Mengenal Lebih Dekat Islam di Korea Selatan

Oleh: Annisa Fithri Nurjannah

Korea selatan merupakan salah satu negara yang menarik untuk dikunjungi. Selain tujuannya untuk berwisata, Korea Selatan juga mempunyai tempat kebudayaan yang menyenangkan. Negara yang disebut dengan Negeri Gingseng ini ternyata memiliki banyak daya tarik dalam hal makanan, kebudayaan, obejk wisata, dan hiburan yang akan membuat perjalanan para wisatawan sangat menyenangkan.

Namun, bagi seorang muslim, kehidupan di Korea Selatan tidaklah mudah. Hal ini datang dari sedikitnya restoran yang menjual makanan halal dan sedikitnya masjid yang ada di seluruh negeri tetapi perbedaan pandangan dari masyarakat Korea Selatan terhadap Islam.

Kebanyakan para pekerja asing dan imigran dari berbagai negara muslim, terutama dari kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan dimana mereka orang asli Korea yang muslin dan berketurunan dari para mualaf yang masuk Islam saat berlangsung perang Korea.

Data dari Federasi Muslim Korea (KMF) yang didirikan sejak 1967 menyebutkan, jumlah muslmi di Korea Selatan sekarang mencapai 120.000-130.000 orang, terdiri dari muslim Korea asli dan para warga negara asing. Jumlah orang Korea asli yang muslim sekitar 45.000 orang, selebihnya didominasi pekerja migran asal Pakistan dan Bangladesh.

Sejarah Muslim Di Rusia
Perkembangan Islam di Korea memang tidak mudah. Didominasi oleh agama Budha dan Konfusius, juga cepatnya perkembangan agama Nasrani, muslim korea hanya sekitar 40 ribu saja ditambah 100 ribu muslim pendatang. Jumlah itu terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Korea yang mencapai 40 juta jiwa. Belum lagi dominasi budaya yang jauh dari nilai-nilai Islam membuat muslim Korea benar-benar harus berjuang dalam dakwah.

Pertalian sejarah antara muslim Arab dengan orang Korea sendiri berawal dari abad ke-7. Saat muslim Arab sering berdagang ke wilayah Cina. Saat itu pula, pedagang Arab mengunjungi Korea yang saat itu dikuasai oleh Dinasti Shilla. Walaupun tak nampak bukti ada kegiatan yang bersifat relijius, namun hubungan dagang antar muslim Arab dengan Dinasti Shilla berlangsung cukup baik.

Abad ke-11, Dinasti Koryo mula intensif melakukan hubungan dagang dengan Arab muslim. Raja Koryo waktu itu memberi keleluasaan bagi para pedagang muslim itu untuk tinggal di Korea dan dipersilahkan membangun masjid yang disebut Ye-Kung dan para imamnya disebut Doro.

Namun di masa Dinasti Chosun, muslim Korea mengalami kesulitan karena dinasti tersebut menolak heterogenitas dan budaya yang berbeda dan memutuskan untuk menutup diri dari asimilasi budaya luar. Muslim Korea pun secara bertahap melebur ke dalam budaya Korea sehingga sulit ditemui jejak perkembangan Islam di sini.

Islam kembali hadir berabad-abad kemudian. Sekitar tahun 1920, Tentara Muslim Turki melarikan diri dari Revolusi Bolshevik di Rusia ke Korea. Sekitar 200 muslim meminta suaka ke Korea. Mereka di sana membentuk satu komunitas Mahall-i Islamiye dimana mereka hidup dengan nyaman sebagai satu masyarakat muslim.

Mereka juga banyak membangun madrasah dan membangun pekuburan muslim di pinggiran Kota Seoul. Namun, tak lama setelah terjadi pemisahan antara Korea Utara dengan Korea Selatan tahun 1945, mereka mulai beremigrasi ke USA, Kanada, Australia dan Turki. Hanya ada satu dua muslim yang tetap tinggal.

Tentara Turki kembali memegang peranan penting dalam perkembangan Islam di negara ini. Selama Perang Korea (1950-1953), pasukan perdamaian Turki saat itu melakukan dakwah Islam yang cukup intensif. Dipimpin oleh Abdulgafur Karaismailoglu, tentara Turki mendakwahkan Islam pada publik Korea dengan melakukan semacam kuliah umum.

