran dari kesultanan Tidore (Maluku Utara) yang di asingkan Belanda di pulau kecil di lepas Pantai Cape Town pada 6 April 1780 silam, menjadi Muslim pertama yang mendorong pembangunan masjid pertama di Cape Town. Hal ini karena sejak pertama kali kedatangan Muslim di kota ini belum ada satu masjid pun yang didirikan.

Masjid pertama itu diberi nama Masjid Auwal. Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri megah dan difungsikan sebagaimana mestinya di kawasan Boo Kap, Cape Town, Afrika Selatan. (Tsqofah.com)

(berbagi sumber)

Posting Komentar

0 Komentar