Munafik yang Berilmu

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA
Dalam sebuah majelis, Khalifah Umar bin Khattab ra pernah berkata, “Sesungguhnya yang paling mengkhawatirkan dari umat ini adalah para munafik yang berilmu.”
Para sahabat lalu bertanya, “Bagaimana mungkin orang munafik tapi dia alim?”
Khalifah Umar menjawab, “Mereka alim dalam lisannya tapi tidak dalam hati dan amaliahnya.”
Dari dialog di atas, bisa kita saksikan hari ini betapa banyak orang yang mengaku-ngaku sebagai ulama (orang yang alim) tapi ucapan lisannya jauh dari kebaikan, akhlaknya jauh dari ilmu yang dimilikinya. Maka benar apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa kelak di akhir zaman ini dan menjadi pertanda kiamat adalah banyak bermunculan ulama-ulama yang jahat (ulama Suu’).
Tentang ulama suu’ ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah banyak mengingatkan umatnya agar selalu berhati-hati dan jangan sampai terkena fitnahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama suu’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim).
Sejatinya, ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia. Sebab wasilah mereka umat ini menjadi faham kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Jika umat sudah faham dan mengamalkan isi dari Al Qur’an dan As Sunnah, maka kebahagiaan dunia akhirat akan terwujud. Umat juga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan segala kelebihan itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutnya sebagai pewaris para nabi.
Namun, apa jadinya jika ulama justeru menjadi penyulut perpecahan dan menyeru kepada keburukan? Apa jadinya jika ulama sudah ‘bermesraan’ dengan para penguasa, sehinga lupa pada tanggung jawab utamanya untuk mendidik umat?
Oleh sebab itu, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra pernah mengingatkan ulama yang membangun hubungan khusus dengan penguasa, “Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka. (HR al-Hakim).
Al Allamah Al-Minawi dalam Faydh al-Qadir Syarah Jami’ Shogir dari Imam Syuyuthi, berkata, “Bencana bagi umatku (datang) dari ulama suu’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, maka bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat; mereka mengikuti ucapan- ucapan dan perbuatannya. Ia memperindah penguasa yang menzalimi manusia dan gampang mengeluarkan fatwa untuk penguasa. Pena dan lisannya mengeluarkan kebohongan dan kedustaan. Karena sombong, ia mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui.” (Faydh al-Qadîr , VI/369).
Ciri Ulama Munafik
Munfafik yang berilmu atau ulama yang buruk (Su’) tentu saja sangat berbahaya dalam perjuangan umat Islam. Ia bisa saja dengan ilmunya menyesatkan umat. Ilmunya ia gunakan untuk menjerumuskan umat manusia ke dalam neraka. Setidaknya, orang-orang yang banyak ilmunya dalam Islam tapi mereka munafik, akan menjadi pengkhianat yang akan membocorkan kapal perjuangan.
Setidaknya ada tiga (3) ciri utama dari ulama su’ menurut Imam Ghazali, antara lain sebagai berikut.
Pertama, ulama yang menjadikan keulamaannya sebagai komoditas untuk mendapatkan harta duniawi.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ َﺟْﻪُ ﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ َﺟَﻞَّ ﻻَ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻪُ ِﻻَّ ﻟِﻴُﺼِﻴﺐَ ﺑِﻪِ ﻋَﺮَﺿًﺎ ﻣِﻦَ ﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻋَﺮَْﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮَْ ﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

“Siapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338)
Surga neraka kadang bisa terlihat ketika orang mau sakaratul maut, bau wangi surgapun bisa tercium, sungguh celaka ulama seperti ini, bahkan baunya surgapun tidak tercium olehnya, naudzubillah.
Kedua, ulama yang dengan keulamaannya merapat ke pemimpin yang zalim dan melegitimasinnya. Menurut Imam Ghazali, orang beragama harusnya menentang kezaliman si pemimpin. Kalau tak mampu, menyingkir dari mereka. Namun, bagi ulama su’ malah mendekat ke penguasa zalim, demi harta dan jabatan. Dengan melegitimasi mereka, ulama justru bersekutu dengan kezaliman.
Dari Anas meriwayatkan,

الْعُلَمَاءُ أَمَنَاءُ الرُّسُلِ مَا لَمْ يُخَالِطُوْا السُّلْطَانَ وَ يُدَاخِلُوْا الدُّنْيَا فَاِذَا خَالَطُوْا السُّلْطَانَ وَ دَاخَلُوْا الدُّنْيَا فَقَدْ خَانُوْا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ وَفِيْ رِوَايَةٍ لِلْحَاكِمِ فَاعْتَزِلُوْهُمْ

“Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu,  jauhilah mereka.” (HR. al-Hakim).
Karena sangat berhati-hati, para ulama terdahulu enggan mendatangi penguasa, walau hanya untuk mengajar, dan menerima pemberian penguasa bagi mereka adalah sebuah aib. Bahkan para ulama melarang keras ulama mendatangi penguasa, walaupun hanya untuk mengajarkan ilmu. Tetapi seharusnya penguasalah yang mendatangi ulama. Sebagaimana Imam Bukhari tidak mau mengajarkan ilmu apabila sang anak penguasa tidak mau mendatanginya.
Imam Malik diminta oleh Khalifah Harun Ar Rasyid untuk berkunjung ke istana dan mengajar hadits kepadanya. Tidak hanya menolak datang, ulama yang bergelar Imam Dar Al Hijrah itu malah meminta agar khalifah yang datang sendiri ke rumah beliau untuk belajar, “Wahai Amiul Mukminin, ilmu itu didatangi, tidak mendatangi.” Akhirnya, mau tidak mau, Harun Ar Rasyidlah yang datang kepada Imam Malik untuk belajar.
Ketiga, begitu mudahnya mereka mengeluarkan fatwa, demi kepentingan materi atau politik duniawi. Ulama akhirat, menurut Ghazali, akan sangat berhati-hati untuk berfatwa. Ulama akhirat akan banyak berdiskusi dengan ulama lain selalu berpegang al Quran dan hadis dan mau menerima pendapat yang berbeda selama dalam koridor sunnah. Tapi ulama su’ justru mengumbarnya, demi motif duniawi.
Abu Hurairah ra. menuturkan hadis:

مَنْ أَكَلَ بِالْعِلْمِ طَمَسَ اللهُ عَيْنَيْهِ (أَوْ وَجْهَهُ فيِْ رِوَايَةِ الدَّيْلَمِيْ) وَكَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Siapa yang makan dengan (memperalat) ilmu, Allah membutakan kedua matanya (atau wajahnya di dalam riwayat ad-Dailami), dan neraka lebih layak untuknya.” (HR. Abu Nu‘aim dan ad-Dailami).
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga ulama-ulama kita agar tidak menjadi ulama yang munafik, wallahua’lam. (minanews.net)

Posting Komentar

0 Komentar