Federasi Muslim Korea (KMF) Sebagai Lembaga Dakwah Korea

Generasi pertama yang tercatat sebagai muslim karena dakwah para tentara Turki itu adalah Abdullah 
Kim Yu-do dan Umar Kim Jin-kyu. Agar pembelajaran Islami lebih mudah para mualaf tersebut membentuk Masyarakat Islami Korea (KIS) tahun 1955. Hampir tiap pekan mereka mengadakan diskusi mengenai Islam dan mengundang tokoh-tokoh Islam. Setahun kemudian berdirilah Madrasah Chung Jin yakni sekolah di tenda-tenda militer untuk anak-anak tak mampu. Tahun 1959 Umar Kim dan Sabri Suh Jung–kil berkeliling ke negara-negara muslim untuk meminta dukungan terhadap perkembangan dakwah di Korea Selatan. Sehingga berdirilah Federasi Muslim Korea (KMF) tahun 1965.

Pendirian KMF sebagai lembaga dakwah adalah untuk membangun pondasi Islam di Korea. Kegiatan dakwah yang dilakukan KMF antara lain kursus Bahasa Arab dan Inggris, juga beberapa bahasa negara Islam lain seperti Malaysia, Indonesia, Iran dan Turki. Kemudian Sekolah Al Qur’an tiap minggu untuk anak muslim. Serta mengadakan seminar tentang isu-isu hangat yang terjadi di dunia Islam. KMF juga menyediakan jasa konsultasi dan kesehatan pada para pekerja imigran muslim serta memberi informasi masjid atau mushala terdekat di seluruh Korea.

Ada beberapa sub komite dalam KMF. Misalnya saja Asosiasi Muslim Korea (KMA). Kegiatan di bawah KMA berupa Klub Remaja, Klub Pelajar, Klub Muslimah dan Klub Senior yakni lebih pada saling mempererat silaturahmi antar sesama muslim. Selain KMA ada pula Asosiasi Pelajar Muslim Korea (KMSA). Organisasi yang masih di bawah KMF ini mendakwahkan Islam lewat seminar, Kemah Pelajar, dan Kemah Kepemimpinan untuk Pelajar.

Ada pula Institut Budaya Islam Korea (KIIC) yang dibangun pada tahun 1997. Lembaga ini berfungsi sebagai tempat untuk meluruskan pemahaman yang salah terhadap Islam serta aktif membuat buku-buku Islam ke dalam bahasa Korea agar mudah diterima masyarakat negeri ini. Ke depannya KMF bercita-cita menyediakan tanah makam khusus muslim dan berencana mendirikan Universitas Islam Korea (KIU) yang sedang dalam proses pengerjaan.

Masjid Terbesar Di Korea Selatan

Selain dijuluki dengan Negeri Gingseng, ternyata Korea Selatan memiliki masjid pertama sekaligus tertua di Korea Selatan yang cantik dan bersejarah. Masjid yang berwarna putih, memiliki menara yang tinggi dengan tulisan “Allahu Akbar” di bagian depannya ini, menarik para wisatawan dan penduduk muslim untuk dapat melihat dan beribadah di dalamnya.

Seoul Central Mosque itulah nama masjid terbesar di Korea Selatan yang berlokasi di 39 Usadan-ro 10-gil, Yongsan, Seoul, tepat diantara Sungai Hangang dan Gunung Namsan. Masjid yang didirikan oleh komunitas muslim setempat yang bermukim di Distrik Yongsan berdiri pada 21 Mei 1976.

Selain untuk salat, masjidnya juga berfungsi untuk pengajaran agama Islam. Salah satunya, terdapat Prince Sultan Islam School yang mengajarkan kajian Al Quran, hadis Nabi serta ilmu fiqih. Terdapat pula, Islamic Culture Research Institute yang jadi wadah tempat berkumpul umat Muslim se-Korea Selatan.

Pendidikan Di Korea Selatan

Muslim di kota Busan sudah membuka sekolah Islam sendiri. Sekolah pertama Islam itu dibiayai lewat dana hibah dari pemerintah Arab Saudi. Tahun 2008 lalu, Duta Besar Saudi di Seoul sudah menyerahkan dana sebesar 500.000 dollar pada KMF untuk biaya pembangunan sekolah. Sebagai penghargaan atas bantuan Saudi, sekolah tersebut rencananya akan menggunakan nama putera mahkota Saudi Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz. 

Sekolah ini juga akan menerima siswa non-Muslim. Selain memberikan mata pelajaran berdasarkan kurikulum pendidikan di Korea, sekolah yang dibiayai Saudi ini juga akan memberikan pelajaran tambahan berupa bahasa Arab, bahasa Inggris dan studi Islam.(Ba)


Posting Komentar

0 Komentar